Oleh: Iswan Kaputra, MS.i *

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya. Program ini memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu mengurangi stunting, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, memperbaiki konsentrasi belajar siswa, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Namun, di balik manfaat sosial yang besar tersebut, terdapat tantangan lingkungan yang perlu mendapat perhatian serius, yaitu potensi timbulnya limbah dan sampah makanan dalam jumlah besar. Jika jutaan porsi makanan didistribusikan setiap hari tanpa sistem pengelolaan limbah yang memadai, maka program ini berpotensi menghasilkan volume sampah organik dan anorganik yang signifikan. Persoalan ini tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim melalui peningkatan emisi gas rumah kaca.

Dalam berbagai negara, program makan sekolah sering menghadapi masalah food waste atau sampah makanan. Makanan yang tidak habis dikonsumsi, bahan baku yang rusak selama distribusi, hingga kemasan sekali pakai menjadi sumber limbah yang sering kali luput dari perhatian. Indonesia perlu belajar dari pengalaman tersebut agar program MBG tidak hanya berhasil dari sisi gizi, tetapi juga berkelanjutan dari sisi lingkungan.

Artikel yang saya tulis ini mengulas bagaimana limbah dan sampah yang dihasilkan dari Program Makan Bergizi Gratis dapat memengaruhi lingkungan dan perubahan iklim, serta menawarkan sejumlah solusi agar program unggulan ini dapat berjalan selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan.

Sampah Makanan, Krisis Lingkungan yang Sering Diabaikan

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization memperkirakan sekitar sepertiga makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia di dunia hilang atau terbuang setiap tahunnya. Jumlah tersebut mencapai sekitar 1,3 miliar ton makanan per tahun. Sementara itu, United Nations Environment Programme dalam Food Waste Index Report melaporkan bahwa pada 2022 dunia menghasilkan lebih dari 1 miliar ton sampah makanan dari rumah tangga, layanan makanan, dan sektor ritel.

Ironisnya, di saat jutaan orang masih mengalami kerawanan pangan, makanan yang terbuang justru menjadi salah satu penyumbang utama krisis lingkungan global. Sampah makanan bukan sekadar masalah etika atau ekonomi, melainkan juga masalah iklim.

Di Indonesia, persoalan kehilangan dan pemborosan pangan tergolong tinggi. Kajian nasional yang dilakukan oleh pemerintah menunjukkan bahwa jutaan ton makanan terbuang setiap tahun sepanjang rantai pasok, mulai dari produksi hingga konsumsi. Kondisi ini menyebabkan kerugian ekonomi yang besar sekaligus meningkatkan tekanan terhadap sumber daya alam.

Jika Program Makan Bergizi Gratis nantinya melayani puluhan juta penerima manfaat setiap hari, maka bahkan tingkat sisa makanan yang kecil sekalipun akan menghasilkan volume limbah yang sangat besar.

Sebagai ilustrasi; jika 20 juta penerima MBG menghasilkan rata-rata 25 gram sisa makanan per hari, maka akan terbentuk sekitar 500 ton sampah makanan setiap hari. Dalam satu tahun sekolah (sekitar 250 hari), jumlah tersebut dapat mencapai 125.000 ton sampah makanan. Jika rata-rata sisa makanan mencapai 50 gram per penerima, volumenya dapat meningkat menjadi sekitar 250.000 ton per tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah makanan dalam program MBG bukan isu kecil, melainkan tantangan lingkungan yang harus diantisipasi sejak awal.

Dampak Lingkungan dari Limbah Program MBG

  1. Peningkatan volume sampah organik. Sebagian besar limbah MBG diperkirakan berasal dari; nasi yang tidak habis dikonsumsi, sayuran yang tidak disukai siswa, buah yang dibuang, lauk-pauk yang tersisa dan bahan makanan yang rusak selama penyimpanan.

Ketika sampah organik ini dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), proses pembusukannya menghasilkan berbagai gas dan cairan yang mencemari lingkungan.

