Oleh: Swary Utami Dewi *

Aku beruntung bisa meluangkan waktu selama satu jam untuk mendatangi Telaga Biru Samares di Biak. Telaga ini merupakan salah satu tempat wisata alam utama di Biak. Letaknya di Kampung Sepse, Kecamatan Biak Timur, Kabupaten Biak. Dengan mobil kita menempuh waktu sekitar satu jam lebih melewati jalan berkelok-kelok. Jalan ke sana beraspal cukup bagus. Jalan ini cukup sempit dan hanya cukup untuk satu mobil. Jika mobil berpapasan maka harus ada satu yang mengalah mencari tempat parkir sesaat.

Sepanjang jalan yang turun naik berbukit bukit aku mendapati kawasan hutan lindung yang menyatu dengan tebing tinggi. Letaknya di sebelah kiri. Banyak ditemui pohon tua menjulang tinggi dan berdiameter cukup besar. Di sebelah kanan sesekali kita melewati bagian pantai berpadu dengan pepohonan di sekitar yang juga cukup lebat.

Sampai di dekat telaga, nampak hutan lebat di sekitar. Hutan hujan tropis yang masih didominasi berbagai pohon besar dan tinggi. Bau hutan tercium tajam. Aku menemukan beberapa pohon besar menjulang tinggi. Akarnya bergulir dan beberapa sudah menjuntai ke bawah. Aku menyempatkan diri berfoto di dekat sebuah pohon beringin besar.

Sementara di sebelah kanan, terdengar deburan ombak yang cukup kencang menghantam karang. Pantai ini memang langsung menghadap laut lepas.

Jalan menuju telaga dari batu semen. Sesaat aku menaiki tangga, lalu datar dan menurun. Di pinggir jalan, beberapa pohon besar yang menjulang tinggi nampak kokoh anggun seakan menunjukkan jati dirinya. Sesaat kemudian, terbentang telaga biru yang indah. Benar-benar berwarna biru bening. Agak berkilau diterpa mentari jelang sore hari. Telaga ini nampak cukup dalam. Serasah dan dasar terlihat jelas. Ada sebatang kayu besar tumbang agak di tengah, membuatnya bisa jadi pijakan bagi mereka yang berenang.

Sudah bisa kukira, saat melihat keindahan itu aku terpukau, lalu menjerit girang sesaat. Seakan tak hendak menunda waktu, seorang kawan langsung menceburkan diri, berenang di telaga biru yang tak seberapa luas tersebut. “Dingin..” jerit kawanku itu. “Airnya asin…” lanjutnya. Meski demikian, ia tetap asyik lanjut berenang.

Masyarakat setempat percaya bahwa kandungan air telaga berkhasiat awet muda. Beberapa pengunjung yang saat itu datang juga menceburkan diri berenang. Aku sendiri memilih menikmati kesejukan alami hutan hujan tropis yang jarang kudapatkan.

Menurut kepercayaan masyarakat Sepse yang tinggal di sekitar telaga, kandungan dari air tersebut memiliki khasiat awet muda. Konon, ranting-ranting dan batang mati yang ada di dalamnya sudah ada sejak zaman leluhur marga Sepse. Benda-benda tersebut tidak lapuk dan rusak dimakan waktu. Percaya atau tidak, terserah Anda

Hanya satu yang mengganggu mataku. Di beberapa tempat ada tumpukan sampah pengunjung. Botol plastik, kemasan dan sampah lainnya. Sedih melihatnya. Semoga saja ekowisata pantai biru ini bisa lebih terjaga kebersihannya, sehingga pengunjung bisa lebih nyaman datang untuk belajar tentang ekosistem hutan hujan tropis ini, sekaligus menikmati keindahan telaga biru tersebut.

–##–

* Swary Utami Dewi adalah anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial