Oleh: La Ode M. Aslan *

Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia setelah Ghana dan Côte d’Ivoire. Luas areal perkebunan kakao nasional mencapai sekitar 1,4–1,6 juta ha, dimana lebih dari 95% dikelola oleh perkebunan rakyat dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari dua juta rumah tangga petani, terutama di Sulawesi, Sumatera, dan Papua (ICCO, 2024; FAOSTAT, 2024). Kakao juga merupakan salah satu komoditas ekspor strategis yang berkontribusi terhadap pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan di wilayah pedesaan (Wessel & Quist-Wessel, 2015).

Meskipun demikian, produktivitas kakao Indonesia masih relatif rendah, yaitu sekitar 700–900 kg biji kering ha⁻¹ tahun⁻¹, jauh di bawah potensi genetik tanaman yang dapat mencapai lebih dari 2 ton ha⁻¹ tahun⁻¹ (BPS, 2024; ICCO, 2024). Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain degradasi kesuburan tanah, rendahnya kandungan karbon organik, keterbatasan air, meningkatnya kejadian kekeringan akibat perubahan iklim, serangan penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora), vascular streak dieback (VSD), serta ketergantungan yang tinggi terhadap pupuk anorganik dan pestisida (Vaast & Somarriba, 2014; Jagoret et al., 2018).

Sebagian besar perkebunan kakao Indonesia berkembang pada tanah Ultisol dan Oxisol yang dicirikan oleh pH rendah, kapasitas tukar kation (KTK) rendah, kandungan aluminium dan besi yang tinggi, serta defisiensi unsur hara fosfor dan kalium (Sanchez, 2019). Kondisi tersebut mengakibatkan efisiensi pemupukan menjadi rendah, pertumbuhan tanaman terganggu, dan produktivitas kebun terus menurun (Bekchanova et al., 2024). Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang mampu memperbaiki kualitas tanah sekaligus meningkatkan ketahanan sistem produksi kakao terhadap perubahan iklim.

Salah satu teknologi yang berkembang pesat dalam restorasi tanah dan pertanian berkelanjutan adalah penggunaan biochar. Biochar diketahui mampu meningkatkan kandungan karbon organik, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah, serta meningkatkan efisiensi penggunaan hara dan retensi air (Lehmann & Joseph, 2015; Osman et al., 2022). Tulisan review ini mendeskripsikan peluang dan potensi  pemanfaatan biochar rumput laut mengingat Indonesia sebagai produsen rumput laut tropis terbesar di dunia.  Pemanfaatan biomassa rumput laut sebagai bahan baku biochar menawarkan peluang besar untuk mengintegrasikan sektor perikanan dan perkebunan melalui pendekatan ekonomi biru dan pertanian regeneratif (Fawzy et al., 2022; Fawzy et al., 2023).

Di sisi lain, produksi komoditas kakao Indonesia tengah mengalami penurunan, produksi kakao Indonesia pada tahun 2025 hanya mencapai  sekitar 200.000 ton, turun drastis dibanding  590.000 ton di tahun 2005-2006. Upaya peningkatan produksi melalui program peremajaan perkebunan kakao dengan target 5.000 hektare secara nasional pada tahun 2026 ini perlu terus didukung melalui integrasi potensi pemanfaatan biochar rumput laut secara berkelanjutan.

Konsep Biochar Rumput Laut

Biochar merupakan material kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pirolisis biomassa pada kondisi oksigen terbatas pada suhu berkisar antara 300–700°C (Lehmann & Joseph, 2015). Berbeda dengan biochar berbahan lignoselulosa seperti kayu, jerami, atau sekam padi, biochar rumput laut memiliki kandungan mineral yang jauh lebih tinggi, terutama kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), fosfor (P), sulfur (S), dan berbagai unsur mikro yang penting bagi pertumbuhan tanaman (Roberts et al., 2015).

Indonesia memiliki potensi biomassa rumput laut yang sangat besar, baik dari hasil budidaya maupun yang berasal dari laut. Selain Kappaphycus alvarezii, beberapa spesies makroalga yang sangat potensial sebagai bahan baku biochar meliputi Eucheuma denticulatum, Gracilaria verrucosa, Sargassum polycystum, Sargassum cristaefolium, Turbinaria ornata, Padina australis, dan Ulva lactuca (Sun et al., 2022; Fawzy et al., 2023; Aslan, 2026a,b).

Biochar dari biomassa makroalga umumnya menghasilkan rendemen sekitar 35–62% (Roberts et al., 2015; Sun et al., 2022; Fawzy et al., 2023) pada suhu pirolisis sekitar 450°C dan memiliki pH netral hingga alkalis (7–11), kapasitas tukar kation tinggi, serta kandungan karbon stabil yang mampu bertahan di dalam tanah selama puluhan hingga ratusan tahun (Roberts et al., 2015). Kajian komprehensif oleh Sun et al. (2022) dan Fawzy et al. (2023) menunjukkan bahwa biochar makroalga mempunyai potensi besar sebagai amelioran tanah, penyerap logam berat, penyimpan karbon, dan teknologi mitigasi perubahan iklim.

Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di dunia setelah Ghana dan Côte d’Ivoire. Luas areal perkebunan kakao nasional mencapai sekitar 1,4–1,6 juta ha, di mana lebih dari 95% dikelola oleh perkebunan rakyat dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari dua juta rumah tangga petani, terutama di Sulawesi, Sumatera, dan Papua (ICCO, 2024; FAOSTAT, 2024; BPS, 2024). Kakao juga merupakan salah satu komoditas ekspor strategis yang berkontribusi terhadap pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan di wilayah pedesaan (Wessel and Quist-Wessel, 2015).

Meskipun demikian, produktivitas kakao Indonesia masih relatif rendah, yaitu sekitar 700–900 kg biji kering ha⁻¹ tahun⁻¹, jauh di bawah potensi genetik tanaman yang dapat mencapai lebih dari 2 ton ha⁻¹ tahun⁻¹ (BPS, 2024; ICCO, 2024). Rendahnya produktivitas tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain degradasi kesuburan tanah, rendahnya kandungan karbon organik, keterbatasan air, meningkatnya kejadian kekeringan akibat perubahan iklim, serangan penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora), vascular streak dieback (VSD), serta ketergantungan yang tinggi terhadap pupuk anorganik dan pestisida (Vaast and Somarriba, 2014; Jagoret et al., 2018).

Sebagian besar perkebunan kakao Indonesia berkembang pada tanah Ultisol dan Oxisol yang dicirikan oleh pH rendah, kapasitas tukar kation (KTK) rendah, kandungan aluminium dan besi yang tinggi, serta defisiensi unsur hara fosfor dan kalium (Sanchez, 2019). Kondisi tersebut mengakibatkan efisiensi pemupukan menjadi rendah, pertumbuhan tanaman terganggu, dan produktivitas kebun terus menurun (Bekchanova et al., 2024). Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang mampu memperbaiki kualitas tanah sekaligus meningkatkan ketahanan sistem produksi kakao terhadap perubahan iklim.

Salah satu teknologi yang berkembang pesat dalam restorasi tanah dan pertanian berkelanjutan adalah penggunaan biochar. Biochar diketahui mampu meningkatkan kandungan karbon organik, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah, serta meningkatkan efisiensi penggunaan hara dan retensi air (Lehmann and Joseph, 2015; Osman et al., 2022). Dalam konteks Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dan produsen utama Kappaphycus alvarezii, pemanfaatan biomassa rumput laut sebagai bahan baku biochar menawarkan peluang besar untuk mengintegrasikan sektor perikanan dan perkebunan melalui pendekatan ekonomi biru dan pertanian regeneratif (FAOSTAT, 2024; Fawzy et al., 2022; Fawzy et al., 2023).

Potensi Jenis-Jenis Rumput Laut sebagai Bahan Baku Biochar

Di antara berbagai jenis rumput laut, Kappaphycus alvarezii merupakan kandidat utama sebagai bahan baku biochar karena Indonesia merupakan produsen terbesar dunia untuk spesies ini dan biomassa tersebut kaya akan mineral esensial, terutama kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), serta berbagai unsur mikro yang penting bagi pertumbuhan tanaman (FAOSTAT, 2024; Fawzy et al., 2023). Kandungan abu dan mineral yang tinggi pada biomassa K. alvarezii menghasilkan biochar yang bersifat alkalis dan mempunyai kapasitas ameliorasi tanah yang baik, khususnya pada tanah masam tropis (Roberts et al., 2015; Fawzy et al., 2023).