Di banyak daerah Indonesia, TPA masih menggunakan sistem open dumping atau pembuangan terbuka. Dalam kondisi tersebut, sampah organik membusuk tanpa pengelolaan yang baik sehingga menghasilkan lindi (leachate) yang dapat mencemari tanah dan air tanah.

Jika tidak ditangani secara sistematis, peningkatan volume sampah organik dari MBG akan mempercepat penuh sesaknya TPA yang saat ini sudah mengalami kelebihan kapasitas di banyak kota.

  1. Pencemaran air dan sungai. Di berbagai daerah, limbah makanan sering kali dibuang ke saluran drainase atau sungai. Praktik ini dapat menyebabkan; penyumbatan saluran air, penurunan kualitas air, meningkatnya kadar bahan organik di perairan dan pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme patogen. Kondisi tersebut memperburuk kualitas ekosistem sungai yang selama ini telah menghadapi tekanan akibat limbah domestik dan industri.

Bagi wilayah seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, tambahan beban limbah organik dapat mempercepat degradasi kualitas air dan meningkatkan biaya pengolahan air bersih.

  1. Timbulan sampah kemasan. Selain sampah makanan, Program MBG berpotensi menghasilkan limbah kemasan dalam jumlah besar. Jika setiap porsi makanan menggunakan; plastik sekali pakai, sendok plastik, sedotan, kantong pembungkus, kotak makanan berbahan sintetis, maka jutaan unit sampah plastik dapat muncul setiap hari.

Sebagai gambaran; jika terdapat 20 juta porsi makanan dan setiap porsi menghasilkan 10 gram sampah kemasan plastik, maka akan terbentuk sekitar 200 ton sampah plastik per hari atau lebih dari 70.000 ton per tahun. Sampah plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Sebagian besar akan berakhir di sungai dan laut, menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan manusia.

Hubungan Sampah MBG dengan Perubahan Iklim

Banyak orang menganggap perubahan iklim hanya berkaitan dengan kendaraan bermotor atau pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Padahal, sampah makanan merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang cukup besar.

  1. Emisi Metana dari Sampah Organik. Ketika makanan membusuk di TPA, proses tersebut menghasilkan gas metana (CH₄). Metana memiliki kemampuan memerangkap panas sekitar 28–34 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam periode 100 tahun. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), sektor limbah merupakan salah satu sumber utama emisi metana antropogenik di dunia. Artinya, semakin banyak makanan yang terbuang dari Program MBG, semakin besar pula kontribusinya terhadap pemanasan global. Jika ratusan ribu ton sampah makanan dihasilkan setiap tahun tanpa sistem pengomposan atau biodigester, maka emisi metana yang dihasilkan akan menjadi signifikan.
  1. Emisi tersembunyi dari produksi makanan. Sampah makanan tidak hanya menghasilkan emisi ketika dibuang. Setiap makanan yang terbuang sebenarnya membawa “jejak karbon” yang telah dihasilkan sejak proses produksinya, yaitu; pembukaan lahan pertanian, penggunaan pupuk, penggunaan pestisida, pengolahan hasil pertanian, transportasi bahan pangan, penyimpanan dan pendinginan dan distribusi ke sekolah.

Ketika makanan tersebut tidak dikonsumsi dan berakhir menjadi sampah, maka seluruh emisi yang telah dikeluarkan sepanjang rantai produksi menjadi sia-sia. Contohnya, produksi 1 kilogram beras menghasilkan emisi sekitar 2–4 kilogram CO₂ ekuivalen tergantung metode budidayanya. Jika ribuan ton nasi terbuang setiap tahun melalui MBG, maka jejak karbon yang hilang juga sangat besar.

  1. Pembakaran sampah. Masih banyak daerah yang menangani sampah dengan cara dibakar. Jika sisa makanan dan kemasan MBG dibakar secara terbuka, maka akan dihasilkan; karbon dioksida (CO₂), karbon monoksida, partikular halus, senyawa beracun lainnya. Praktik ini memperburuk kualitas udara sekaligus meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Menghitung Potensi Dampak Iklim Program MBG

Mari menggunakan simulasi sederhana. Misalkan; penerima MBG: 20 juta orang, sisa makanan rata-rata: 30 gram per hari dan hari layanan: 250 hari per tahun. Maka; 20.000.000 × 30 gram = 600 ton sampah makanan per hari, dalam satu tahun: 600 ton × 250 hari = 150.000 ton sampah makanan.

