Pembangunan jalan yang tidak mempertimbangkan kelestarian alam di Asia berpotensi menurunkan populasi harimau dan satwa mangsanya hingga lebih dari 20%. Data ini terungkap dari hasil penelitian terbaru berjudul “Road development in Asia: Assessing the range-wide risks to tigers“, yang diterbitkan di Jurnal ScienceAdvances baru-baru ini.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Neil Carter dari School for Environment and Sustainability, University of Michigan menganalisis dampak potensial dari pembangunan jalan sepanjang 1.160.000 km2, di 13 negara, terhadap populasi harimau (Panthera tigris), spesies kunci yang terancam punah.

Tim peneliti menemukan, selama ini, pembangunan jalan terjadi secara masif, merangsak masuk hingga ke habitat-habitat harimau. Setidaknya 134.000 km jalan telah dibangun melintasi wilayah perlindungan harimau dan taman nasional. Jaringan jalan tersebut melintasi 43% wilayah perkembangbiakan harimau dan sebanyak 57% wilayah konservasi harimau berada dalam wilayah yang terdampak pembangunan jalan itu.

Hasilnya, menurut tim peneliti, jaringan jalan tersebut diperkirakan akan mengurangi populasi harimau dan satwa mangsanya sebesar lebih dari 20%. Masih ada 24.000 km jaringan jalan baru yang akan di bangun di wilayah konservasi harimau hingga 2050. Jalan-jalan ini dibiayai oleh proyek investasi skala besar, misalnya proyek investasi Belt and Road Initiative (BRI) yang dibiayai China.

Tim peneliti menyatakan, pembangunan jalan ini akan memberikan tantangan besar terhadap upaya pemulihan populasi harimau pada masa datang, sehingga tim peneliti menganjurkan agar pembangunan jalan ini dilakukan secara ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Tim peneliti menegaskan, jalan berpotensi membatasi pergerakan satwa liar dan mengurangi keragaman genetik mereka. Jalan juga berpotensi membunuh satwa liar yang tertabrak kendaraan bermotor ketika melintas. Selain itu, jalan juga membuka akses ke wilayah terpencil sehingga memfasilitasi perkembangan pemukiman penduduk yang memicu eksploitasi sumber daya alam, termasuk perburuan satwa liar ilegal.

Keberadaan jalan dan kendaraan yang melintasinya juga akan mengganggu satwa liar dengan polusi suara, polusi cahaya dan polusi gerak yang mengurangi kualitas habitat satwa di sekitar jalan raya.

Redaksi Hijauku.com