Oleh: Jalal

Pada Jumat, 13 Juni 2026, di sebuah gedung pencakar langit di Times Square, New York, lonceng pembuka perdagangan berbunyi untuk terakhir kalinya sebelum sejarah berubah. SpaceX, perusahaan roket milik Elon Musk, resmi melantai di Nasdaq dengan harga perdana 135 dolar per saham. Dalam hitungan jam, harganya terus naik hampir 26% sehingga nilainya mendekati 170 dolar—mendorong valuasi perusahaan ke angka yang nyaris tak terbayangkan: USD2,2 triliun. Bagi Musk sendiri, IPO ini adalah tiket menuju wilayah yang belum pernah diinjak seorang pun: kekayaan pribadi di atas satu triliun dolar. Ia adalah manusia pertama di muka Bumi yang bisa disebut trillionaire.

Mungkin ada pihak-pihak yang merasa angka itu sebagai pencapaian peradaban. Tapi, sebagaimana yang saya ingin tunjukkan, di balik gemerlap angka-angka tersebut, tersembunyi sebuah kisah yang jauh lebih gelap.  Ini adalah kisah tentang seorang pria yang telah lama menunjukkan bahwa kekuasaan dan kekayaan yang tak terbatas adalah bencana yang bergerak perlahan dan sangat bisa tetiba mengguncang seluruh dunia.

Ilusi Nilai, Beban Nyata

Mari kita mulai dari angka yang tidak terdengar dalam sorak sorai IPO itu. Menurut analisis Morningstar—lembaga riset investasi yang bisa dianggap netral lantaran tidak memiliki kepentingan perbankan investasi dalam transaksi ini—nilai wajar SpaceX sesungguhnya sekitar USD780 miliar, kurang dari separuh harga IPO-nya. Perusahaan ini, yang memang memiliki pencapaian luar biasa di bidang antariksa, masih mencatat kerugian bersih USD4,94 miliar sepanjang 2025, dan secara kumulatif telah merugi USD41,3 miliar sejak berdiri pada 2002.

Namun, yang membuat IPO ini lebih berbahaya dari sekadar saham mahal adalah mekanisme yang dirancang untuk memaksakan pembeliannya. Nasdaq, atas desakan SpaceX sebagai syarat pencatatan, mengubah aturan lama mereka: sejak 1 Mei 2026, perusahaan besar yang baru melantai bisa masuk ke indeks Nasdaq-100 hanya dalam 15 hari perdagangan, dari yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan setahun. FTSE Russell melakukan hal serupa. Hanya S&P 500 yang menolak perubahan serupa pada 4 Juni, sehingga SpaceX baru bisa masuk ke indeks bergengsi itu paling cepat pertengahan 2027, dan hanya bila berhasil membukukan empat kuartal berturut-turut dengan laba positif.  Ini adalah sebuah prospek yang, mengingat kondisi keuangannya saat ini, tampak jauh dari kemungkinan.

Konsekuensinya? Setiap dana pensiun yang mengikuti indeks Nasdaq-100—dan jutaan orang Amerika yang menabung untuk masa pensiun mereka melalui dana tersebut—akan dipaksa memborong saham SpaceX dengan harga berapa pun yang bisa mereka dapat, segera setelah perusahaan itu masuk ke dalam indeks. Seperti yang dikatakan oleh reporter bisnis Eric Gardner dari More Perfect Union: Musk telah merancang IPO ini secara finansial sebagai transfer kekayaan masif dari investor biasa kepada para pemegang saham awalnya.

Karakter yang Sudah Lama Terungkap

Buat saya, bagaimana Musk melakukan perampokan kekayaan itu tidak seharusnya membuat siapapun terkejut. Peringatan-peringatan sudah ada di mana-mana, bagi siapa saja yang mau melihatnya. Dalam biografi Elon Musk yang ditulis Walter Isaacson (2023) terungkap potret seseorang yang beroperasi dalam apa yang ia sendiri sebut ‘mode iblis’: seorang pemimpin yang memecat karyawan secara sewenang-wenang, yang mengambil keputusan besar dalam gelombang impulsi emosional, dan yang memandang aturan sebagai hambatan yang harus diabaikan, bukan sebagai batasan yang harus dihormati.

Jurnalis Faiz Siddiqui dari Washington Post, dalam bukunya Hubris Maximus: The Shattering of Elon Musk (2025), menawarkan argumen yang lebih tajam: tanda-tanda peringatan itu selalu ada, bagi siapa pun yang mau melihatnya. Siddiqui menggambarkan Musk sebagai ‘Caesar Silicon Valley’, seorang pemimpin yang membangun kekaisaran di atas bahan bakar kepercayaan publik dan narasi diri yang benar-benar terkelola dengan cermat, namun seluruh risikonya sebenarnya selalu dibebankan kepada orang lain: para karyawan yang dipecat, investor yang tertipu, dan masyarakat yang harus menanggung eksternalitas keputusan-keputusannya.

Pola tersebut mencapai kondisi terburuknya dalam pengambilalihan Twitter pada Oktober 2022. Kate Conger dan Ryan Mac, dua reporter New York Times, mendokumentasikan episode itu secara menyeluruh dalam Character Limit: How Elon Musk Destroyed Twitter (2024). Tanpa melakukan due diligence yang memadai, Musk membayar USD44 miliar untuk sebuah platform, lalu membabat setengah karyawannya dalam semalam—ribuan orang kehilangan pekerjaan lewat email yang dingin. Yang tersisa dipaksa bekerja dalam kondisi yang mereka sebut ‘extremely hardcore’. Infrastruktur platform yang menopang percakapan publik global digerogoti demi efisiensi jangka pendek. Dan, yang terpenting, Conger dan Mac menyimpulkan bahwa X—nama baru Twitter di tangan Musk—telah bertransformasi dari ruang publik digital yang tadinya relatif netral berubah menjadi instrumen kontrol wacana politik sebagaimana yang diinginkan Musk.

Dan di sinilah bahaya sesungguhnya bermula. Bukan sekadar soal akumulasi kekayaan, melainkan tentang apa yang dilakukan dengan kekayaan itu.

Oligarki yang Merusak Demokrasi

Jacob Silverman dalam Gilded Rage: Elon Musk and the Radicalization of Silicon Valley (2025) menelusuri sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar eksentrisitas seorang yang super-kaya, yaitu radikalisasi sistematis dari kelas teknokrat global yang kini menggunakan kekayaan mereka untuk menggerogoti fondasi demokrasi liberal. Musk adalah figur sentralnya. Dari panggung pemilu Amerika Serikat, di mana ia menginvestasikan lebih dari seperempat miliar dolar untuk mendukung Donald Trump, hingga intervensinya yang terang-terangan dalam politik Inggris (memuji Nigel Farage dan Reform UK), Jerman (menyatakan dukungan kepada AfD), Brazil, Argentina, dan di mana pun X beroperasi, Musk telah mengubah platform medianya menjadi mesin propaganda yang ia kendalikan secara langsung, mengamplifikasi narasi-narasi sayap kanan ekstrem sambil meredam suara-suara kritis.

Silverman mencatat bahwa yang membedakan Musk dari para oligarkh ‘konvensional’ adalah kombinasi yang belum pernah ada sebelumnya: ia memiliki media sosial global berskala miliaran pengguna, perusahaan antariksa yang berkontrak dengan pemerintah dengan jumlah kontrak luar biasa besar, armada satelit internet yang menopang komunikasi militer di beberapa konflik bersenjata, dan kini—dengan SpaceX melantai di bursa—akses terhadap modal publik berskala raksasa tanpa tanggung jawab publik yang sebanding.

Dan inilah yang paling sulit diterima oleh para pengagumnya: Musk bukan sekadar pebisnis yang agresif atau eksentrik. Ia adalah oligarkh dalam pengertian paling klasik atas kata tersebut: seseorang yang menggunakan kekayaan untuk mendapatkan kekuasaan, dan menggunakan kekuasaan untuk menumpuk lebih banyak lagi kekayaan, dalam lingkaran yang menggerus institusi-institusi publik yang berdiri di tengahnya.  Musk adalah perampok sumberdaya publik untuk keuntungan privatnya.

Saat memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) di bawah pemerintahan Trump, Musk tidak sekadar memangkas birokrasi. Ia memeroleh akses ke data sensitif jutaan warga Amerika, merombak lembaga-lembaga federal yang mestinya mengawasi perusahaan-perusahaannya sendiri, dan menyisipkan loyalisnya ke dalam posisi-posisi birokratis kunci. Konflik kepentingan yang menganga ini—di mana perusahaan-perusahaannya, Tesla, SpaceX, xAI, dan X, secara bersamaan bergantung pada kontrak pemerintah, lisensi regulasi, dan subsidi federal—nyaris tak tersentuh oleh pengawasan lantaran Musk telah membeli Trump sepenuhnya sejak memutuskan mendukung dia dalam pemilu presiden. DOGE adalah terobosan paling ‘inovatif’ dalam karier Musk: penggunaan negara sebagai instrumen kepentingan pribadi, namun dikemas sebagai reformasi birokrasi.

Namun ada bahaya yang lebih dalam dari sekadar perilaku seorang individu. Quinn Slobodian, sejarawan dari Boston University yang dikenal lewat karyanya tentang kapitalisme pasar radikal, dan Ben Tarnoff, penulis teknologi yang pernah menyerukan deprivatisasi internet, secara bersama-sama mengajukan argumen yang paling mengusik dalam Muskism: A Guide for the Perplexed (2026): Musk bukanlah anomali sistem—ia sudah menjelma menjadi sistemnya. Mereka memerkenalkan konsep ‘Muskism’ sebagai tatanan ekonomi-politik baru.  Bila Fordisme mendefinisikan Kapitalisme abad kedua puluh dengan logika produksi massal yang, betapa pun eksploitatifnya, ikut membangun negara kesejahteraan; maka Muskisme agaknya mendefinisikan Kapitalisme abad kedua puluh satu. Perbedaannya yang menentukan: Fordisme membangun welfare state, Muskisme meruntuhkannya.

Inti dari Muskisme, menurut Slobodian dan Tarnoff, adalah janji kedaulatan melalui teknologi: “plug in, power up, and become self-reliant.” Namun di balik retorika otonomi itu tersembunyi paradoks yang sengaja dikaburkan: semakin kita terhubung, semakin dalam kita bergantung padanya. Mobil Tesla berjalan di atas subsidi pemerintah; satelit Starlink menopang komunikasi di medan-medan perang dari Ukraina hingga Timur Tengah; jaringan sosial X dipergunakan untuk melatih Kecerdasan Buatan Grok yang kemudian ‘melatih’ kita. Kini, dengan SpaceX melantai di bursa, lingkaran itu menjadi sempurna: modal publik dari dana pensiun jutaan pekerja akan dipaksa membiayai ekspansi kosmis seorang Technoking yang menjanjikan kebebasan sekaligus membangun kerajaannya dari ketergantungan kita semua. Muskisme adalah doktrin kekayaan bagi segelintir orang dan dominasi politik-ekonomi: SpaceX di angkasa, X dan Grok di dunia daring, dan Starlink di setiap telepon.

Yang, bagi saya, membuat analisis Slobodian dan Tarnoff sangat relevan pada momen IPO ini adalah peringatan historisnya: keruntuhan institusi-institusi liberal yang terjadi secara bersamaan di seluruh dunia—melemahnya multilateralisme, terkikisnya kepercayaan pada pemerintahan demokratis, guncangan pasca-pandemi terhadap rantai pasokan global—justru membuka celah bagi Muskisme untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan. “Pada suatu titik masyarakat akan stabil di atas fondasi baru—dan Muskisme bisa saja menjadi fondasi itu.” Demikian yang mereka nyatakan. Oleh karenanya, IPO SpaceX adalah lebih daripada sekadar transaksi keuangan; ia adalah momen konsolidasi maksimum dari sebuah tatanan dunia alternatif, di mana kebebasan didefinisikan ulang sebagai hak istimewa mereka yang mampu membeli tiket masuk ke ekosistem yang ditentukan sepenuhnya oleh Musk.

Bom Waktu Ekonomi

Kini, dengan SpaceX melantai pada valuasi yang menurut para analis independen lebih dari dua kali lipat nilai wajarnya, risiko itu menjadi sistemik. Senator Elizabeth Warren telah menulis surat kepada Ketua SEC Paul Atkins pada 10 Juni lalu, mendesak penundaan pencatatan, dengan mencatat kekhawatiran tentang valuasi perusahaan, struktur tata kelolanya, dan risiko bahwa aturan indeks sedang direkayasa untuk menyalurkan modal pasif ke dalam perusahaan yang tidak menguntungkan. Surat Warren, tentu saja, tak digubris. SEC tidak mengambil tindakan. Dan IPO berjalan sesuai jadual.

Musk memegang sekitar 42% saham SpaceX, namun mengendalikan 82,4% dari seluruh hak suara melalui struktur saham kelas ganda—sebuah benteng yang membuat para pemegang saham publik benar-benar tidak memiliki kekuatan nyata untuk memertanyakan keputusan manajemen, apalagi mengganti kepemimpinan. Dana pensiun AkademikerPension dari Denmark, senilai USD25 miliar, memilih untuk memasukkan SpaceX ke dalam daftar hitam mereka, dan dalam pernyataan resminya menyebut struktur tata kelola perusahaan itu sebagai bencana dan sahamnya sebagai digelembungkan secara berlebihan. Michael Burry, investor yang menjadi terkenal lantaran memrediksi krisis subprime di tahun 2008, secara terbuka menyuarakan kekhawatiran yang sama tentang perubahan aturan Nasdaq yang dipaksakan itu.

Banyak pengamat pasar modal memeringatkan bahwa SpaceX—dan kemungkinan besar Anthropic serta OpenAI yang juga bersiap melantai—telah dinilai secara signifikan berlebihan, dan bila valuasi-valuasi raksasa ini akhirnya terkoreksi, kerugiannya tidak akan tertanggung oleh para spekulan saja. Dana pensiun universitas, dana pensiun pegawai negeri, dan rekening pensiun individu jutaan orang yang dipaksa masuk melalui mekanisme indeks akan ikut tergerus.  Bandingkan dengan preseden yang ada: ketika Tesla dimasukkan ke S&P 500 pada Desember 2020, inklusi itu sendiri mendorong gelombang pembelian paksa yang spektakuler. Kini SpaceX, dengan valuasi yang jauh lebih besar, likuiditas yang jauh lebih tipis, yaitu hanya 4,2% saham yang dilepas ke publik, dan didukung oleh rekayasa aturan yang lebih agresif, berpotensi menciptakan distorsi yang berlipat ganda. Bila koreksi itu tiba, dan sejarah pasar modal memberitahu kita bahwa ia hampir pasti akan tiba, dampaknya jelas bisa jauh melampaui lantai bursa Wall Street.

Pertanyaan Bernilai Satu Triliun Dolar

Ada ironi yang pahit dalam momen ini. Musk sering memosisikan dirinya sebagai penyelamat umat manusia: orang yang akan membawa kita ke Mars, yang akan menyelamatkan kebebasan berbicara, yang akan membuat pemerintahan lebih efisien. Banyak orang masih percaya begitu. Tapi rekam jejak aktualnya—dari Twitter yang remuk, karyawan yang dikorbankan, aturan pasar modal yang dibengkokkan, demokrasi yang diintervensi—menceritakan kisah yang sangat berbeda. Musk adalah tentang seorang pria yang membangun kebesarannya di atas fondasi dan panggung yang ia pastikan ditempati dirinya sendiri, sementara biaya dan risikonya ditanggung orang lain.

 

Siddiqui menulis bahwa Musk kini tidak lagi sekadar berjudi dengan neraca perusahaan atau mata pencaharian pekerjanya; ia tengah menerapkan pendekatannya yang tak kenal kompromi pada aturan-aturan dasar dan regulasi yang menopang masyarakat kita. Kini, dengan lebih dari satu triliun dolar di tangannya—kekayaan yang melampaui PDB lebih dari seratus negara di dunia—kapasitas itu menjadi tak terbatas dan, dengan absennya mekanisme pengawasan yang memadai, ia menjadi tak tertandingi.

 

Sejarah selalu mencatat bagaimana konsentrasi kekayaan yang ekstrem selalu melemahkan tatanan sipil yang membiarkannya tumbuh. Dan kini dunia yang sedang belajar hidup dengan media sosial sebagai infrastruktur demokrasi, dengan platform antariksa swasta sebagai perpanjangan militer, dan dengan Kecerdasan Buatan sebagai penentu realitas—sekali lagi kita menemukan versi terbarunya.  Satu triliun dolar di tangan seorang manusia yang telah berulang kali menunjukkan bahwa ia tidak tunduk pada aturan, tidak hormat pada institusi, dan tidak menganggap kepentingan publik sebagai batasan bagi ambisinya jelas bukanlah sebuah pencapaian peradaban.  Itu adalah peringatan yang, saya harap, belum terlambat untuk kita semua mengoreksinya.

–##–