Oleh: Jalal

Ada sebuah adegan kecil di pertengahan Hoppers, film animasi terbaru Pixar yang ditayangkan di seluruh dunia mulai 6 Maret 2026, yang di antara segala kegilaan premisnya, terasa paling menusuk. Mabel Tanaka, seorang mahasiswi berusia sembilan belas tahun yang kini tengah bersemayam di dalam tubuh robot berang-berang, duduk di tepi kolam bersama Raja George, seekor berang-berang tambun yang karismatik dan sedikit terlalu percaya diri. Dengan nada yang lebih serius dari biasanya, George berkata, “Rumah hewan. Rumah manusia. Sesungguhnya semua itu hanya satu tempat tinggal bersama yang besar.” Kalimat sederhana itu, yang diucapkan seekor makhluk animasi berbulu dengan suara Bobby Moynihan, terdengar seperti ringkasan dari apa yang telah gagal dipahami umat manusia selama berabad-abad.

Hoppers adalah film animasi sains fiksi komedi buatan Pixar Animation Studios, disutradarai oleh Daniel Chong dan ditulis oleh Jesse Andrews. Chong, yang sebelumnya dikenal lewat serial kartun We Bare Bears, membawa sensibilitas cerita yang hangat namun sangat menggigit ke dalam kisah ini—sebuah kepekaan yang agaknya jarang terasa di animasi besar Hollywood belakangan ini. Dikembangkan selama enam tahun, film ini menampilkan pengisi suara Piper Curda, Bobby Moynihan, Kathy Najimy, Jon Hamm, Dave Franco, dan Meryl Streep.

Premisnya sangat menarik, walau tak sepenuhnya original: para ilmuwan telah menemukan cara untuk ‘melompatkan’ kesadaran manusia ke dalam hewan-hewan robot yang tampak nyata, sehingga memungkinkan komunikasi langsung antara manusia dan satwa. Mabel, sang protagonis, memanfaatkan teknologi itu untuk menyelidiki mengapa koloni berang-berang di hutan kesayangannya tetiba menghilang. Hutan itu hendak ‘dibersihkan’ oleh wali kota setempat, Jerry Generazzo, yang berencana membangun jalan bebas hambatan melalui kawasan tersebut. Apakah ini tidak terdengar seperti Avatar yang diciutkan menjadi film yang cocok untuk seluruh keluarga? Ya, dan skenario Jesse Andrews bahkan secara langsung menyinggung hal tersebut sebagai sebuah lelucon yang gagal disangkal oleh karakter Dr. Sam.

Namun di sinilah Pixar, pada momen terbaiknya, selalu melampaui ekspektasi. Ia mengambil premis yang bisa saja menjadi sekadar lelucon selama seratus menit, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih bermakna. Dan, saya sangat mensyukurinya.

Dari sudut pandang keberlanjutan lingkungan, Hoppers adalah sebuah pernyataan yang berani, bahkan, pada saat-saat tertentu, hampir terlalu berani untuk ukuran film keluarga. Bagaimana tidak? Ketika kita berpindah sisi bersama Mabel, kita pun bisa merasakan betapa tidak peduli atau bahkan jahatnya manusia. Atas nama pembangunan infrastruktur, rumah hidup banyak spesies digusur tanpa ampun.

Film ini secara eksplisit menyebut berang-berang sebagai spesies kunci yang memainkan peran krusial dalam membentuk ekosistem, dan ini bukan sekadar sebagai metafora. Tim produksi melakukan riset lapangan yang sungguh-sungguh: mereka melakukan perjalanan ke Yellowstone, ke Colorado bersama pakar berang-berang Dr. Emily Fairfax, ke Fort Collins, bahkan ke Oakland Zoo. Hasilnya terasa. Dunia yang dipindahkan ke layar perak terasa benar-benar hidup secara ekologis, bukan sekadar set dekorasi hijau yang dimaksudkan untuk membuat penonton merasa bahwa mereka peduli lingkungan karena sudah menonton film ini.

Mabel berulang kali mengajukan pertanyaan yang menjadi jantung film: “Mengapa tidak ada orang lain yang peduli?” Pertanyaan itu, dalam satu tarikan napas, mengungkap kelelahan moral dari setiap aktivis lingkungan yang pernah merasa berteriak ke dalam kekosongan. Tetapi, bagusnya, Chong tidak mengizinkan Mabel menjadi pahlawan yang bersih. Ia keras kepala, impulsif, dan hasilnya terkadang melukai orang dan hewan di sekitarnya demi keyakinannya sendiri. Film ini tidak membuat kisah hitam-putih: Mabel harus belajar tentang pentingnya keseimbangan, bukan sekadar memenangkan pertempuran. Di sinilah Hoppers melampaui banyak film fabel alam yang generik. Ia tidak puas hanya menempatkan alam sebagai korban dan manusia sebagai penjahat. Relasi manusia-alam, ditegaskan di sini, adalah sebuah negosiasi yang terus menerus dan tak pernah selesai.

Nilai sosial film ini terpancar dari ikatan antargenerasi yang dibangun dengan cermat. Perkembangan karakter Mabel sangat dipengaruhi oleh dukanya atas kehilangan neneknya, dan bagaimana kesedihan itu memengaruhi seluruh kehidupannya sehari-hari. Neneknya adalah yang pertama mengajarkan Mabel bahwa alam bukan sekadar pemandangan, melainkan sebuah komunitas yang memiliki hak untuk dihormati, sebuah suara yang menunggu didengarkan. Ada sesuatu yang sangat kontemporer dalam cara film ini menggambarkan bagaimana kecintaan terhadap alam bisa diwariskan, bukan melalui khotbah, melainkan melalui kehadiran, melalui duduk bersama di tepi hutan dan diam-diam mengamati rusa yang merumput dan bangau mendarat di permukaan air.

Solidaritas, yang dalam film ini diwujudkan sebagai koalisi antar-spesies yang benar-benar kacau namun mengharukan, adalah nilai ketiga yang terus-menerus dirayakan oleh Chong. Tema mendasar film ini adalah bahwa satu-satunya jalan menuju keselamatan adalah ketika semua pihak bekerja bersama semua pihak lain, dari berang-berang hingga rusa, dari burung raja hingga serangga. Pada tingkat yang lebih dalam, ini sangat terasa sebagai metafora gerakan sosial, yaitu bahwa tidak ada satu kelompok yang bisa menyelamatkan ekosistem sendirian. Ini jelas bukan pesan baru, tetapi cara Chong menyampaikannya, melalui dewan hewan yang kacau, perdebatan tentang cara melindungi ekosistem yang lucu, dan aliansi yang terbentuk dari keterpaksaan bukan dari idealisme. Semua, bagi saya, terasa segar, jujur, dan relevan dengan strategi gerakan keberlanjutan.

Dari perspektif ekonomi-politik, tokoh Wali Kota Jerry Generazzo adalah karikatur yang tajam namun tidak sepenuhnya sederhana. Jon Hamm mengisi suara Jerry dengan dua wajah yang licin, tetapi penampilannya mengembangkan lapisan-lapisan yang lebih dalam seiring berjalannya cerita. Jerry bukanlah monster; ia hanyalah produk dari sistem yang mengukur kemajuan dengan panjang jalan dan angka pertumbuhan ekonomi. Jalan bebas hambatan yang ia rencanakan adalah simbol pembangunan yang mengorbankan modal alam—istilah yang digunakan para ekonom ekologis untuk menggambarkan kekayaan yang tersimpan dalam ekosistem yang sehat: air bersih, udara segar, penyerapan karbon, perlindungan banjir. Semua yang disediakan oleh hutan yang ingin dilindungi Mabel itu gratis, dan dinikmati setiap saat. Dan semua itu tidak pernah masuk ke dalam kalkulasi anggaran kota.

Tentu saja, saya tak mau bilang Hoppers itu sempurna. Beberapa kritikus menilai pesan lingkungannya terasa terlalu keras dalam penyampaiannya, kritik yang juga pernah dialamatkan kepada WALL-E. Babak kedua memang agak kehilangan arah di tengah kelimpahan lelucon surrealis yang tidak semuanya berhasil membuat gelak tawa. Dan ada kalanya Mabel, sebagai protagonis, terasa terlalu terlindungi dari konsekuensi nyata atas pilihan-pilihannya. Namun demikian, advokasi lingkungan film ini pada akhirnya mendarat pada pesan yang tak terbantahkan tentang bagaimana manusia dan hewan dapat hidup berdampingan dengan harmonis.

Secara visual, animasi Hoppers luar biasa, dengan karakter-karakter yang dirancang penuh ekspresi, meski sebagian kritikus yang saya baca merasa gaya visualnya malah lebih dekat ke Dreamworks daripada ke Pixar klasik. Mark Mothersbaugh menggarap musik film ini, sementara SZA menulis dan membawakan lagu penutup “Save the Day.” Keduanya memberikan dimensi emosional yang penting. Mothersbaugh menjaga ketegangan tanpa dramatisasi berlebihan, sementara SZA menutup film dengan nada optimisme yang tidak naif.

Hoppers adalah film yang lucu, membuat sulit berpaling, dan memiliki kecepatan bertutur yang baik tentang kehidupan, alam, dan tempat kita yang kecil di alam semesta yang luas. Namun, yang paling berkesan bukan kelucuannya, bukan animasinya yang memukau, bukan pula daftar pengisi suaranya yang gemilang. Yang paling berkesan adalah keberanian film ini untuk meminta penonton baik anak-anak maupun orang dewasa untuk benar-benar duduk dengan pertanyaan yang tidak nyaman: apa yang kita korbankan ketika kita memilih membangun infrastruktur di atas ekosistem? Apa yang hilang ketika koloni berang-berang menghilang dari apa yang tadinya adalah ekosistemnya? Dan siapa yang harus kita minta bertanggung jawab ketika tidak ada lagi yang peduli? Semua keunggulan film ini, termasuk dan terutama pertanyaan-pertanyaan pentingnya membuat nilai Rotten Tomatoes 93% (kritikus) dan 94% (penonton), ketika tulisan ini saya buat, sangat layak diperoleh.

Pesan yang disampaikan Hoppers mendesak dan jelas: pentingnya melindungi masa depan lingkungan dan seluruh makhluk berbulu, bersisik, dan berbulu yang mendiaminya. Di era ketika komitmen terhadap keberlanjutan semakin sering menjadi retorika tanpa substansi—sekadar diucapkan di podium konferensi atau seminar lalu dilupakan di ruang rapat yang benar-benar mengambil keputusan—ada sesuatu yang menguatkan hati dalam melihat sebuah studio animasi besar berani berkata, kepada jutaan penonton di seluruh dunia: ini rumah kita bersama. Dan kita belum terlambat untuk menjaganya.

Menurut saya, Hoppers adalah karya Pixar terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Bukan lantaran ia sempurna, melainkan karena ia paling berani.

–##–

Jakarta, 12 Maret 2026 15:40