Setiap tahun, sejak 2010, Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme/UNEP) terus meluncurkan laporan tahunan yang berisi kajian berbasis sains atas kesenjangan (gap) capaian pengurangan emisi dan kinerja aktual pengurangan emisi.

Laporan tersebut diperlukan agar dunia sadar atas kinerja iklim mereka dan beraksi untuk mencegah kenaikan suhu bumi di atas 2°C pada akhir abad ini dibanding masa sebelum revolusi industri. Mencegah kenaikan suhu bumi di atas 2°C juga menjadi tujuan dari Perjanjian Paris yang juga mendorong target yang lebih ambisius yaitu mencegah kenaikan suhu bumi di atas 1.5°C.

Hasil pemantauan kesenjangan emisi gas rumah kaca PBB tahun ini: emisi GRK dunia terus meningkat bahkan terus mencetak rekor kenaikan baru tanpa ada tanda-tanda untuk berakhir. Hasilnya: suhu bumi terus naik, temperatur musim dingin di benua Arktika tercatat lebih tinggi 3°K dibanding suhu pada 1990.

Negara-negara anggota G20, penyumbang 80% emisi GRK global dianggap gagal berkomitmen mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi emisi GRK, sehingga target Kesepakatan/Perjanjian Paris terancam gagal. Peringatan ini tercantum dalam bab berjudul “Bridging the Gap: Enhancing Mitigation Ambition and Action at G20 Level and Globally” dalam Emissions Gap Report 2019 yang diluncurkan menjelang UN Climate Action Summit 2019.

G20 beranggotakan Argentina, Australia, Brasil, Kanada, China, Uni Eropa, Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat dan Indonesia.

Emisi GRK telah naik 1,6% per tahun dari 2008 hingga 2017, mencetak rekor tertinggi 53,5 Gitaton setara CO2 pada 2017, termasuk emisi yang bersumber dari alih guna lahan. Temuan awal dalam laporan Emissions Gap Report 2019 mengindikasikan konsentrasi emisi GRK terus naik di 2018.

Namun krisis iklim yang dipicu oleh kenaikan konsentrasi GRK bukan tanpa solusi. Laporan PBB menggarisbawahi solusi dari “kemajuan teknologi dan ekonomi, yang memungkinkan dunia mengurangi emisi karbon (dekarbonisasi) terutama dari sektor energi, dengan biaya terendah sepanjang sejarah.”

Peluang ini diantaranya adalah menghentikan proses pembangunan semua pembangkit listrik tenaga uap batu bara dan infrastruktur energi fosil lainnya, menciptakan standar pembangkit listrik yang bersih (clean power plant) serta pengenaan biaya atas karbon (carbon pricing) guna menciptakan listrik yang 100% bebas karbon.

Dampaknya, laporan ini juga menggarisbawahi manfaat dari aksi iklim yang ambisius. Tidak hanya mendorong perkembangan teknologi, aksi iklim juga mampu membawa manfaat pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

Analisis dari Global Commission on the Economy and Climate memperkirakan manfaat ekonomi senilai $26 triliun dari saat ini hingga 2030 yang mampu menciptakan 65 juta lapangan kerja di 2030. Manfaat yang tidak kalah penting, aksi ini akan mampu mencegah 700.000 kematian prematur akibat polusi udara dalam periode yang sama.

Laporan yang diluncurkan UN Office for Disaster Risk Reduction pada Oktober 2018 menyebutkan kerugian ekonomi langsung (direct economic losses) akibat bencana mencapai $2.908 miliar dari 1998-2017. Dari angka tersebut kerugian ekonomi bencana yang terkait iklim mencapai $2.245 miliar atau 77% dari kerugian total.

Aksi perubahan iklim secara jelas mampu, tidak hanya mencegah kerugian namun juga menciptakan perekonomian yang berkelanjutan. Masihkan kita terjebak pada basa-basi tanpa solusi?

Redaksi Hijauku.com