School of Tuna - FAO - Danilo CedronePeningkatan keasaman air laut (ocean acidification) memerparah efek pemanasan global yang menjadi penyebab perubahan iklim.

Hal ini terungkap dalam analisis Peter Friederici, dari Northern Arizona University yang diterbitkan dalam Yale Environment 360.

Analisis ini didasarkan atas hasil penelitian terbaru tim ilmuwan dari Amerika Serikat, Inggris dan Jerman yang telah dimuat dalam jurnal Nature Climate Change baru-baru ini.

Menurut hasil penelitian ini, peningkatan keasaman air laut tidak hanya memicu kerusakan ekosistem laut seperti terumbu karang yang mengancam habitat binatang laut, namun juga memicu turunnya produksi bahan sulfur penting bernama dimethylsulphide atau DMS. Penyebab peningkatan keasaman air laut ini adalah naiknya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer.

Melalui penelitian dalam ekosistem air laut yang terkontrol yang dikenal dengan nama mesocosms, tim peneliti menyimpulkan, DMS yang dihasilkan oleh samudera adalah sumber alami emisi sulfur dalam atmosfer terbesar. Emisi sulfur dalam atmosfer berperan penting memantulkan energi dan radiasi matahari kembali ke angkasa sehingga bumi terhindar dari efek pemanasan global.

Tim peneliti menemukan, saat air laut semakin asam karena menyerap terlalu banyak emisi CO2, produksi emisi DMS akan terus turun. Dengan menciptakan kondisi keasaman air laut setara dengan prediksi keasaman air laut pada tahun 2100, tim peneliti menyimpulkan produksi DMS akan turun hingga 18%.

Laporan Hijauku.com sebelumnya menyatakan, peningkatan emisi CO2, mengganggu kelestarian sumber daya perikanan laut dan keamanan pangan penduduk di negara-negara kepulauan, termasuk di Indonesia.

Sementara penelitian ini adalah penelitian pertama yang berhasil membuktikan keterkaitan antara peningkatan keasaman air laut dengan potensi penurunan aerosol sulfur dioksida yang berfungsi melindungi bumi dari radiasi sinar matahari.

Redaksi Hijauku.com