Peralihan ke ekonomi hijau bukan suatu ilusi. Korea Selatan berhasil membuktikan manfaatnya.
Di bawah kepemimpinan Presiden Lee Myung-bak, Korea berhasil beralih ke ekonomi yang ramah alam dan berkelanjutan ini.
Negara ini berhasil tumbuh dengan dukungan ekonomi hijau (green growth). Kunci pertama kesuksesan Korea beralih ke ekonomi hijau adalah terciptanya “kesepakatan hijau baru” atau “green new deal” dimana pemerintah mengalokasikan sekitar 80% paket stimulus untuk mendukung sektor ekonomi ramah lingkungan termasuk upaya melindungi ekosistem seperti hutan.
Kunci kesuksesan kedua, Korea telah menetapkan rencana pembangunan jangka panjang (seperti Repelita di Indonesia) dengan berfokus pada Rencana Pertumbuhan Hijau atau Green Growth Plan dalam jangka waktu lima tahun.
Rencana ini sudah berlangsung dan akan selesai pada tahun depan (2013). Korea mengalokasikan dana sebesar US$90 miliar di sektor-sektor yang terkait dengan perubahan iklim dan energi ramah lingkungan dengan berfokus pada dua strategi utama yaitu pengembangan teknologi dan transportasi ramah lingkungan (green technology and transportation).
Korea Selatan saat ini telah memanen manfaat peralihan ke pola pembangunan yang berkelanjutan ini. Pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang bisa memenuhi kebutuhan penduduk pada masa kini dan masa mendatang pada saat yang sama bisa melestarikan lingkungan.
Contoh keberhasilan Korea beralih ke pola pembangunan yang berkelanjutan adalah kesuksesan penerapan kebijakan EPR (Extended Producer Responsibility). Kebijakan ini mengharuskan produsen mempertimbangkan semua faktor dalam proses produksi mereka agar bisa mengurangi dan mendaur ulang sampah.
Dengan kebijakan tersebut, dalam lima tahun, Korea mendapatkan manfaat ekonomi senilai lebih dari US$1,6 miliar dan berhasil membuka 3000 lapangan kerja ramah lingkungan baru.
Korea juga berhasil memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 450.000 ton per tahun dan saat ini lebih dari 80% sampah padat di perkotaan berhasil didaur ulang dan tidak dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Kebijakan ramah lingkungan Korea ini juga memicu investasi dalam bidang energi terbarukan. Investasi ini mengubah tempat pembuangan sampah menjadi pembangkit energi hijau yang tidak hanya bisa memangkas gas rumah kaca lebih besar namun juga bisa mengurangi ketergantungan Korea atas impor minyak.
Dengan semua kebijakan tersebut, Korea telah membuktikan bahwa transisi ke ekonomi hijau bisa dilakukan dalam skala nasional.
Salah satu lembaga yang selama ini menggaungkan peralihan ke ekonomi hijau adalah Program Lingkungan PBB (UNEP). Achim Steiner, Direktur Jenderal UNEP, dalam pidatonya membuka Green Growth Summit di Seoul, Korea Selatan, Kamis (10/5) menyatakan, pola pertumbuhan ekonomi dalam dua abad terakhir telah meningkatkan kelangkaan sumber daya alam, merusak lingkungan dan memicu pengangguran.
Menurutnya, keberhasilan Korea beralih ke sistem pembangunan yang berkelanjutan harus diikuti oleh negara-negara lain untuk memaksimalkan manfaat ekonomi hijau bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat.
Menurut Steiner dengan menerapkan pola pertumbuhan baru ini, dunia akan bisa menciptakan 300.000 lapangan kerja baru pada 2020 salah satunya dengan melipatgandakan produksi energi bersih dan terbarukan.
Redaksi Hijauku.com
dimana bisa mendapatkan blueprint dari kebijakan resmi pemerintah korea mengenai green new deal? mohon beritahu link nya. terima kasih