Oleh: Mohammad Sumiran Paputungan *

Melalui program KKN Universitas Mulawarman Tahun 2022, dilakukan kegiatan pelatihan budidaya maggot BSF kepada masyarakat Desa Jembayan, Kab. Kutai Kartanegara. Program ini diinisasi oleh Mohammad Sumiran Paputungan (dosen UNMUL), bekerja sama dengan Firman Ariandi Rahmah (praktisi budidaya maggot BSF di Kota Samarinda) dan kelompok KKN UNMUL 48 Kukar 10. Harapan kegiatan ini adalah meningkatkan minat masyarakat Desa Jembayan untuk melakukan budidaya maggot BSF.

“Kita ketahui bahwa sampah organik dapat mencemari lingkungan, baik di darat dan di lingkungan perairan. Tidak hanya itu, pembakaran sampah yang sering terjadi bisa menambah emisi gas rumah kaca di udara yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan Bumi” terang Sumiran. Salah satu cara mengelola sampah organik adalah dengan menggunakan larva lalat tentara hitam (black soldier fly atau BSF) yang dikenal dengan budidaya maggot BSF.

Sebanyak 13 peserta hadir dalam kegiatan ini berasal dari masyarakat Gang Panji RT 01 Desa Jembayan. Mayoritas dari mereka beraktivitas sebagai pembudidaya ikan dan petani. Peserta dikenalkan dengan lalat BSF dan maggot BSF, serta diberi tahu tentang siklus hidupnya, tahapan budidaya maggot, bentuk kandang lalat BSF dan biopond maggot, dan produk-produk hasil budidaya maggot BSF.

Selama berlangsungnya kegiatan, seluruh peserta menganggap bahwa maggot BSF ini sama dengan belatung (larva lalat hijau) yang berbau busuk. Selain itu, peserta juga beranggapan bahwa lalat BSF adalah sejenis lalat hama buah yang dapat merugikan petani buah apabila lalat tersebut dibudidayakan.

“Kata maggot adalah nama populer untuk menyebut larva lalat BSF. Lalat BSF sangat aman bagi manusia, karena bukan merupakan vektor penyakit dan fase lalat ini hanya memiliki waktu hidup kurang lebih 7 hari” terang Firman. Satu siklus hidup lalat BSF adalah 45 hari, yang mana fase maggot memiliki waktu selama 15-18 hari. Fase maggot BSF inilah yang dimanfaatkan untuk mengurai sampah organik. “Penguraian sampah organik oleh maggot BSF ini berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan pengolahan sampah organik dengan konsep pengomposan yang memakan waktu hingga berbulan-bulan” jelas Firman.

Beberapa contoh sampah organik yang dapat dijadikan sebagai pakan maggot BSF adalah sampah sisa makanan seperti nasi, roti, daging, ikan, buah-buahan yang memiliki kadar air yang tinggi seperti semangka, dan sayuran. “Sampah organik yang telah mengalami proses pembusukan dan telah dihaluskan terlebih dahulu akan lebih mudah dikonsumsi oleh maggot BSF” jelas Firman.

Hasil budidaya maggot BSF adalah dapat menjadi pakan alternatif atau suplemen untuk ikan peliharaan atau yang dibudidaya, ternak ayam ataupun hewan unggas lainnya. Selain itu, hasil sampah yang telah diurai oleh maggot yang dinamakan kasgot (bekas maggot) dapat dijadikan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Oleh karena itu semua bagian dari hasil budidaya maggot BSF memiliki nilai manfaat, sehingga tidak ada yang kembali menjadi produk sampah.
Ketertarikan masyarakat terhadap maggot BSF terlihat di akhir pelatihan. Beberapa peserta ada yang langsung mempraktekkan manfaat maggot yaitu dengan menebarkan beberapa maggot hidup ke dalam kolam budidaya ikan miliknya. Bahkan ada beberapa peserta lain yang membawa pulang 1-gram telur maggot yang telah disediakan untuk mencoba melakukan pembesaran maggot di rumah mereka.

Kegiatan sosialisasi budidaya maggot BSF semacam ini perlu ditinggkatkan ke level praktek langsung budidaya maggot BSF untuk skala rumahan. Harapannya pengelolaan sampah organik dapat dilakukan mulai dari rumah masing-masing ataupun di tingkat RT, apalagi di desa sering ditemui banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk lahan budidaya maggot BSF. Lebih lanjut lagi, bentuk dukungan dari pemerintah sangat diperlukan terhadap masyarakat pelaku budidaya maggot BSF karena telah melakukan pengelolaan sampah organik yang membantu mengurangi masalah pencemaran sampah.

–##–

* Mohammad Sumiran Paputungan adalah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman