ADIDAS DETOXSerang, Banten, Indonesia, 21 Mei 2014 – Aktivis Greenpeace membentangkan sebuah spanduk yang bertuliskan “Adidas: Jangan Curangi Lingkungan”, di sebuah lapangan bola yang dekat dengan fasilitas produksi adidas di Indonesia. Fasilitas ini diketahui merupakan pemasok resmi adidas untuk Piala Dunia 2014. Spanduk lainnya yang bertuliskan “Ada apa di dalam sana?” yang diarahkan pada sebuah fasilitas pengolahan air limbah. Aktivitas ini dilakukan menyusul adanya laporan yang diluncurkan oleh Greenpeace pada Senin lalu yang mengungkap merchandise sepak bola yang diproduksi oleh adidas, Nike dan Puma menjelang Piala Dunia 2014 FIFA di Brasil telah ditemukan mengandung bahan kimia berbahaya. [1]

Ahmad Ashov, Jurukampanye Detox Greenpeace Indonesia mangatakan:
“Kami berada di sini hari ini untuk menyerukan kepada adidas agar mengnugkap tentang bahan kimia yang digunakan untuk membuat produk ikonik yang dijual dan dipakai oleh pemain sepak bola di seluruh dunia. Sudah saatnya merek bertindak dengan transparansi dengan mengungkapkan informasi buangan bahan kimia kepada publik.”

Laporan ini mengungkap fakta bahwa brand sepatu adidas yang terkenal ‘Predator’ dan ‘adizero’ mengandung konsentrasi tinggi dari zat beracun PFOA, melebihi pembatasan yang ditetapkan oleh perusahaan itu sendiri . Hal ini terindikasi adanya kesengajaan penggunaan bahan kimia seperti etoksilat nonilfenol (NPE), dimetylformamida (DMF), phthalates dan per – polyfluorinated (PFC). Banyak dari zat berbahaya tersebut dapat larut dari produk ke lingkungan. Beberapa dari mereka berpotensi menyebabkan kanker, mengganggu sistem hormonal atau dapat menjadi racun bagi sistem reproduksi.

Banyak dampak kesehatan manusia dan lingkungan dari bahan kimia ini sangat terasa di negara-negara bagian Selatan, di mana sebagian besar merchandise Piala Dunia, seperti sepatu, sarung tangan dan kaos diproduksi. Seperti laporan Greenpeace sebelumnya telah menunjukkan [2], di negara-negara seperti Indonesia dan Cina, industri tekstil memberikan kontribusi besar terhadap pencemaran perairan lokal.

Ahmad Ashov melanjutkan: “Adidas mengharapkan keuntungan multi- juta Euro dari Piala Dunia 2014. Mereka harus ingat bahwa dengan tidak bertindak segera, kesehatan masyarakat dan lingkungan di negara-negara seperti Indonesia akan terus ditempatkan pada risiko akibat penggunaan bahan kimia berbahaya.”

Kampanye Greenpeace Detox menyerukan kepada merek-merek ternama untuk melaksanakan program-program yang kredibel agar mencapai nol pembuangan bahan kimia berbahaya pada tahun 2020 di seluruh rantai pasokan global mereka. Greenpeace juga menyerukan kepada pemerintah agar mengadopsi komitmen politik untuk nol pembuangan semua bahan kimia berbahaya, diikuti oleh daftar buangan bahan kimia yang tersedia oleh publik, emisi dan kerugian dari zat berbahaya seperti Pollutant Release and Transfer Register (PRTR).

Catatan editor:
[1] https://www.greenpeace.de/sites/www.greenpeace.de/files/publications/20140515-rote-karte-fuer-sportmarken-englisch.pdf, accessed: 20/5/14

[2] adidas ‘predator’ diproduksi di Indonesia dan dijual di Swiss diketahui mengandung 14 kali PFOA, dan adidas ‘adizero’ diproduksi di Indonesia dan dijual di Cina mengandung 5 kali PFOA. http://www.adidas-group.com/media/filer_public/85/09/850915ac-f85f-4533-8e87-3c84c8093193/a01_sept_2013_en.pdf

[3] http://www.greenpeace.org/international/polluting-paradise/

Referensi
[1] Judul dan URL laporan: “Kartu Merah untuk Merek Perlengkapan Olahraga” http://www.greenpeace.org/seasia/id/press/reports/Kartu-Merah-untuk-merk-merk-perlengkapan-olahraga/
[2] Tentang kampanye ini: http://www.detoxfootball.org/

Kontak:
Ahmad Ashov Birry, Jurukampanye Detox Greenpeace Indonesia, 08111757246
Rahma Shofiana, Jurukampanye Media Greenpeace Indonesia, 08111461674