Selain itu, biomassa coklat seperti Sargassum polycystum dan Sargassum cristaefolium juga sangat prospektif karena mengandung alginat, fucoidan, serta mineral K, Ca, dan Mg dalam konsentrasi tinggi. Keunggulan lainnya adalah kedua spesies tersebut umumnya tidak bersaing dengan industri pangan dan dapat dimanfaatkan dari biomassa liar maupun hasil pembersihan pantai, sehingga mendukung prinsip ekonomi sirkular dan ekonomi biru (Roberts et al., 2015; Fawzy et al., 2023). Jenis Sargassum spp., saat in belum banyak digunakan di Indonesia sebagai bahan pangan dan sekarang sudah dapa dibudidayakan  (Aslan, 2026a).

Gracilaria verrucosa diketahui memiliki kandungan nitrogen dan fosfor yang relatif lebih tinggi dibandingkan banyak makroalga lainnya, sehingga berpotensi meningkatkan ketersediaan hara, aktivitas mikroba tanah, dan proses mineralisasi bahan organik (Sun et al., 2022; Fawzy et al., 2023). Sementara itu, Ulva lactuca mempunyai laju pertumbuhan yang sangat cepat, kandungan nitrogen yang tinggi, dan rasio C:N yang relatif rendah, sehingga berpotensi meningkatkan siklus hara dan biomassa mikroba tanah setelah diaplikasikan dalam bentuk biochar atau amandemen organik (Fawzy et al., 2022; Osman et al., 2022). Di sisi lain, spesies Padina australis dan Turbinaria ornata diketahui kaya akan kalsium karbonat dan magnesium, yang berpotensi meningkatkan pH tanah, menurunkan kejenuhan aluminium, dan mengurangi toksisitas Al pada tanah Ultisol dan Oxisol yang mendominasi lahan kakao Indonesia (Osman et al., 2022; Sanchez, 2019).

Potensi Biochar Rumput Laut Untuk Perbaikan Kesuburan Tanah Kakao

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) memerlukan tanah yang subur, kaya bahan organik, memiliki kapasitas tukar kation (KTK) yang baik, serta kemampuan menyimpan air yang tinggi. Namun, sebagian besar perkebunan kakao di Indonesia mengalami degradasi akibat erosi, penurunan kandungan karbon organik tanah, ketidakseimbangan hara, dan penurunan kualitas fisik tanah yang pada akhirnya menyebabkan penurunan produktivitas dan keberlanjutan sistem budidaya (Vaast and Somarriba, 2014; Wessel and Quist-Wessel, 2015).

Biochar rumput laut dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah melalui peningkatan kandungan karbon organik, kapasitas tukar kation, retensi air, agregasi tanah, aktivitas enzim, dan biomassa mikroorganisme tanah (Lehmann and Joseph, 2015; Osman et al., 2022). Menurut konsep biochar systems, biochar tidak hanya berfungsi sebagai amelioran tanah, tetapi juga merupakan komponen sistem pertanian berkelanjutan yang mampu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, memperbaiki kualitas tanah, dan berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim melalui sekuestrasi karbon jangka panjang (Lehmann and Joseph, 2009).

Berbagai meta-analisis menunjukkan bahwa aplikasi biochar secara signifikan meningkatkan siklus hara, efisiensi penggunaan pupuk, dan produktivitas tanaman pada tanah yang terdegradasi, terutama pada tanah tropis yang miskin bahan organik (Jeffery et al., 2017; Osman et al., 2022). Penelitian di tanah tropis menunjukkan bahwa kombinasi biochar dan bahan organik lainnya, seperti kompos, dapat meningkatkan kandungan karbon organik, ketersediaan hara, aktivitas mikroba tanah, serta hasil tanaman secara signifikan dibandingkan penggunaan bahan organik tunggal (Agegnehu et al., 2016).

Penelitian mengenai biomassa Kappaphycus alvarezii di Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa ekstrak dan residu rumput laut kaya akan K, Ca, Mg, dan bahan organik yang berpotensi meningkatkan pH tanah, karbon organik, kapasitas tukar kation, dan ketersediaan unsur hara makro maupun mikro. Temuan ini sangat relevan untuk pengembangan perkebunan kakao pada lahan marginal Indonesia yang didominasi oleh Ultisol dan Oxisol (Kilowasid et al., 2023; Fawzy et al., 2023).

