Scooter air pollution - Robert Z Ziemi - PixabaySatu dari tujuh anak di dunia terpapar polusi udara dengan tingkatan beracun. Mereka menghirup polusi udara yang levelnya enam kali lipat – bahkan lebih – di atas batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini terungkap dalam laporan terbaru UNICEF yang diterbitkan hari ini, Kamis 31 Oktober 2016.

Laporan berjudul “Clear the Air for Children” ini untuk pertama kalinya menggunakan data pencitraan satelit guna menunjukkan jumlah anak-anak yang terpapar polusi udara di atas batas aman WHO dan lokasinya di seluruh dunia.

Menurut UNICEF, polusi udara adalah salah satu penyebab kematian utama dari 600.000 anak yang berusia di bawah 5 tahun dan mengancam jutaan anak lainnya di seluruh dunia.

Data pencitraan satelit menunjukkan, 2 miliar anak hidup di wilayah dengan tingkat polusi udara yang melampaui batas aman WHO. Jumlah anak-anak yang tinggal di wilayah dengan tingkat polusi minimal enam kali lipat dari batas aman WHO mencapai 300 juta orang. Mereka terpapar polusi kendaraan bermotor, pembakaran bahan bakar fosil, polusi debu dan polusi dari pembakaran sampah.

Jumlah terbanyak anak-anak yang terpapar polusi udara berada di wilayah Asia Selatan dengan 620 juta anak-anak. Sementara di wilayah Asia Timur dan wilayah Pasifik jumlahnya mencapai 450 juta anak-anak.

Selain polusi udara luar ruang, laporan ini juga menganalisis dampak polusi dalam ruang bagi anak-anak dari keluarga miskin di wilayah pedesaan. Sumber polusi udara dalam ruang kebanyakan berasal dari pemakaian bahan bakar kotor untuk memasak dan pemanas ruangan seperti batu bara dan kayu.

UNICEF menyimpulkan, kedua jenis polusi ini berdampak langsung pada merebaknya penyakit pneumonia dan penyakit pernafasan yang lain yang menyebabkan kematian 1 dari 10 anak di bawah lima tahun. Anak-anak bernafas lebih cepat dibanding orang dewasa, karena paru-paru mereka masih belum berkembang.

Perkembangan otak dan sistem imun anak yang belum sempurna juga menyebabkan anak-anak sangat rentan jika terpapar polusi udara. Anthony Lake, Direktur Eksekutif UNICEF menyatakan, “Polutan tidak hanya merusak perkembangan paru-paru anak tapi juga masuk ke dalam peredaran darah dan merusak perkembangan otak mereka. Ini yang akan merusak masa depan mereka,” ujarnya dalam siaran pers UNICEF.

Untuk itu, UNICEF menyeru dunia melakukan empat hal guna menyelamatkan anak-anak dari polusi udara. Pertama; negara harus memangkas polusi udara agar memenuhi batas aman WHO. Caranya adalah dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, meningkatkan efisiensi energi dan pemakaian energi terbarukan.

Kedua; memermudah akses ke layanan kesehatan termasuk imunisasi dan kampanye peningkatan pengetahuan, pencegahan dan penyembuhan pneumonia (penyebab utama kematian anak-anak di bawah usia lima tahun).

Ketiga; mengurangi risiko paparan polusi langsung terhadap anak-anak dengan penggunaan energi bersih, pengelolaan sampah dan tata ruang yang lebih baik. Dari sis tata ruang, letak pabrik misalnya, harus jauh dari lokasi belajar dan bermain anak-anak. Pengelolaan sampah yang baik bisa mengurangi praktik pembakaran sampah di lingkungan sekitar yang merusak kesehatan anak-anak.

Keempat; melakukan pengawasan atau monitoring yang lebih baik terhadap polusi udara. Upaya ini harus disertai dengan penyampaian informasi yang lebih baik ke masyarakat melalui beragam kanal informasi dan aplikasi, agar anak-anak, kaum muda, keluarga dan komunitas bisa terhindar dari polusi udara beracun. “Dengan menjaga kualitas udara, kita juga menjaga hidup anak-anak kita. Keduanya penting bagi masa depan,” ujar Lake.

Redaksi Hijauku.com