Alih-alih mendanai pemulihan ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan paska pandemi COVID-19, negara-negara anggota G20 yang terdiri dari – Argentina, Australia, Brasil, Kanada, China, Uni Eropa, Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat dan Indonesia – masih terus memberikan subsidi ke industri bahan bakar fosil, penyebab krisis lingkungan, kesehatan dan krisis iklim.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru berjudul “Still Digging: G20 Governments Continue to Finance the Climate Crisis” yang dirilis, Rabu, 27 Mei 2020. Laporan ini menyatakan, negara-negara anggota G20 masih terus memberikan stimulus sebesar $77 miliar (Rp1.128 triliun) per tahun ke proyek-proyek minyak, gas dan batu bara sejak Kesepakatan Paris/Perjanjian Paris terwujud.

Nilai stimulus yang mereka berikan ke industri bahan bakar fosil ini tiga kali lipat lebih banyak dibanding dukungan terhadap energi baru dan terbarukan (EBT). China, Jepang, Kanada dan Korea Selatan menjadi negara anggota G20 dengan jumlah stimulus ke industri bahan bakar fosil terbanyak, yaitu dua pertiga dari seluruh stimulus yang diberikan anggota G20.

“Negara-negara G20 terus menyubsidi industri bahan bakar fosil walau mereka mengetahui hal itu adalah keputusan bisnis yang buruk, yang merugikan masyarakat dan memicu bencana iklim,” ujar Kate DeAngelis, analis senior kebijakan internasional dari Friends of the Earth U.S.

“Industri bahan bakar fosil tahu nyawa mereka tak lama lagi. Pelobi dari industri fosil memanfaatkan krisis COVID-19 ini untuk mengamankan bantuan pemerintah dalam skala besar, agar mereka bisa selamat,” ujar Bronwen Tucker, analis di Oil Change International.

Menurut Tucker, dengan mendukung dan mendanai industri bahan bakar fosil, pemerintah hanya akan mempercepat munculnya krisis besar baru yaitu krisis iklim. Padahal pemerintah seharusnya membangun masa depan yang lebih aman bagi pekerja, masyarakat dan lingkungan, bukan sebaliknya.

Seruan Dokter dari Seluruh Dunia

Sehari sebelumnya, 26 Mei, lebih dari 350 organisasi yang beranggotakan 40 juta pekerja kesehatan dan 4500 praktisi kesehatan dari 90 negara, menulis surat terbuka kepada pemerintah G20 agar mereka menciptakan dan mendukung pemulihan yang lebih sehat paska COVID-19, menggunakan tagar #HealthyRecovery.

Dalam surat terbuka tersebut mereka menyeru pemerintah G20 agar membersihkan polusi udara yang selama ini mencabut 7 juta nyawa per tahun, mencegah deforestasi dan krisis iklim yang berpotensi memunculkan ancaman krisis kesehatan baru terutama di kalangan rentan seperti balita dan golongan lanjut usia.

Para pekerja dan praktisi kesehatan meminta pemerintah G20 mengalihkan subsidi bahan bakar fosil ke pengembangan industri energi baru dan terbarukan yang bisa menciptakan lapangan kerja dan lingkungan yang lebih aman, lebih sehat dan lebih bersih.

Upaya meningkatkan dan melindungi kesehatan masyarakat juga harus menjadi inti kebijakan G20 di sektor-sektor kunci selain di sektor energi yaitu di sektor transportasi dan sektor pertanian. “Kebijakan stimulus Anda harus mendukung aksi-aksi tersebut,” tulis mereka mengingatkan, agar krisis baru tak lagi memburu.

Redaksi Hijauku.com