Potensi  Biochar Untuk Peningkatan Retensi Air dan Ketahanan terhadap Kekeringan

Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas kekeringan pada sentra produksi kakao di Sulawesi, Nusa Tenggara, dan wilayah timur Indonesia. Kekeringan berkepanjangan menyebabkan penurunan pembungaan, pembentukan buah, serta produktivitas kakao (Vaast and Somarriba, 2014).

Biochar memiliki struktur berpori, luas permukaan tinggi, dan stabilitas karbon yang mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan air serta mempertahankan kelembapan tanah dalam jangka waktu yang lebih lama (Lehmann and Joseph, 2015). Konsep pengembangan biochar sebagai teknologi multifungsi juga menunjukkan bahwa biochar mampu memperbaiki kualitas tanah dan air secara simultan, sehingga memberikan manfaat ganda berupa peningkatan produktivitas pertanian dan konservasi sumber daya alam (Laird, 2008).

Biochar yang berasal dari biomassa makroalga mempunyai porositas tinggi, kandungan mineral yang besar, dan kemampuan menyerap air yang baik sehingga dapat memperbaiki perkembangan akar dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap cekaman kekeringan (Fawzy et al., 2022; Fawzy et al., 2023). Selain itu, peningkatan kandungan bahan organik dan pembentukan agregat tanah yang lebih stabil akibat aplikasi biochar dapat meningkatkan infiltrasi, kapasitas menahan air, dan efisiensi penggunaan air oleh tanaman (Agegnehu et al., 2016).

Meta-analisis global menunjukkan bahwa aplikasi biochar dapat meningkatkan kapasitas retensi air tanah sebesar 15–25%, memperbaiki efisiensi penggunaan air, dan meningkatkan produktivitas tanaman pada lahan terdegradasi dan lahan kering (Jeffery et al., 2017; Osman et al., 2022). Oleh karena itu, biochar rumput laut berpotensi menjadi teknologi adaptasi perubahan iklim yang penting untuk meningkatkan resiliensi perkebunan kakao di wilayah tropis yang rentan terhadap kekeringan.

Potensi Biochar rumput laut Untuk Peningkatan Ketersediaan Hara dan Produktivitas Kakao

Biochar rumput laut kaya akan kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), fosfor (P), sulfur (S), dan berbagai unsur mikro yang sangat penting dalam pembentukan buah, translokasi fotosintat, pembentukan dinding sel, sintesis klorofil, perkembangan sistem perakaran, serta proses pembungaan dan pengisian buah kakao (Roberts et al., 2015; Fawzy et al., 2023).

Selain itu, biochar mampu meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga kehilangan unsur hara melalui pencucian (nutrient leaching) dapat ditekan secara signifikan, terutama pada tanah Ultisol dan Oxisol yang mempunyai kemampuan retensi hara rendah (Lehmann and Joseph, 2015; Osman et al., 2022). Menurut konsep biochar systems, keberadaan biochar dalam tanah dapat memperbaiki siklus hara melalui peningkatan adsorpsi ion, retensi nutrien, dan penyediaan habitat yang lebih baik bagi mikroorganisme tanah yang berperan dalam mineralisasi dan transformasi unsur hara (Lehmann and Joseph, 2009).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa biochar makroalga meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, meningkatkan ketersediaan unsur P dan K, memperbaiki aktivitas mikroba tanah, serta meningkatkan produktivitas tanaman pada berbagai jenis tanah tropis (Sun et al., 2022; Fawzy et al., 2023). Penelitian pada tanah tropis juga menunjukkan bahwa aplikasi biochar dapat meningkatkan biomassa mikroba, ketersediaan nitrogen dan fosfor, serta hasil tanaman melalui perbaikan kualitas tanah secara menyeluruh (Agegnehu et al., 2016).

Lebih jauh lagi, biochar dipandang sebagai teknologi win–win–win, yaitu mampu meningkatkan produktivitas pertanian, memperbaiki kualitas tanah dan air, serta berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon yang stabil dalam tanah (Laird, 2008). Dengan demikian, biochar berbasis rumput laut memiliki potensi besar sebagai inovasi pengelolaan tanah yang berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas dan ketahanan perkebunan kakao Indonesia di bawah tekanan degradasi lahan dan perubahan iklim.

Potensi Biochar Rumput Laut bagi Pengendalian Penyakit Kakao

Penyakit utama kakao di Indonesia meliputi busuk buah (Phytophthora palmivora), vascular streak dieback (VSD), kanker batang, dan antraknosa yang menyebabkan kehilangan hasil yang cukup besar serta menurunkan produktivitas dan umur ekonomis tanaman (Wessel and Quist-Wessel, 2015). Upaya pengendalian penyakit tersebut umumnya masih bergantung pada fungisida dan sanitasi kebun, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan melalui perbaikan kesehatan tanah dan peningkatan ketahanan alami tanaman.

Aplikasi biochar diketahui mampu meningkatkan populasi mikroorganisme menguntungkan, memperbaiki keseimbangan mikrobioma tanah, meningkatkan ketahanan sistemik tanaman (induced systemic resistance), serta mengurangi stres oksidatif yang berperan penting dalam menekan perkembangan berbagai penyakit tanaman (Osman et al., 2022). Biochar juga dapat meningkatkan kelimpahan mikroba antagonis, seperti bakteri pemacu pertumbuhan tanaman (plant growth-promoting rhizobacteria, PGPR) dan fungi antagonis yang berperan dalam menekan patogen tular tanah dan meningkatkan kesehatan rizosfer (Elad et al., 2011).

Mekanisme penekanan penyakit oleh biochar meliputi perubahan sifat fisik dan kimia tanah, peningkatan keragaman dan aktivitas mikroorganisme tanah, adsorpsi senyawa alelopati dan toksin patogen, serta aktivasi jalur pertahanan tanaman yang berkaitan dengan asam jasmonat dan asam salisilat (Graber et al., 2014). Dengan demikian, biochar tidak hanya berfungsi sebagai amelioran tanah, tetapi juga sebagai agen tidak langsung yang dapat meningkatkan resistensi tanaman terhadap berbagai cekaman biotik.

Kandungan kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan berbagai unsur mikro pada biochar rumput laut juga berkontribusi terhadap penguatan dinding sel, stabilitas membran, pembentukan lignin, dan peningkatan mekanisme pertahanan tanaman terhadap infeksi patogen (Fawzy et al., 2023). Selain itu, biochar berbasis makroalga mengandung berbagai mineral dan senyawa bioaktif yang berpotensi meningkatkan kesehatan tanah dan ketahanan tanaman secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemanfaatan biochar rumput laut berpotensi menjadi salah satu strategi pengelolaan penyakit terpadu (integrated disease management) pada perkebunan kakao Indonesia, khususnya dalam menekan insidensi penyakit busuk buah, VSD, kanker batang, dan antraknosa secara berkelanjutan.

Potensi Biochar Rumput Laut sebagai Solusi Tanah Masam

Sebagian besar lahan kakao Indonesia berkembang pada Ultisol yang dicirikan oleh pH rendah, toksisitas aluminium, dan defisiensi fosfor (Sanchez, 2019). Penelitian menunjukkan bahwa biochar yang diperkaya dengan ekstrak Kappaphycus alvarezii secara signifikan meningkatkan pH tanah, kapasitas tukar kation, kandungan karbon organik, dan ketersediaan unsur hara (Kilowasid et al., 2023).

Karakteristik biochar rumput laut yang bersifat alkalis dan kaya kation basa menjadikannya sangat sesuai untuk ameliorasi tanah masam di perkebunan kakao Indonesia (Roberts et al., 2015).

Potensi Ekonomi Biochar Rumput Laut bagi Kakao Nasional

Indonesia merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dan menghasilkan jutaan ton biomassa setiap tahun (FAO, 2024). Sebagian biomassa tidak memenuhi standar industri pangan dan karagenan sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biochar (Fawzy et al., 2022).

Integrasi sektor rumput laut dan kakao dapat memberikan berbagai manfaat, antara lain:

  1. Dari segi ekonomi diharapkan mampu mengurangi biaya pupuk; meningkatkan produktivitas kakao;meningkatkan pendapatan petani;menciptakan industri biochar baru; dan meningkatkan nilai tambah biomassa rumput laut.
  2. Dari segi lingkungan dapat berperan dalam sekuestrasi karbon; penurunan emisi gas rumah kaca;restorasi kualitas tanah; dan pengurangan limbah biomassa.
  3. Dari aspek sosial diharapkan mampu mendukung penciptaan lapangan kerja; penguatan ekonomi pesisir; pengembangan ekonomi biru berbasis masyarakat (Fawzy et al., 2023; Osman et al., 2022).

Strategi Implementasi  dan Model Pengembangannya di Indonesia

Pengembangan biochar rumput laut memerlukan dukungan kebijakan melalui:

  1. pembangunan unit pirolisis skala desa;
  2. pengembangan UMKM biochar;
  3. kemitraan petani rumput laut dan petani kakao;
  4. penelitian mengenai dosis optimum dan kombinasi biochar dengan pupuk hayati;
  5. pengembangan skema perdagangan karbon dan pembayaran jasa lingkungan;
  6. integrasi model yang dapat dilakukan adalah:

Rumput Laut → Biochar → Kakao → Sekuestrasi Karbon → Kredit Karbon → Ekonomi Biru Berkelanjutan. Secara deskriptif integrase model ini diperlihatkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Konseptual Nexus Rumput Laut–Biochar–Kakao–Kredit Karbon untuk Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan di Indonesia

Model ini berpotensi menjadi contoh pembangunan pertanian sirkular berbasis sumber daya laut dan pertanian regeneratif di Indonesia (Vaast & Somarriba, 2014; Jagoret et al., 2018; Fawzy et al., 2023).

Kesimpulan

Biochar rumput laut merupakan inovasi yang sangat prospektif untuk mendukung peningkatan produksi kakao nasional. Biochar ini mampu meningkatkan kandungan bahan organik tanah, retensi air, ketersediaan unsur hara, perbaikan tanah masam, ketahanan terhadap penyakit dan kekeringan, serta mendukung sekuestrasi karbon dan pertanian rendah emisi.

Dengan ketersediaan biomassa rumput laut yang melimpah di Indonesia, khususnya Kappaphycus alvarezii, Sargassum spp., Gracilaria spp., Ulva lactuca, Padina spp., dan Turbinaria spp., pengembangan biochar rumput laut memiliki potensi besar sebagai strategi inovatif untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, dan keberlanjutan lingkungan dalam kerangka ekonomi biru dan pertanian kakao regeneratif (Roberts et al., 2015; Sun et al., 2022; Kilowasid et al., 2023; Fawzy et al., 2023).

–##–

* Prof. La Ode M. Aslan adalah Guru Besar Universitas Halu Oleo

Daftar pustaka

Agegnehu, G., Bass, A.M., Nelson, P.N. and Bird, M.I. (2016). Benefits of biochar, compost and biochar-compost for soil quality, maize yield and greenhouse gas emissions in a tropical agricultural soil. Science of the Total Environment, 543, 295–306. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2015.11.054

Aslan, L. O. M. (2026a). Budidaya rumput laut jenis Sargassum sp. di pesisir Bungin Permai, Konawe Selatan, Indonesia. Laporan Penelitian UHO, Kendari.

Aslan, L. O. M. (2026b). Biochar Rumput Laut: Inovasi Biomassa Laut untuk Pertanian Berkelanjutan. https://hijauku.com/2026/05/28/biochar-rumput-laut-inovasi-biomassa-laut-untuk-pertanian-berkelanjutan/

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Statistik Kakao Indonesia 2023. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. Available at: https://www.bps.go.id (Accessed: 15 June 2026).

Bekchanova, M., Campion, L., Bruns, S., Kuppens, T., Lehmann, J. and Jozefczak, M. (2024). Biochar improves the nutrient cycle in sandy-textured soils and increases crop yield: a systematic review. Environmental Evidence, 13, Article 3. https://doi.org/10.1186/s13750-024-00326-5

Elad, Y., Cytryn, E., Harel, Y.M., Lew, B. and Graber, E.R. (2011). The biochar effect: plant resistance to biotic stresses. Phytopathologia Mediterranea, 50(3), 335–349. Available at: https://oajournals.fupress.net/index.php/pm/article/view/5489 (No DOI available).

FAOSTAT. (2024). Crops and Livestock Products Database. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome, Italy. Available at: https://www.fao.org/faostat/en/#data/QCL (Accessed: 15 June 2026).

