Oleh: La Ode M. Aslan *

Peningkatan degradasi lingkungan, perubahan iklim global, pencemaran tanah dan air, serta menurunnya kualitas lahan pertanian telah mendorong berkembangnya berbagai inovasi teknologi berbasis biomassa berkelanjutan.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian besar dalam dua dekade terakhir adalah biochar, yaitu material kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pirolisis biomassa dalam kondisi oksigen terbatas. Biochar dikenal memiliki kemampuan meningkatkan kualitas tanah, memperbaiki retensi air, menyerap polutan, serta menyimpan karbon dalam jangka panjang sehingga dianggap sebagai salah satu teknologi penting dalam mitigasi perubahan iklim (Lehmann and Joseph, 2015).

Selama ini sebagian besar penelitian biochar menggunakan biomassa daratan seperti kayu, sekam padi, jerami, tongkol jagung, atau limbah pertanian lainnya. Namun, meningkatnya perhatian terhadap ekonomi biru (blue economy) dan pemanfaatan sumber daya laut telah membuka peluang baru dalam pengembangan biochar berbasis rumput laut atau makroalga.

Rumput laut memiliki beberapa keunggulan dibanding biomassa daratan, antara lain pertumbuhan sangat cepat, tidak memerlukan lahan subur, tidak membutuhkan pupuk kimia intensif, tidak bersaing dengan tanaman pangan, serta memiliki kapasitas tinggi dalam menyerap karbon dan nutrien dari lingkungan perairan (Duarte et al., 2017).

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki keanekaragaman jenis rumput laut yang sangat beragam. Hingga saat ini, jenis yang telah berhasil direkapitulasi di Indonesia mencapai 1.006 jenis (Aslan, 2026). Di sisi lain, sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar dunia, Indonesia memiliki potensi sangat besar dalam pengembangan biochar rumput laut. Biomassa rumput laut dari jenis seperti Kappaphycus alvarezii, Eucheuma denticulatum, Gracilaria spp., Sargassum spp., dan Ulva spp. tersedia melimpah baik dari kegiatan budidaya maupun limbah industri pengolahan karaginan dan alginat. Pemanfaatan biomassa tersebut menjadi biochar dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung sistem ekonomi sirkular dan pembangunan rendah karbon.

Selain digunakan sebagai pembenah tanah, biochar rumput laut juga berpotensi diaplikasikan dalam remediasi lingkungan, pengolahan limbah, absorben logam berat, penyimpanan karbon, serta pengembangan material energi berkelanjutan. Oleh karena itu, biochar rumput laut menjadi salah satu topik riset strategis dalam pengembangan teknologi hijau berbasis biomassa laut.

Konsep Dasar Biochar Rumput Laut

Biochar adalah material karbon stabil yang dihasilkan melalui pemanasan biomassa pada suhu sekitar 300–700°C dalam kondisi minim oksigen atau anaerobik. Proses ini disebut pirolisis. Selama proses tersebut, biomassa mengalami dekomposisi termokimia sehingga menghasilkan biochar, bio-oil, dan gas sintetis (syngas) (Sohi et al., 2010). Karakteristik biochar sangat dipengaruhi oleh jenis biomassa, suhu pirolisis, waktu pemanasan, kadar air, dan metode aktivasi.

Berbeda dengan biochar berbasis kayu atau biomassa lignoselulosa, biochar rumput laut memiliki karakteristik unik berupa kandungan abu tinggi, kandungan mineral tinggi, kandungan nitrogen dan sulfur lebih besar, alkalinitas tinggi, dan kapasitas tukar kation yang baik. Roberts et al. (2015) menunjukkan bahwa biochar dari rumput laut memiliki kandungan unsur hara penting seperti kalium (K), fosfor (P), magnesium (Mg), dan kalsium (Ca) dalam jumlah lebih tinggi dibanding biochar biomassa daratan. Karakteristik tersebut menjadikan biochar rumput laut sangat potensial sebagai pembenah tanah dan pupuk organik.

Selain itu, biochar rumput laut memiliki struktur pori yang baik dan luas permukaan tinggi sehingga mampu meningkatkan retensi air dan aktivitas mikroorganisme tanah. Dalam beberapa penelitian, biochar makroalga juga menunjukkan kapasitas absorpsi yang sangat baik terhadap logam berat dan polutan organik (Mondal et al., 2024).

Jenis Rumput Laut sebagai Bahan Baku Biochar

Saat ini berbagai jenis makroalga telah diteliti sebagai bahan baku biochar, baik rumput laut merah, coklat, maupun hijau.

a. Kappaphycus alvarezii

Kappaphycus alvarezii merupakan rumput laut merah penghasil karaginan yang sangat dominan dibudidayakan di Indonesia. Biomassa limbah pasca-ekstraksi karaginan memiliki potensi besar untuk dikonversi menjadi biochar bernilai tinggi. Biochar dari Kappaphycus diketahui memiliki kandungan kalium tinggi yang bermanfaat untuk pertanian.

b. Eucheuma denticulatum

Eucheuma denticulatum juga merupakan sumber utama karaginan dan banyak tersedia di wilayah pesisir tropis Indonesia. Biochar dari spesies ini memiliki karakteristik alkalin yang dapat membantu memperbaiki tanah masam.

c. Gracilaria

Gracilaria banyak dibudidayakan di tambak payau untuk produksi agar. Biochar Gracilaria memiliki kandungan mineral dan kapasitas absorpsi logam yang baik sehingga potensial digunakan untuk remediasi lingkungan.

d. Sargassum

Sargassum merupakan alga coklat dengan kandungan alginat tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa biochar Sargassum sangat efektif dalam adsorpsi logam berat seperti Cd, Pb, Ni, dan Cr (Wang et al., 2024).

e. Ulva

Ulva atau selada laut memiliki pertumbuhan cepat dan kandungan nitrogen tinggi sehingga biochar yang dihasilkan kaya nutrien dan baik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Teknologi Produksi Biochar Rumput Laut

Produksi biochar rumput laut umumnya dilakukan melalui beberapa tahapan utama, yaitu pengumpulan biomassa, pencucian, pengeringan, penghancuran bahan, proses pirolisis, pendinginan, dan penghalusan biochar. Tahap pencucian sangat penting untuk mengurangi kandungan garam dan mineral berlebih yang dapat memengaruhi kualitas biochar dan meningkatkan salinitas tanah apabila diaplikasikan secara langsung. Setelah pencucian, biomassa rumput laut dikeringkan untuk menurunkan kadar air sehingga proses pirolisis dapat berlangsung lebih efisien. Biomassa kering kemudian dihancurkan menjadi ukuran lebih kecil untuk meningkatkan homogenitas pemanasan selama pirolisis. Proses pirolisis dilakukan pada kondisi oksigen terbatas dengan suhu tertentu sehingga biomassa mengalami dekomposisi termokimia dan menghasilkan biochar, bio-oil, serta gas sintetis (syngas) (Lehmann and Joseph, 2015; Fakayode et al., 2020).

a. Pengaruh Suhu Pirolisis

Suhu pirolisis merupakan faktor utama yang menentukan karakteristik fisik, kimia, dan struktural biochar. Pada suhu rendah sekitar 300–400°C, biochar umumnya memiliki kandungan karbon tetap yang lebih rendah, tetapi kandungan nutrien seperti nitrogen, fosfor, dan kalium relatif lebih tinggi. Biochar yang dihasilkan pada suhu rendah juga cenderung memiliki stabilitas karbon yang lebih rendah karena masih mengandung fraksi volatil dan senyawa organik yang belum terkarbonisasi sempurna (Sohi et al., 2010). Sebaliknya, pirolisis pada suhu tinggi sekitar 500–700°C menghasilkan biochar dengan luas permukaan lebih besar, porositas lebih tinggi, derajat aromatisasi karbon yang lebih kuat, serta stabilitas karbon yang lebih baik sehingga lebih efektif untuk penyimpanan karbon jangka panjang dan absorpsi polutan (Atkinson et al., 2010).

