Laju kepunahan melonjak drastis. Ancaman kepunahan ini terutama dialami oleh spesies atau sub-spesies yang memiliki populasi di bawah 1000 individu. Data ini diambil dari hasil penelitian terbaru yang diterbitkan oleh Jurnal PNAS awal Juni ini.

Tim peneliti yang terdiri dari Gerardo Ceballos, Paul R. Ehrlich, dan Peter H. Raven menyimpulkan, tingkat kepunahan spesies di dunia saat ini ratusan kali lipat lebih tinggi dari tingkat kepunahan spesies normal.

Dalam kondisi normal, dengan menganalisis jumlah spesies yang sudah punah dalam 2 juta tahun terakhir, tim peneliti menyimpulkan, akan ada 2 dari 10.000 spesies yang akan punah setiap 100 tahun. Dengan kata lain, dalam kondisi normal, dari tahun 1900 and 2050 akan ada 9 spesies yang punah dari 29.400 vertebrata yang dievaluasi oleh tim peneliti.

Kenyataannya, tim peneliti menemukan fakta yang sangat berbeda. Alih-alih hanya 9 spesies yang punah, dunia telah menyaksikan 543 spesies hewan bertulang belakang atau vertebrata (seperti burung dan mamalia) hilang dari muka bumi sejak tahun 1900. Tim peneliti menemukan, laju kepunahan spesies saat ini, 117 kali lebih tinggi dibanding kondisi normal. Sehingga tim peneliti memperkirakan, akan ada kepunahan massal sebanyak 1.058 spesies di 2050.

Kepunahan Massal

Spesies apa yang akan punah? Tim peneliti menemukan fakta yang memprihatinkan. Sebanyak 94% dari 543 spesies yang telah punah tersebut adalah mamalia (sebanyak 77 spesies) dan burung yang populasinya di bawah 1000 individu. Tim peneliti menyebut golongan spesies-spesies ini sebagai spesies “on the brink“.

Setidaknya ada 515 spesies vertebrata di darat (1,7% dari jumlah spesies vertebrata yang dievaluasi), memiliki populasi di bawah 1000 individu. Di Indonesia, badak sumatra dan harimau sumatra masuk dalam kategori “on the brink” ini.

Kepunahan massal pada 2050 ini menurut tim peneliti adalah kepunahan massal yang keenam yang dipicu oleh aktivitas manusia yang terus merusak lingkungan dan ekosistem, seperti alih guna lahan, perdagangan tumbuhan dan satwa liar ilegal serta eksploitasi lingkungan.

“Kerusakan keanekaragaman hayati terus berlangsung, satu kepunahan akan memicu kepunahan selanjutnya,” tulis mereka. Kepunahan ini menurut tim peneliti juga akan merusak daya dukung alam terhadap kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Redaksi Hijauku.com