Fawzy, M.A., Abd-Elhamid, A.I., El-Moghazy, A.Y., Alprol, A.E. and El-Melegy, A.A. (2023). Macroalgae-derived biochar for environmental remediation and sustainable agriculture: Recent advances and future perspectives. Journal of Environmental Management, 345, 118873. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2023.118873

Fawzy, M.A., El-Din, S.M.S., El-Amier, Y.A., Alharthi, T. and El-Sadek, M.O. (2022). Biochar as a sustainable technology for improving environmental quality and climate change mitigation: A review. Environmental Chemistry Letters, 20, 2389–2427. https://doi.org/10.1007/s10311-022-01431-6

Graber, E.R., Frenkel, O., Jaiswal, A.K. and Elad, Y. (2014). How may biochar influence severity of diseases caused by soilborne pathogens? Carbon Management, 5(2), 169–183. https://doi.org/10.1080/17583004.2014.913360

International Cocoa Organization (ICCO). (2024). Quarterly Bulletin of Cocoa Statistics, Vol. L, No. 2. Abidjan, Côte d’Ivoire: International Cocoa Organization. Available at: https://www.icco.org (Accessed: 15 June 2026).

Jagoret, P., Kwesseu, J., Messie, C., Michel-Dounias, I., Malézieux, E. and Snoeck, D. (2018). Farmers’ assessment of the use value of agrobiodiversity in complex cocoa agroforestry systems in Central Cameroon. Agroforestry Systems, 92, 983–995. https://doi.org/10.1007/s10457-017-0093-3

Jeffery, S., Abalos, D., Prodana, M., Bastos, A.C., van Groenigen, J.W., Hungate, B.A. and Verheijen, F.G.A. (2017). Biochar boosts tropical but not temperate crop yields. Environmental Research Letters, 12(5), 053001. https://doi.org/10.1088/1748-9326/aa67bd

Kilowasid, L.M.H., Manik, D.S., Nevianti, Komang, G.A., Mutmainna, P., Afa, L.O., Rakian, T.C., Hisein, W.S.A., Ramadhan, L.O.A.N. and Alam, S. (2023). The quality of acid soils treated with seaweed (Kappapychus alvarezii) sap enriched biochar from Southeast Sulawesi, Indonesia. Journal of Degraded and Mining Lands Management, 10(2), 4255–4269. https://doi.org/10.15243/jdmlm.2023.102.4255

Laird, D.A. (2008). The charcoal vision: A win–win–win scenario for simultaneously producing bioenergy, permanently sequestering carbon, while improving soil and water quality. Agronomy Journal, 100(1), 178–181. https://doi.org/10.2134/agronj2007.0161

Lehmann, J. and Joseph, S. (2009). Biochar systems. In: Lehmann, J. and Joseph, S. (Eds.), Biochar for Environmental Management: Science and Technology. London: Earthscan, pp. 147–168. https://doi.org/10.4324/9781849770552

Lehmann, J. and Joseph, S. (Eds.) (2015). Biochar for Environmental Management: Science, Technology and Implementation. 2nd ed. London and New York: Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203762264

Osman, A.I., Fawzy, S., Farghali, M., El-Azazy, M., Elgarahy, A.M., Fahim, R.A., Maksoud, M.I.A.A., Ajlan, H.S., Yousry, M. and Rooney, D.W. (2022). Biochar for agronomy, animal farming, anaerobic digestion, composting, water treatment, soil remediation, construction, energy storage, and carbon sequestration: A review. Environmental Chemistry Letters, 20, 2385–2485. https://doi.org/10.1007/s10311-022-01424-5

Roberts, D.A., Paul, N.A., Cole, A.J., de Nys, R. and Bird, M.I. (2015). From waste water treatment to land management: Conversion of aquatic biomass to biochar for soil amelioration and the fortification of crops with essential trace elements. Journal of Environmental Management, 157, 60–68. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2015.04.016

Sanchez, P.A. (2019). Properties and Management of Soils in the Tropics. 2nd ed. Cambridge: Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781316809785

Sun, Y., Gao, B., Yao, Y., Fang, J., Zhang, M., Zhou, Y., Chen, H. and Yang, L. (2022). Effects of feedstock type, production method, and pyrolysis temperature on biochar and hydrochar properties. Chemical Engineering Journal, 430, 132872. https://doi.org/10.1016/j.cej.2021.132872

Vaast, P. and Somarriba, E. (2014). Trade-offs between crop intensification and ecosystem services: the role of agroforestry in cocoa cultivation. Agroforestry Systems, 88, 947–956. https://doi.org/10.1007/s10457-014-9762-x

Wessel, M. and Quist-Wessel, P.M.F. (2015). Cocoa production in West Africa: A review and analysis of recent developments. NJAS – Wageningen Journal of Life Sciences, 74–75, 1–7. https://doi.org/10.1016/j.njas.2015.09.001