Kematian prematur akibat polusi udara meningkat tiga kali lipat dalam 10 tahun. Korban terbanyak ada di wilayah Asia. Hal ini terungkap dari berita yang dirilis Centre for Science and Environment (CSE) pertengahan bulan lalu (14/12).

CSE mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia terbaru berjudul Global Burden of Disease (GBD) yang menempatkan polusi udara sebagai salah satu penyebab utama kematian dunia.

Menurut laporan GBD, 65% kematian akibat polusi udara terjadi di Asia dan hampir seperempatnya terjadi di India. Kondisi ini, menurut CSE sangat mengkhawatirkan terutama saat pertumbuhan ekonomi dan pemanfaatan mesin-mesin untuk industri dan transportasi tengah tumbuh di Asia.

Menurut laporan GBD, polusi udara adalah satu dari 10 pembunuh paling berbahaya di dunia. Di Asia Selatan, polusi udara menempati posisi keenam pembunuh paling berbahaya, di bawah polusi dalam ruang, yang menempati posisi kedua pembunuh paling berbahaya di wilayah ini.

Laporan GBD ini disusun oleh 450 ahli dan sejumlah mitra termasuk Institute of Health Metrics and Evaluation, World Health Organization, University of Queensland, Australia, Johns Hopkins University, Harvard University dan Health Effects Institute.

Dari laporan ini juga terungkap fakta-fakta lain yang mengejutkan. Berdasarkan data terbaru, polusi udara menyebabkan 3,2 juta kematian di seluruh dunia.

Angka ini meningkat dari 800.000 kematian pada tahun 2000 – atau naik 300%. Analisis jumlah korban terbaru ini dihitung dari tingkat polusi partikulat di daratan dengan menggunakan teknologi pengindraan satelit dan model penyebaran kimia guna mengetahui dampak polusi udara terhadap populasi penduduk dunia.

Selain penyakit akibat polusi udara, penyakit-penyakit mematikan lain di Asia Selatan adalah: tekanan darah tinggi, penyakit karena aktivitas merokok, polusi dalam ruang, diabetes dan kekurangan konsumsi buah dan sayuran (kurang dari 600 gram setiap hari). Menurut WHO kekurangan konsumsi sayur dan buah menyebabkan 2,635 juta kematian setiap tahun akibat risiko penyakit jantung, stroke dan kanker.

Menurut CSE, polusi luar ruang sangat berbahaya karena berdampak pada semua kalangan, penduduk miskin maupun kaya. Menurut perkiraan GBD, lebih dari 2,1 juta kematian prematur dan 52 juta tahun umur sehat hilang pada 2010 akibat kenaikan konsentrasi polusi udara di Asia.

Di Asia Timur, jumlah kematian prematur akibat polusi udara mencapai 1,2 juta jiwa, sementara di Asia Selatan (termasuk India) mencapai 712.000 jiwa. Jumlah ini lebih tinggi dari jumlah kematian prematur akibat polusi udara gabungan di negara anggota Uni Eropa, negara di Eropa Timur dan Rusia yang mencapai 400.000 orang.

Redaksi Hijauku.com