Melestarikan kawasan yang penting bagi keanekaragaman hayati akan melindungi stok karbon yang penting guna mencegah krisis iklim.

Dengan menggunakan data baru dan pendekatan analitis baru, UN Environment Programme World Conservation Monitoring Centre (UNEP-WCMC) dan mitra menemukan manfaat besar dari upaya mengintegrasikan aksi konservasi alam dan aksi perubahan iklim.

Laporan UNEP-WCMC berjudul “Strengthening Synergies” menyimpulkan, mencapai target konservasi keanekaragaman hayati global pasca-2020 dengan melestarikan 30% wilayah di lokasi-lokasi yang strategis, dapat melindungi 500 Gigaton (Gt) karbon yang tersimpan dalam vegetasi dan tanah – setengah dari cadangan karbon daratan dunia – sekaligus mengurangi risiko kepunahan 9 dari 10 spesies darat yang terancam punah.

Laporan yang diluncurkan Jum’at, 13 November 2020 dalam acara UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) “Race to Zero Dialogues” tersebut menyatakan, mengkoordinasikan aksi pelestarian keanekaragaman hayati di wilayah prioritas dan wilayah yang memiliki cadangan karbon adalah kunci untuk memenuhi tujuan ambisius tersebut.

Menurut UNEP-WCMC, wilayah-wilayah konservasi prioritas ini dapat memberikan hasil maksimal untuk mencapai tujuan keanekaragaman hayati sekaligus mengatasi krisis perubahan iklim.

Menurut laporan UNEP-WCMC, memprioritaskan kawasan untuk kepentingan konservasi, dengan menghitung manfaat keanekaragaman hayati dan cadangan karbon, dapat menghasilkan manfaat keanekaragaman hayati hingga 95% dan mengamankan cadangan karbon hingga 80%, dibanding jika hanya memprioritaskan salah satu tujuan saja.

Tim peneliti menyoroti keterkaitan mendasar antara krisis perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Mereka menekankan pentingnya pendekatan yang lebih terintegrasi untuk mengatasi kedua masalah tersebut. Upaya yang dikenal sebagai solusi berbasis alam atau nature based solutions ini juga harus mengakui hak atas tanah masyarakat adat dan komunitas lokal.

“Alam berperan penuh dalam upaya mengatasi krisis iklim. Kontribusi penuh alam terhadap mitigasi perubahan iklim, selaras dengan tujuan konservasi keanekaragaman hayati,” ujar Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

Laporan UNEP-WCMC mengidentifikasi wilayah – yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi – yang paling penting untuk diprioritaskan menjadi solusi iklim berbasis alam.

Wilayah-wilayah tersebut adalah: Hutan Atlantik di Brasil, sebagian besar bioma di Mesoamerika, Mediterania dan Asia Tenggara, wilayah Pantai Afrika Barat, Papua Nugini dan hutan hujan di Australia Timur. Wilayah lain yang memiliki cadangan karbon yang besar termasuk dataran rendah di selatan Teluk Hudson, hutan hujan Amazon dan Lembah Kongo.

“Perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah krisis kembar yang harus ditangani bersama, dengan ambisi dan tindakan terintegrasi.

“Laporan ini menyoroti lokasi di seluruh dunia di mana konservasi lahan dapat sangat membantu untuk menjaga stok karbon tersimpan dengan aman dan meningkatkan perlindungan bagi spesies yang terancam punah,” ujar Valerie Kapos, salah satu penulis laporan ini dan Kepala Bidang Perubahan Iklim dan Keanekaragaman Hayati di UNEP-WCMC .

Bulan November ini menandai satu tahun menuju KTT Perubahan Iklim PBB (COP26), yang akan diselenggarakan di Glasgow tahun depan. Inggris akan bermitra dengan Italia menyelenggarakan COP26 ini.

Pada 12 Desember 2020, Inggris, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Prancis akan menjadi tuan rumah bersama “Climate Ambition Summit” bersama Italia dan Chili, yang sekaligus menjadi peringatan kelima tahun Perjanjian Paris.

Temuan dari laporan ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dunia atas keterkaitan upaya konservasi keanekaragaman hayati dan aksi iklim menjelang dimulainya “Dekade Restorasi Ekosistem” dan “Dekade Aksi Perserikatan Bangsa-Bangsa” untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (2021-2030).

Redaksi Hijauku.com