Penelitian Roberts et al. (2015) menunjukkan bahwa peningkatan suhu pirolisis pada biochar rumput laut dapat meningkatkan alkalinitas, luas permukaan spesifik, dan kapasitas absorpsi material. Fakayode et al. (2020) juga melaporkan bahwa biochar makroalga yang diproduksi pada suhu tinggi memiliki kemampuan lebih baik dalam menyerap logam berat dan polutan organik karena terbentuknya struktur pori yang lebih berkembang. Selain itu, peningkatan suhu pirolisis menyebabkan peningkatan aromatisasi karbon sehingga biochar menjadi lebih stabil terhadap dekomposisi mikroba dan lebih tahan dalam tanah untuk jangka waktu panjang (Lehmann and Joseph, 2015).

b. Aktivasi Biochar

Untuk meningkatkan performa dan kapasitas absorpsi biochar rumput laut, berbagai metode aktivasi telah dikembangkan, antara lain aktivasi kimia, aktivasi fisik, aktivasi uap, dan modifikasi permukaan. Aktivasi bertujuan meningkatkan luas permukaan, volume pori, dan jumlah gugus fungsi aktif pada permukaan biochar sehingga kemampuan absorpsi terhadap polutan menjadi lebih tinggi. Aktivasi kimia menggunakan senyawa seperti kalium hidroksida (KOH), asam fosfat (H3PO4), dan seng klorida (ZnCl2) diketahui sangat efektif dalam meningkatkan porositas dan luas permukaan biochar (Kumar et al., 2024).

Aktivasi fisik biasanya dilakukan menggunakan uap air panas atau gas karbon dioksida pada suhu tinggi untuk membentuk struktur mikropori dan mesopori yang lebih berkembang. Sementara itu, modifikasi permukaan biochar dapat dilakukan dengan penambahan gugus fungsional tertentu guna meningkatkan afinitas terhadap logam berat maupun senyawa organik berbahaya. Kumar et al. (2024) melaporkan bahwa biochar makroalga yang diaktivasi secara kimia menunjukkan peningkatan signifikan dalam kapasitas adsorpsi terhadap logam berat dan zat warna dibanding biochar tanpa aktivasi. Dengan demikian, aktivasi biochar menjadi langkah penting dalam pengembangan biochar rumput laut untuk aplikasi pertanian, remediasi lingkungan, dan pengolahan limbah.

Biochar Rumput Laut untuk Pertanian Berkelanjutan

a.      Peningkatan Kesuburan Tanah

Salah satu aplikasi utama biochar adalah sebagai pembenah tanah (soil amendment) yang mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah. Penambahan biochar ke dalam tanah diketahui dapat meningkatkan kapasitas tukar kation (cation exchange capacity), memperbaiki struktur tanah, meningkatkan retensi air, memperbaiki aerasi, serta meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam siklus nutrien (Atkinson et al., 2010; Sohi et al., 2010). Struktur pori biochar yang kompleks memungkinkan tanah memiliki kemampuan lebih baik dalam menahan air dan unsur hara sehingga mengurangi kehilangan nutrien akibat pencucian. Selain itu, biochar menyediakan habitat mikro yang mendukung perkembangan mikroba tanah dan meningkatkan aktivitas biologis di zona perakaran tanaman (Lehmann and Joseph, 2015).

Tanah tropis di Indonesia umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah akibat tingginya curah hujan dan intensitas pelindian nutrien yang tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan efisiensi pemupukan menjadi rendah dan kualitas tanah terus menurun dari waktu ke waktu. Dalam kondisi demikian, biochar dapat meningkatkan stabilitas karbon organik tanah dan mempertahankan unsur hara lebih lama di dalam sistem tanah (Sohi et al., 2010). Penggunaan biochar rumput laut menjadi sangat potensial karena mengandung berbagai mineral penting seperti kalium (K), magnesium (Mg), kalsium (Ca), dan fosfor (P) yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman (Roberts et al., 2015).

Biochar rumput laut juga sangat cocok diaplikasikan pada tanah masam karena sifat alkalinnya mampu meningkatkan pH tanah dan mengurangi toksisitas aluminium pada lahan asam tropis. Roberts et al. (2015) melaporkan bahwa biochar rumput laut memiliki pH berkisar antara 7–11 sehingga efektif digunakan sebagai bahan amelioran tanah asam. Peningkatan pH tanah setelah aplikasi biochar dapat memperbaiki ketersediaan unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium sekaligus meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang sensitif terhadap kondisi asam (Atkinson et al., 2010).

b.      Efisiensi Penggunaan Pupuk

Biochar juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk melalui kemampuannya mengadsorpsi dan mempertahankan nutrien di dalam tanah. Kehilangan nitrogen dan fosfor akibat pencucian merupakan salah satu masalah utama pada pertanian tropis, terutama pada tanah bertekstur ringan dan daerah dengan curah hujan tinggi. Yao et al. (2012) menunjukkan bahwa biochar mampu mengabsorpsi nitrat, amonium, dan fosfat sehingga mengurangi kehilangan nutrien melalui pencucian dan meningkatkan ketersediaannya bagi tanaman.

Selain meningkatkan retensi nutrien, biochar juga dapat memperlambat pelepasan unsur hara sehingga pupuk menjadi lebih efisien digunakan oleh tanaman. Dalam sistem pertanian tropis, penggunaan biochar rumput laut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sintetis sekaligus meningkatkan keberlanjutan sistem produksi pertanian. Lehmann and Joseph (2015) menjelaskan bahwa kombinasi biochar dengan pupuk organik maupun anorganik dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan memperbaiki kesehatan tanah dalam jangka panjang.

c.       Peningkatan Produktivitas Tanaman

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biochar dapat meningkatkan pertumbuhan akar, biomassa tanaman, hasil panen, dan efisiensi penggunaan air. Efek positif tersebut berkaitan dengan peningkatan kualitas fisik, kimia, dan biologis tanah setelah aplikasi biochar (Atkinson et al., 2010). Struktur pori biochar yang tinggi membantu tanah menyimpan air lebih lama sehingga tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan. Selain itu, peningkatan aerasi tanah mendukung perkembangan sistem perakaran yang lebih baik.

Lehmann and Joseph (2015) menyatakan bahwa biochar mampu meningkatkan aktivitas mikroba menguntungkan di rhizosfer sehingga membantu proses mineralisasi nutrien dan meningkatkan penyerapan unsur hara oleh tanaman. Pada beberapa tanaman pangan dan hortikultura, aplikasi biochar dilaporkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan terutama pada lahan marginal dengan kandungan bahan organik rendah. Dalam konteks pertanian tropis Indonesia, biochar rumput laut memiliki potensi besar sebagai teknologi ramah lingkungan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperbaiki kualitas tanah secara berkelanjutan.

Biochar Rumput Laut dan Mitigasi Perubahan Iklim

Perubahan iklim global terutama dipicu oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oxide (N2O) di atmosfer akibat aktivitas antropogenik, termasuk pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan intensifikasi pertanian. Dalam konteks tersebut, biochar dianggap sebagai salah satu teknologi negative emission yang mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam bentuk stabil di dalam tanah selama ratusan hingga ribuan tahun (Woolf et al., 2010). Proses pirolisis mengubah biomassa menjadi struktur karbon aromatik yang lebih resisten terhadap dekomposisi biologis sehingga karbon yang sebelumnya berada dalam biomassa tidak segera kembali ke atmosfer dalam bentuk CO2 (Lehmann and Joseph, 2015).

Rumput laut sendiri memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap karbon melalui proses fotosintesis dan berperan penting dalam sistem blue carbon. Duarte et al. (2017) menyatakan bahwa budidaya rumput laut memiliki potensi signifikan dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon, pengurangan eutrofikasi perairan, dan peningkatan kualitas lingkungan pesisir. Dibanding tanaman daratan, rumput laut memiliki laju pertumbuhan sangat cepat dan efisiensi fotosintesis tinggi sehingga mampu menyerap karbon dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat.

Ketika biomassa rumput laut dikonversi menjadi biochar, sebagian karbon organik berubah menjadi struktur aromatik stabil yang sulit terdekomposisi oleh mikroorganisme tanah. Dengan demikian, karbon dapat tersimpan lebih lama di dalam tanah dan berkontribusi terhadap pengurangan konsentrasi karbon atmosfer. Woolf et al. (2010) menjelaskan bahwa aplikasi biochar secara global berpotensi memberikan kontribusi besar dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon jangka panjang dan pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian.

Selain berfungsi sebagai penyimpan karbon, biochar juga mampu mengurangi emisi CH4 dan N2O dari tanah pertanian. Pengurangan emisi tersebut terjadi karena biochar meningkatkan aerasi tanah, memperbaiki retensi nutrien, dan memengaruhi aktivitas mikroorganisme yang terlibat dalam proses nitrifikasi dan denitrifikasi (Sohi et al., 2010). Lehmann and Joseph (2015) menyatakan bahwa biochar dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen sehingga mengurangi kehilangan nitrogen dalam bentuk gas N2O yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih tinggi dibanding CO2. Oleh karena itu, biochar menjadi salah satu teknologi penting dalam pengembangan sistem pertanian rendah emisi karbon dan pertanian berkelanjutan.

Biochar Rumput Laut untuk Remediasi Lingkungan

a. Absorpsi Logam Berat

Biochar rumput laut memiliki kapasitas absorpsi tinggi terhadap logam berat karena memiliki luas permukaan besar, struktur pori tinggi, serta berbagai gugus fungsi aktif seperti hidroksil, karboksil, dan fenolik pada permukaannya. Karakteristik tersebut memungkinkan biochar mengikat ion logam berat secara efektif melalui proses absorpsi, pertukaran ion, dan kompleksasi kimia (Roberts et al., 2015).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa biochar makroalga efektif menyerap logam berat seperti Pb, Cd, Cr, Ni, Cu, dan Zn dari tanah maupun air tercemar. Fakayode et al. (2020) melaporkan bahwa biochar berbasis makroalga memiliki kemampuan absorpsi tinggi terhadap berbagai kontaminan karena kandungan mineral dan luas permukaan spesifiknya yang besar. Kumar et al. (2024) juga menunjukkan bahwa aktivasi biochar makroalga dapat meningkatkan kapasitas absorpsi logam berat secara signifikan.

Kemampuan tersebut sangat relevan bagi wilayah pesisir Indonesia yang menghadapi pencemaran akibat aktivitas pertambangan nikel, limbah industri, dan urbanisasi pesisir. Dalam konteks rehabilitasi lingkungan, biochar rumput laut dapat menjadi material ramah lingkungan yang murah dan berkelanjutan untuk mengurangi toksisitas logam berat di ekosistem pesisir dan lahan pertanian.

b. Pengolahan Air Limbah

Selain digunakan untuk remediasi tanah, biochar rumput laut juga dapat diaplikasikan sebagai absorben dalam pengolahan limbah cair industri, domestik, dan akuakultur. Struktur pori biochar yang berkembang dengan baik memungkinkan material ini menyerap berbagai kontaminan air secara efektif. Kumar et al. (2024) menunjukkan bahwa biochar berbasis makroalga memiliki efisiensi absorpsi tinggi terhadap zat warna sintetis, logam berat, dan berbagai senyawa organik berbahaya.

Selain logam berat, biochar juga mampu menyerap pestisida, antibiotik, zat warna tekstil, dan polutan organik lainnya melalui interaksi fisik maupun kimia pada permukaan biochar (Fakayode et al., 2020). Dengan meningkatnya pencemaran limbah cair di wilayah pesisir dan perkotaan, biochar rumput laut berpotensi menjadi teknologi alternatif yang ekonomis dan ramah lingkungan dalam sistem pengolahan limbah modern.

c. Rehabilitasi Lahan Tambang

Lahan bekas tambang umumnya mengalami kerusakan lingkungan berat berupa tingginya kandungan logam berat, struktur tanah rusak, pH ekstrem, rendahnya kandungan bahan organik, serta minimnya aktivitas biologis tanah. Kondisi tersebut menyebabkan rendahnya kemampuan tanah mendukung pertumbuhan vegetasi dan mempercepat degradasi lingkungan.

Biochar rumput laut berpotensi digunakan untuk meningkatkan kualitas tanah pada lahan bekas tambang melalui peningkatan kandungan karbon organik, kapasitas tukar kation, retensi air, dan pengikatan logam berat beracun (Lehmann and Joseph, 2015). Roberts et al. (2015) menunjukkan bahwa biochar rumput laut memiliki sifat alkalin dan kandungan mineral tinggi sehingga dapat membantu memperbaiki kondisi tanah masam dan terdegradasi.

Dalam konteks Indonesia, aplikasi biochar rumput laut sangat relevan untuk rehabilitasi wilayah bekas tambang nikel di Sulawesi dan Maluku yang menghadapi masalah pencemaran logam berat dan degradasi ekosistem pesisir. Pemanfaatan biochar berbasis biomassa laut dapat menjadi pendekatan berbasis alam (nature-based solution) dalam rehabilitasi lahan tambang tropis.

Potensi Ekonomi dan Industri Biochar Rumput Laut

Pengembangan biochar rumput laut memiliki potensi ekonomi yang sangat besar karena dapat menghasilkan berbagai produk bernilai tambah tinggi, seperti pupuk organik, absorben lingkungan, material karbon aktif, hingga produk karbon kredit. Limbah industri pengolahan karaginan dan alginat yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat dikonversi menjadi biochar bernilai ekonomi tinggi sehingga mendukung prinsip ekonomi sirkular dan zero waste industry (Fakayode et al., 2020).

Selain itu, meningkatnya perhatian global terhadap pengurangan emisi karbon membuka peluang baru bagi pengembangan industri biochar dalam skema perdagangan karbon (carbon trading) dan ekonomi rendah karbon. Woolf et al. (2010) menjelaskan bahwa biochar memiliki potensi besar sebagai teknologi mitigasi karbon yang dapat menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan secara bersamaan.

Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar dunia memiliki peluang strategis menjadi pusat industri biochar makroalga global. Ketersediaan biomassa rumput laut yang melimpah, garis pantai yang panjang, dan berkembangnya industri pengolahan rumput laut memberikan keuntungan kompetitif dalam pengembangan biochar berbasis biomassa laut.

Tantangan Pengembangan Biochar Rumput Laut

Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan biochar rumput laut masih menghadapi berbagai tantangan teknis, ekonomi, dan regulasi.

Kandungan Garam Tinggi

Rumput laut memiliki kandungan garam dan mineral yang relatif tinggi sehingga diperlukan proses pencucian sebelum pirolisis untuk mencegah peningkatan salinitas tanah setelah aplikasi biochar. Kandungan garam yang terlalu tinggi dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan mengurangi efektivitas biochar sebagai pembenah tanah (Roberts et al., 2015).

Variabilitas Biomassa

Komposisi kimia rumput laut dipengaruhi oleh spesies, lokasi budidaya, musim, umur panen, dan kualitas perairan. Variasi tersebut menyebabkan karakteristik biochar yang dihasilkan tidak selalu seragam, baik dari segi kandungan karbon, mineral, maupun kapasitas absorpsi (Fakayode et al., 2020).

Biaya Teknologi

Produksi biochar membutuhkan investasi teknologi pirolisis, energi, dan infrastruktur yang relatif tinggi. Di banyak wilayah pesisir terpencil, keterbatasan akses listrik, teknologi, dan fasilitas pengolahan masih menjadi kendala utama dalam pengembangan industri biochar skala besar.

Kurangnya Standarisasi

Hingga saat ini belum banyak standar internasional khusus mengenai kualitas biochar rumput laut, kandungan logam berat, keamanan penggunaan, maupun standar aplikasinya dalam pertanian dan remediasi lingkungan. Lehmann and Joseph (2015) menekankan pentingnya standarisasi kualitas biochar untuk memastikan keamanan dan efektivitas penggunaannya pada berbagai aplikasi lingkungan dan pertanian.

Tawaran Penelitian Biochar Rumput Laut di Masa Depan

Peluang penelitian biochar rumput laut masih memiliki ruang sangat luas untuk dikembangkan, antara lain:

  1. Optimasi suhu pirolisis,
  2. Pengembangan nano-biochar,
  3. Biochar untuk carbon trading,
  4. Integrasi biochar dengan pertanian organik,
  5. Pengembangan biochar untuk akuakultur,
  6. Kombinasi biochar dengan pupuk hayati,
  7. Serta analisis ekonomi siklus hidup (life cycle assessment).

Selain itu, integrasi budidaya rumput laut, blue carbon, dan industri biochar dapat menjadi strategi penting dalam pembangunan ekonomi pesisir berkelanjutan.

–##–

* Prof. La Ode M. Aslan adalah Guru Besar Universitas Halu Oleo dan Pemerhati Lingkungan

 

Daftar Pustaka

Aslan, L. O M. (2026) Total jenis Rumput laut (Makroalga) Indonesia. Rekapitulasi data Algabase dan Temuan Peneliti Indonesia. UHO Presss (in preparation)

Atkinson, C.J., Fitzgerald, J.D. and Hipps, N.A. (2010) ‘Potential mechanisms for achieving agricultural benefits from biochar application to temperate soils: a review’, Plant and Soil, 337(1–2), pp. 1–18.

Duarte, C.M., Wu, J., Xiao, X., Bruhn, A. and Krause-Jensen, D. (2017) ‘Can seaweed farming play a role in climate change mitigation and adaptation?’, Frontiers in Marine Science, 4, Article 100.

Fakayode, O.A., Aboagarib, E.A.A., Zhou, C. and Ma, H. (2020) ‘Co-pyrolysis of lignocellulosic and macroalgae biomasses for the production of biochar: A review’, Bioresource Technology, 297, Article 122408.

Kumar, A., Hinkley, C., Krishnan, L., Ravi, N., Akter, F., Ralph, P. and Kuzhiumparambil, U. (2024) ‘Macroalgae-based biochar: preparation and characterization of physicochemical properties for potential applications’, RSC Sustainability, 2, pp. 1828–1836.

Lehmann, J. and Joseph, S. (eds.) (2015) Biochar for Environmental Management: Science, Technology and Implementation. 2nd edn. London: Routledge.

Roberts, D.A., Paul, N.A., Dworjanyn, S.A., Bird, M.I. and de Nys, R. (2015) ‘Biochar from commercially cultivated seaweed for soil amelioration’, Scientific Reports, 5, Article 9665.

Sohi, S.P., Krull, E., Lopez-Capel, E. and Bol, R. (2010) ‘A review of biochar and its use and function in soil’, Advances in Agronomy, 105, pp. 47–82.

Yao, Y., Gao, B., Zhang, M., Inyang, M. and Zimmerman, A.R. (2012) ‘Effect of biochar amendment on sorption and leaching of nitrate, ammonium, and phosphate in a sandy soil’, Chemosphere, 89(11), pp. 1467–1471.