Jika sebagian besar sampah tersebut masuk ke TPA dan membusuk secara anaerobik, maka emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dapat mencapai puluhan hingga ratusan ribu ton CO₂ ekuivalen per tahun, tergantung komposisi dan metode pengelolaannya. Angka ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah MBG bukan hanya isu kebersihan sekolah, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim nasional.

Peluang Menjadikan MBG sebagai Program Ramah Lingkungan

Meskipun berpotensi menghasilkan limbah, Program MBG juga memiliki peluang besar menjadi contoh program publik yang mendukung ekonomi hijau.

  1. Sistem zero food waste. Sekolah dapat menerapkan mekanisme pemantauan sisa makanan.

Menu yang sering tidak habis dapat dievaluasi sehingga makanan yang disajikan lebih sesuai dengan preferensi dan kebutuhan penerima. Pendekatan ini terbukti mampu menurunkan tingkat food waste secara signifikan di berbagai negara.

  1. Pengomposan sampah organik. Sisa makanan dapat diolah menjadi kompos untuk; kebun sekolah, pertanian masyarakat dan penghijauan lingkungan. Selain mengurangi volume sampah, kompos juga meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
  1. Pemanfaatan biodigester. Sampah makanan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodigester untuk menghasilkan biogas. Biogas dapat digunakan sebagai sumber energi memasak sehingga menciptakan sistem ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.
  1. Penggunaan wadah pakai ulang. Daripada menggunakan plastik sekali pakai, program MBG dapat menerapkan; nampan stainless steel, kotak makan yang dapat dicuci ulang dan sistem pengembalian wadah. Langkah ini dapat mengurangi ribuan ton sampah plastik setiap tahun.
  1. Pendidikan lingkungan bagi siswa. Program MBG dapat menjadi sarana pendidikan lingkungan hidup. Anak-anak tidak hanya belajar tentang gizi, tetapi juga memahami; pentingnya menghabiskan makanan, pemilahan sampah, pengomposan, dan hubungan antara sampah dan perubahan iklim. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada aspek kesehatan, tetapi juga membangun generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan investasi penting bagi masa depan Indonesia. Namun keberhasilan program ini tidak boleh diukur hanya dari jumlah penerima manfaat atau perbaikan status gizi masyarakat. Aspek lingkungan juga harus menjadi perhatian utama agar manfaat yang dihasilkan tidak diikuti oleh munculnya masalah baru berupa peningkatan limbah dan emisi gas rumah kaca.

Sampah makanan yang berasal dari Program MBG berpotensi menimbulkan pencemaran tanah, air, dan udara. Lebih jauh lagi, pembusukan sampah organik menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global. Jika jutaan porsi makanan didistribusikan setiap hari tanpa strategi pengelolaan limbah yang baik, maka dampak lingkungan yang muncul bisa sangat besar.

Karena itu, Program Makan Bergizi Gratis harus dirancang sebagai program yang tidak hanya bergizi, tetapi juga rendah limbah dan rendah emisi. Pengurangan sisa makanan, pengomposan, penggunaan wadah pakai ulang, pemanfaatan biodigester, dan pendidikan lingkungan harus menjadi bagian integral dari implementasi program.

Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadikan MBG sebagai model pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan tujuan kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, dan perlindungan lingkungan sekaligus. Dengan demikian, setiap porsi makanan yang disajikan tidak hanya menyehatkan anak bangsa, tetapi juga ikut menjaga bumi dari ancaman krisis iklim yang semakin nyata.

–##–

* Iswan Kaputra, MS.i adalah Environmental & Climate Change Specialish di BITRA Indonesia, Anggota Indonesia Climate Change Aliance (ICCA) & Food First Information and Action Network (FIAN) Indonesia.