Soal Israel, Amerika Serikat, dan FIFA yang Membuat Piala Dunia 2026 Ternoda

Oleh: Jalal

Selama lebih dari empat dekade, di antara penanda perjalanan hidup paling penting yang saya ingat mungkin adalah siklus empat tahunan Piala Dunia. Sejak bangku sekolah, kompetisi global itu adalah ritus: layar yang menyala hingga tengah malam bahkan menjelang pagi, ketegangan yang menjelma menjadi teriakan, dan rasa persaudaraan aneh dengan jutaan atau bahkan miliaran orang asing yang, pada saat-saat itu, merasakan hal yang persis sama. Saya tidak selalu menonton seluruh pertandingan, tentu saja. Tapi pertandingan-pertandingan yang penting, bahkan di babak-babak penyisihan awal sekalipun, selalu membuat saya bersiap dengan segala kudapan, dan bila perlu penyesuaian jadual pertemuan keesokan harinya.

Tahun ini, saya tidak akan melakukannya. Bukan karena kesibukan yang lebih tinggi daripada biasanya. Tapi karena sesuatu di perhelatan sepakbola kali ini telah membuat saya patah hati, walau saya berharap ini bukan patah hati yang permanen.

Ketidakadilan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan

Kisah ini dimulai dengan sebuah preseden yang tampaknya mulia. Pada 2022, setelah Rusia menginvasi Ukraina, FIFA dan UEFA bergerak cepat dan tegas: Rusia dilarang ikut serta dalam seluruh kompetisi internasional. Keputusan itu mendapat pujian luas. Sepakbola, kata para pejabatnya, tidak boleh menjadi alat legitimasi agresi militer. Tapi apa yang terjadi kemudian mengungkap kebenaran yang lebih pahit: itu bukan prinsip. Itu politik, dan dari jenis yang menjijikkan.

Ketika Israel melancarkan operasi militernya di Gaza yang oleh Komisi Penyelidikan PBB dan para pakar telah disimpulkan sebagai genosida—menewaskan ratusan ribu orang warga termasuk lebih dari 800 atlet Palestina, di antaranya sekitar 421 pesepakbola, dan menghancurkan lebih dari 280 fasilitas olahraga—FIFA bergeming. Presiden FIFA Gianni Infantino menyebutnya sebagai konflik dan masalah geopolitik yang tidak seharusnya diselesaikan oleh organisasi sepakbola.

Turki, Spanyol, dan Italia mengeluarkan seruan terbuka agar Israel menerima sanksi serupa Rusia. Lebih dari 30 pakar hukum internasional menandatangani surat yang menyatakan pemblokiran Israel adalah kewajiban moral berdasarkan statuta FIFA sendiri. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez berkata lantang: “Sampai kebiadaban ini berakhir, baik Rusia maupun Israel tidak seharusnya ada dalam kompetisi internasional mana pun.” Namun Amerika Serikat yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 secara resmi menyatakan bahwa pemerintahnya akan “… bekerja keras untuk menghentikan setiap upaya …” pemblokiran keikutsertaan Israel. Dan FIFA, yang tampak begitu tegas dan gagah berani terhadap Rusia, tetiba ‘merasa’ bahwa ia tidak memiliki kewenangan apa pun.

Bahwa Israel pada akhirnya tidak lolos kualifikasi adalah ironi sejarah yang saya sukai. Tapi kebetulan bukanlah prinsip. Prinsip adalah sesuatu yang kita pegang bahkan ketika hasilnya menyakitkan. FIFA seharusnya mengeluarkan kartu merah untuk Israel, menendangnya keluar sejak awal, tapi memilih yang lain. AS sendiri seharusnya juga mendapatkan sanksi serupa mengingat kelakuannya terhadap Venezuela, Kuba, dan Iran yang membuat muak seluruh dunia. Kalau Rusia mendapatkan sanksi gegara invasi, tak ada dalih apapun yang bisa membenarkan teroris AS bertanding.

Penghargaan Paling Memalukan dalam Sejarah

Desember 2025. Gedung Kennedy Center, Washington. Di atas panggung yang berkilau, Gianni Infantino menyerahkan medali emas kepada Donald Trump: FIFA Peace Prize: Football Unites the World, sebuah penghargaan yang bahkan tidak diketahui keberadaannya oleh sebagian besar pejabat senior FIFA sendiri.

Penghargaan itu diumumkan secara tiba-tiba tiga minggu setelah Trump gagal mendapat Nobel Perdamaian—yang diberikan kepada perempuan Venezuela, María Corina Machado. Tidak ada panitia seleksi yang diungkap. Tidak ada kriteria yang dijelaskan. Tidak ada proses yang transparan. “Anda dapat selalu mengandalkan dukungan saya dan seluruh komunitas sepakbola,” kata Infantino kepada Trump di atas panggung. Komunitas sepakbola di negeri-negeri yang disengsarakan Trump jelas tak mendukung itu.

Lise Klaveness, Presiden Federasi Sepakbola Norwegia, menyerukan agar penghargaan itu dihapuskan. Organisasi hak asasi manusia FairSquare mengajukan pengaduan formal kepada Komite Etik FIFA, menuduh Infantino melanggar kewajiban netralitas politik yang termaktub dalam statuta organisasinya sendiri. Human Rights Watch menyebutnya lebih tegas: sebuah ‘sportswashing bonanza’ bagi pemerintahan Trump.

Apakah ada yang lebih absurd daripada FIFA, yang dalam dokumen resminya berkomitmen pada hak asasi manusia, inklusi, dan perdamaian, menganugerahkan penghargaan perdamaian kepada presiden yang telah mengobok-ngobok negara lain, lalu dalam hitungan beberapa minggu kemudian memerluas larangan perjalanan ke 75 negara, mendeportasi ratusan ribu orang, dan membiarkan aparat imigrasinya menebar teror dari kota ke kota? Bahkan, beberapa bulan kemudian Trump menjatuhkan bom di Iran, di antaranya membunuh 170an anak perempuan sekolah dasar di Minab, Iran. Dan itu baru permulaan, karena tangannya hingga kini terus belepotan darah warga Iran dan negeri-negeri lain.

Ketika Tamu Tidak Diizinkan Hadir di Pesta Mereka Sendiri

Piala Dunia adalah perayaan inklusivitas. Atau begitu yang selama ini saya dan kita semua percaya. Dan siapapun yang mengikuti berita-berita sekitar Piala Dunia 2026 tahu bahwa inklusivitas benar-benar telah dibuang ke tong sampah oleh negara yang ditunjuk sebagai tuan rumahnya.

Omar Abdulkadir Artan, wasit terbaik Afrika versi CAF 2025, seharusnya menjadi orang Somalia pertama yang memimpin pertandingan di Piala Dunia. Ia tiba di Miami. Petugas imigrasi Amerika menyatakan ia tidak layak masuk karena Somalia masuk dalam daftar negara yang dilarang oleh Trump. FIFA berkata dalam sebuah pernyataan bahwa mereka “… tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah.” Artan kembali ke Istanbul. Mimpi untuk memimpin pertandingan di ajang ‘paling terhormat’ berakhir di hadapan petugas imigrasi.

Delegasi Iran menerima visa untuk para pemain sepuluh hari sebelum pertandingan pertama mereka, sementara anggota staf manajemen dan administrasi kunci ditolak. Iran memboikot pengundian resmi Piala Dunia di Washington sebagai protes. Menteri Olahraga Afrika Selatan Gayton McKenzie menyebut keterlambatan visa bagi delegasi negaranya sebagai sesuatu yang memalukan dan sangat tidak adil.

