Smoke plume - Walter BaxterPolusi udara terus menggerogoti kesehatan masyarakat terutama dalam sepuluh tahun terakhir.

Penelitian terbaru yang dipresentasikan dalam Acute Cardiac Care Congress 2013 menemukan, polusi udara meningkatkan serangan jantung pada laki-laki, penduduk lanjut usia (lansia) dan pasien yang sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit.

Walaupun kebijakan polusi udara dan lingkungan sudah banyak diterapkan di berbagai negara, dampak polusi udara masih terus menjadi masalah besar bagi masyarakat. Hal ini diungkapkan oleh Dr Savina Nodari peneliti dari Brescia, Italia.

Menurut Dr Savina, penelitian di Eropa dan Amerika Serikat telah melaporkan keterkaitan antara polusi udara – terutama polusi partikel-partikel yang sangat halus yang diukur dalam PM10 (partikel dengan ukuran hingga 10 mikron) – dengan gangguan pernafasan akut, penyakit kardiovaskular dan bahkan kematian prematur.

Laporan Hijauku.com sebelumnya menyebutkan, polusi udara mencabut 200.000 nyawa setiap tahun di Amerika Serikat. Polusi juga meningkatkan risiko kanker paru-paru. Di China, polusi karbon hitam menyebabkan 500.000 kematian prematur setiap tahun. Sementara Asia menjadi wilayah dengan korban polusi udara terbesar di dunia.

Uni Eropa telah menetapkan standar PM10 sebesar 50 mikrogram/m3. Namun standar ini menurut Dr Savina tidak cukup. “Dampak negatif dari PM10 terhadap sistem kardiovaskular bisa terjadi walau standar polusi udara lebih tinggi dari yang sudah ditetapkan di Eropa,” tuturnya.

PM10 adalah ukuran umum bagi polusi udara dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Dalam penelitiannya Dr Savina menemukan keterkaitan antara peningkatan polusi PM10 dan kasus penyakit kardiovaskular akut di masyarakat.

Saat polusi PM10 naik sebesar 10 mikrogram, jumlah penduduk yang menderita gangguan kardiovaskular meningkat sebesar 3%. Data ini diambil dari catatan penderita penyakit kardiovaskular dan rata-rata konsentrasi PM10 di Brescia dalam periode 2004-2007.

Brescia adalah salah satu wilayah industri terbesar di Italia Utara. Data dari Lembaga Lingkungan Eropa (European Environmental Agency, EEA) menyebutkan, wilayah ini memiliki tingkat polusi PM10 rata-rata melampaui batas aman 50 mikrogram/m3. “Tingkat polusi yang tinggi ini berdampak buruk bagi kesehatan jantung masyarakat,” ujar Dr Savina.

Tim peneliti juga menemukan bahwa penduduk lanjut usia (>65 tahun) dan mereka yang berjenis kelamin laki-laki paling banyak menderita sindrom koroner akut saat polusi udara meningkat. Temuan lain, saat level polusi udara naik, jumlah pasien yang sebelumnya pernah menderita penyakit kardiovaskular juga naik. Dalam penelitian yang lain polusi udara juga memicu alergi dan asma.

“Untuk itu perlu adanya perhatian lebih untuk melindungi pasien yang telah berusia lanjut, yang memiliki catatan serangan jantung dari ancaman polusi udara, sehingga mereka bisa terhindar dari gangguan jantung,” tuturnya dalam berita European Society of Cardiology. “Penelitian sebelumnya mengungkapkan, polusi udara bisa meningkatkan penyakit kardiovaskular karena polusi PM10 bisa berdampak buruk, menimbulkan rasa terbakar bagi jantung dan memicu pengentalan darah.”

Solusinya adalah menaikkan standar polusi udara PM10 saat ini dari 50 mikrogram/m3 menjadi 20-30 mikrogram/m3 atau lebih tinggi lagi. “Polusi itu dampaknya seperti kolesterol – semakin tinggi polusi, semakin berbahaya bagi kesehatan manusia,” simpul Dr Savina. Kajian mengenai polusi udara di Indonesia bisa dibaca dalam tautan berikut ini. Jangan pernah meremehkan polusi udara.

Redaksi Hijauku.com