Ketika dunia terhuyung-huyung akibat pandemi virus  yang menyebabkan kekacauan global, kondisi ini dimanfaatkan untuk melindungi krisis kerusakan hutan hujan dataran rendah yang terletak di timur laut Kawasan Ekosistem Leuser, Aceh Timur. Penyelidik lapangan Rainforest Action Network telah mengungkap adanya aktivitas pembakaran hutan ilegal di dalam wilayah yang sangat penting bagi habitat salah satu kawanan terakhir gajah Sumatera yang tersisa di dunia pada bulan April 2020. Penggunaan api untuk membakar hutan merupakan tindakan melanggar hukum Indonesia, dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kebijakan Nol Deforestasi dari perusahaan produsen makanan kecil, diantaranya Unilever, Nestlé, PepsiCo, Mondelēz, General Mills, Kellogg’s, Mars, dan Hershey.

Pembukaan dan pembakaran habitat satwa liar yang kritis ini terjadi di dalam konsesi perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Indo Alam yang diketahui menyuplai minyak sawit kepada merek-merek besar di pasar global. PT. Indo Alam telah berulang kali terungkap melakukan deforestasi terakhir kali pada bulan Juli 2019 dan Mei 2019, RAN telah meminta perusahaan merek-merek yang disebutkan di atas untuk mengeluarkan PT. Indo Alam dari daftar suplai mereka atas dasar pelanggaran kebijakan Nol Deforestasi dan sebagai langkah untuk membangun sistem pemantauan hutan yang proaktif dan transparan untuk Kawasan Ekosistem Leuser.

Lebih dari 530 hektar hutan hujan dataran rendah akan tetap terancam di dalam wilayah konsesi PT. Indo Alam, hingga saat ini lebih dari 130 hektar hutan di dalam konsesi PT. Indo Alam telah ditebangi sejak pemerintah Indonesia memberlakukan moratorium pembukaan hutan untuk kelapa sawit, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta mantan Gubernur Aceh sepakat untuk menegakkan moratorium di Kawasan Ekosistem Leuser.

Alih-alih mematuhi moratorium yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia dan kebijakan perusahaan merek-merek besar yang telah memosisikan diri sebagai pembeli minyak kelapa sawit yang dihasilkannya ketika kelapa sawit yang ditanamnya siap dipanen, PT. Indo Alam yang dikendalikan oleh Lukman CM, seorang pengusaha dan politikus senior Aceh ini malah berupaya untuk menebangi hutan yang penting secara global di dalam konsesinya.

Hutan yang telah dibakar untuk membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit. Lokasi GPS N 4°32’42.8″ E 97°39’25.7 and N 4°32’49.0″ E 97°39’15.3

PT. Indo Alam memang masih dalam tahap awal pengembangan perkebunan kelapa sawit baru. Perusahaan ini membersihkan dan membakar hutan hujan dengan harapan bahwa dalam beberapa tahun mendatang perusahaan akan dapat menjual tandan buah sawit yang telah dihasilkannya ke pasar global, termasuk kepada perusahaan pembeli minyak sawit seperti Unilever, Nestlé, PepsiCo, Mondelēz, General Mills, Kellogg’s, Mars dan Hershey. Padahal merek-merek ini telah berkomitmen secara publik untuk menghentikan semua sumber yang terhubung dengan penghancuran hutan yang tak ternilai secara ekologis di Kawasan Ekosistem Leuser, dan dalam banyak kasus juga telah berkomitmen untuk menghilangkan deforestasi dari rantai pasok minyak sawit mereka pada tahun 2020. Kasus terbaru ini menunjukkan bahwa sekali lagi, merek-merek ini masih belum mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah deforestasi di Kawasan Ekosistem Leuser.

Citra satelit menggambarkan pembukaan hutan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Indo Alam pada bulan Februari 2020.  

“Perusahaan merek dunia ini harus segera membangun sistem pemantauan hutan proaktif yang bisa mendeteksi dan merespons deforestasi di dalam Kawasan Ekosistem Leuser”, Direktur Kebijakan Hutan Rainforest Action Network, Gemma Tillack menegaskan. RAN juga mendorong agar merek-merek ini perlu mengkomunikasikan posisi ‘Tidak Membeli’ mereka kepada PT. Indo Alam, sehingga manajemen perusahaan bisa memahami pilihan yang harus diambil. “Merek-merek ini juga harus mengkomunikasikan PT. Indo Alam terkait komitmen berikut opsinya: Perusahaan dapat terus membakar dan membersihkan hutan hujan dan secara permanen dikeluarkan dari pasar global, atau mempertahankan opsi untuk tetap menjadi pemasok bagi perusahaan mereka dengan menghentikan penghancuran hutan hujan,” tukas Gemma.

Gemma juga menambahkan bahwa PT. Indo Alam juga seharusnya bisa melakukan penilaian yang diperlukan untuk mengidentifikasi kawasan hutan yang wajib disisihkan untuk perlindungan di dalam konsesinya, dan bisa beroperasi dengan kepatuhan penuh terhadap praktik Nol Deforestation, Nol Pembangunan di Gambut, dan Nol Eksploitasi.

Hutan yang telah dibakar untuk membuka jalan bagi perkebunan kelapa sawit Indo Alam.

Sementara itu wilayah lain Kawasan Ekosistem Leuser, eskalasi deforestasi mengkhawatirkan juga terjadi di dalam hutan hujan Singkil Bengkung yang menjadi ‘ibukota orangutan dunia,’ kawasan dengan keanekaragaman hayati paling kaya dan memainkan peran yang sangat besar dalam menyimpan karbon pengendali perubahan iklim.

Meski pada akhir tahun 2019 RAN mengungkap skandal merek makanan global utama yang membeli minyak sawit yang diproduksi secara ilegal di dalam Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang dilindungi secara nasional dan banyak merek besar memberi tanggapan serta bersumpah untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mengakhiri pembukaan lahan gambut dengan memutuskan hubungan dengan pemasok mana pun yang ditemukan menjadi bagian dari rantai pasok di kawasan ini, namun tim investigasi RAN masih menemukan perusakan hutan hujan oleh PT. Indo Sawit Perkasa sejak Februari hingga April 2020.

Data yang ditemukan menunjukkan bahwa perusahaan ini tidak berhenti melakukan pembukaan hutan, dan malah mengeruk keuntungan di tengah kondisi wabah ini untuk terus merusak hutan yang tersisa, mengurangi sekitar 124 hektar hutan yang berada di konsesinya pada akhir Februari 2020 menjadi hanya tinggal 44 hektar pada akhir Maret 2020. Padahal beberapa peneliti mengungkapkan bahwa deforestasi dan kerusakan lahan untuk perkebunan telah mengurangi habitat yang tersedia untuk satwa liar, kondisi ini kemudian meningkatkan interaksi manusia-satwa liar hingga selanjutnya dapat mempromosikan interaksi patogen dan inang hewan, faktor-faktor yang berkontribusi pada munculnya zoonosis, penyakit menular disebabkan oleh virus, bakteri, parasit, dan jamur yang ditularkan antara manusia dan hewan lainnya.

–##–