Para pendukung dari Haiti, Senegal, dan Pantai Gading—ini adalah di antara negara-negara yang masuk daftar larangan parsial Trump—berjuang keras bahkan sekadar mendapatkan visa penonton. Haiti lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1974—sebuah pencapaian yang luar biasa dan sungguh patut mereka rayakan—namun ribuan warga Haiti yang tinggal di Massachusetts sekalipun, di tempat pertandingan digelar, takut hadir karena ancaman razia ICE. Dan itu bukan ketakutan yang berlebihan. Antara 20 Januari 2025 dan 10 Maret, ICE menangkap setidaknya 167.000 orang di sekitar 11 kota tuan rumah Piala Dunia. Lebih dari 120 organisasi hak sipil Amerika, termasuk ACLU, mengeluarkan travel advisory yang memeringatkan pemain, jurnalis, dan pendukung tentang risiko pelanggaran hak yang serius. Serikat pekerja stadion di Los Angeles, UNITE HERE Local 11, bahkan sempat memilih untuk mogok kerja, terutama lantaran ketakutan pekerja akan dirazia ICE di dalam atau sekitar stadion.

Sang ‘Border Czar’ Tom Homan mengancam akan mengirim “lebih banyak agen ICE daripada yang pernah Anda lihat” ke New York City, yang akan menjadi tuan rumah delapan pertandingan. Gedung Putih menolak menjamin bahwa tidak akan ada razia imigrasi di area stadion. Seorang pengungsi pencari suaka ditangkap ketika ia membawa anak-anaknya menonton final Club World Cup pada Juli 2025. Peristiwa itu menjadi firasat buruk bagi siapapun, termasuk warga AS non-kulit putih, yang hendak menonton Piala Dunia kali ini.

FIFA Telah Offside

Dalam semua urusan ini yang paling menyedihkan buat saya bukanlah Trump—yang memang bukan orang yang waras dalam segala hal. Yang paling menyedihkan adalah FIFA. Bagaimanapun, organisasi ini pernah memiliki momen-momen penuh keberanian. Apartheid Afrika Selatan membuatnya mengambil tindakan. Invasi Rusia membuatnya bergerak. Namun menghadapi Amerika Serikat dan mungkin terutama Trump, Presiden FIFA Infantino memilih berlutut. Menanggapi hal itu, pengacara olahraga internasional Khayran Noor mengatakan sesuatu yang sederhana sekaligus sangat menghantam: “Turnamen besar tidak hanya bergantung pada logistik dan keamanan. Ia bergantung pada atmosfer dan persepsi.” Bagi saya, atmosfer Piala Dunia 2026 adalah ketakutan dan persepsi utamanya adalah ketidakadilan.

Saya tahu bahwa sepakbola itu sendiri tidak salah. Di lapangan, masih akan ada keindahan: umpan yang jenius, gol yang membelah langit, juga air mata yang tulus. Masih akan ada empat tim debutan— Cape Verde, Curacao, Uzbekistan dan Yordania—yang membawa impian pertama mereka. Masih akan ada momen-momen yang mengingatkan kita mengapa kita mencintai permainan ini. Tapi atmosfer dan persepsi positif yang selama ini menjadi konteks Piala Dunia telah dibiarkan pecah berantakan. Dan konteks itu penting, karena dialah yang memberi makna pada apa yang terjadi di dalamnya.

Piala Dunia bukan sekadar kompetisi olahraga. Ia adalah pernyataan bahwa manusia, dari mana pun mereka berasal, berhak hadir dan diakui dalam satu ruang yang sama. Ketika pernyataan itu dikhianati oleh diskriminasi visa, oleh standar ganda yang mencolok, oleh penghargaan perdamaian yang diberikan kepada orang yang paling mengancam keselamatan dunia, maka yang tersisa hanyalah sisa dari sesuatu yang pernah bermakna.

Maka saya bakal menunggu. Bukan untuk edisi kali ini yang sudah terlanjur menjadi noda dalam kalender kita semua. Saya menunggu Piala Dunia berikutnya: ketika mungkin ada presidensi FIFA yang tak lagi sepengecut Infantino, ketika negara tuan rumah dipilih berdasarkan nilai dan bukan hanya kapasitas komersial, ketika wasit dari Somalia atau dari manapun bisa mendarat di bandara mana pun di dunia tanpa harus pulang dengan tangan kosong.

Sepakbola pernah mengajarkan saya bahwa ada keadilan di dunia ini, juga bahwa kerja keras, keindahan, dan keberanian bisa menang. Saya masih percaya itu. Tapi jelas tidak untuk FIFA Infantino dan Piala Dunia 2026.

–##–

Depok 14 Juni 2026 16:45