Sebanyak 155 perusahaan dengan kapitalisasi pasar gabungan sebesar $2,4 triliun, dengan 5 juta pekerja, menandatangani pernyataan bersama, mendorong pemerintah di seluruh dunia agar menyelaraskan bantuan dan pemulihan ekonomi terkait pandemi COVID-19 dengan aksi perubahan iklim berbasis ilmu pengetahuan.

Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam inisiatif “Science Based Targets” ini menyeru pemerintah agar mengeluarkan kebijakan untuk mewujudkan ketahanan dalam menghadapi kenaikan suhu bumi di atas 1,5°C di masa datang dan mencapai kondisi netral emisi (net-zero emissions) sebelum 2050.

Perusahaan-perusahaan ini bermarkas 33 negara dan bergerak di 34 sektor perekonomian. Mereka diantaranya adalah: Abdi Ibrahim Pharmaceuticals, ACCIONA, Accor, Adobe, Agder Energi, Arabesque, Arc’teryx Equipment, AstraZeneca, Auchan Retail Portugal, Bayer, Beiersdorf, BIAL, Bonava, Burberry, Capgemini, Cargotec, Carlsberg Group, Cellnex, CEWE Stiftung & Co. KGaA, City Developments Limited, CMA CGM, Coca-Cola European Partners, Colgate Palmolive Company, Corbion, Cranswick, Dalberg Advisors, Dalmia Cement (Bharat) Limited, Danfoss Group, Diageo, Diam Group, dormakaba, Dutch-Bangla Pack, EcoVadis, EDF Group, EDP Energias de Portugal, Electrolux, En+ Group, Enel, ERM, Europcar Mobility Group, Ferrocarrils de la Generalitat de Catalunya, Firmenich, Gleeds, Glovo, Grundfos Holding, Grupo Red Eléctrica, GSMA, H. Lundbeck, H&M Group dan Henkel.

Selanjutnya, Hewlett Packard Enterprise, Husqvarna Group, HP Inc., Iberdrola, ICA Gruppen, Inditex, Ingka Holding, Inter IKEA Group, Intuit, JLL, Kearney, Kelani Valley Plantations, Kuehne + Nagel Management, LafargeHolcim, Legrand, Lojas Renner, Maeda Corporation, Magyar Telekom, Mars, Marshalls, Marui Group, Media 6, Movida Participações, MP Pension, Natura & Co., Nestlé, Nomad Foods, Novartis, Novo Nordisk, NR Instant Produce Public Company, O. T. Sports Manufacture, Orange, Orbia Advance, Orkla, Ørsted, Pearson, PensionDanmark, Pernod Ricard, PVH Corp., Refinitiv, Ronald Lu & Partners, Royal DSM, RSE (Ross-shire Engineering), Safaricom, Saint-Gobain, Salesforce.com inc. serta Sanofi.

Disusul, Scania, Scapa Inter, Schneider Electric, Schüco International, SIG Combibloc, Signify, Sky, SkyPower Global, Sofidel, Sonae Sierra, Sopra Steria Group, Stora Enso Oyj, SUEZ, Symrise, Syngenta Group, Takasago International Corporation, Talawakelle Tea Estates, Tate & Lyle, Tech Mahindra, Telefonica, The Co-op, The Lux Collective, TMG Automotive, Unilever, Vattenfall, Vaude Sport, Verbund, Vestas Wind Systems, Vodafone Group, Wipro, Yarra Valley Water, YKK Corporation, dan Zurich Insurance Group.

Pernyataan bersama ini dikeluarkan Selasa, 19 Mei 2020, seiring dengan rencana pemerintah di seluruh dunia menyiapkan dana stimulus senilai triliunan dolar guna membantu memulihkan ekonomi yang terdampak pandemi. Pada saat yang sama, negara-negara dunia juga tengah mempersiapkan Nationally Determined Contribution (NDC) yang lebih ambisius guna meningkatkan aksi mengatasi perubahan iklim di bawah Perjanjian Paris/Kesepakatan Paris.

Dengan menandatangani pernyataan ini, 155 perusahaan juga kembali menyeru pemerintah agar melakukan transisi dari “ekonomi abu-abu” ke ekonomi hijau.

Masih banyak dari kita yang belum memahami arti ekonomi hijau. Program Lingkungan PBB (UNEP) dalam laporannya berjudul “Towards Green Economy” menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam.

Dalam kalimat yang sederhana, ekonomi hijau menurut UNEP adalah perekonomian yang rendah karbon (tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan), hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial. Hijauku.com telah menurunkan artikel yang membahas konsep ekonomi hijau ini di 2012. Berita dan analisis lain terkait dengan konsep ekonomi hijau bisa diakses dalam tautan berikut: Ekonomi Hijau.

Redaksi Hijauku.com