Tentang Keberlanjutan, Gairah, dan Tujuan Mulia.
Oleh: Jalal
Malam itu, 11 Mei 2026, di bawah langit Arizona yang hangat, seorang lelaki berusia 83 tahun berdiri di hadapan lebih dari 14.000 wisudawan Arizona State University. Sebelum berpidato, ia menerima gelar kehormatan Doctor of Arts and Humane Letters atas pengaruh globalnya melalui film, kontribusinya bagi kesehatan planet, dan pengabdiannya melalui penerbangan untuk tujuan kemanusiaan. Ia adalah Harrison Ford yang oleh kebanyakan orang dikenal sebagai Han Solo, Indiana Jones, juga seabreg peran lain yang terkenal. Yang tak cukup diketahui dan diapresiasi adalah bahwa sejak tiga dekade lalu, ia adalah salah satu suara paling konsisten dalam perjuangan menyelamatkan Bumi. Saya sungguh bersyukur kini peran Ford itu bakal lebih banyak diketahui dan diapresiasi setelah pidatonya di acara itu menjadi viral.
Ford tidak menggunakan pidatonya untuk bicara tentang kemonceran Hollywood. Ia memanfaatkannya untuk menjadi pengakuan seorang manusia yang pernah tersesat, kemudian menemukan jalannya. Dari penemuan itu ia menyimpulkan bahwa satu kehidupan yang penuh gairah (passion) saja tidak cukup. Setiap orang membutuhkan tujuan mulia (purpose) untuk bisa benar-benar menemukan jalan kontribusi optimal dalam hidup. Bagi Ford, tujuan mulianya adalah menjaga kesehatan planet tempat kita tinggal ini.
Pesan itu jelas relevan untuk setiap generasi, di seluruh penjuru dunia. Tapi bagi generasi muda Indonesia, pesannya bisa terasa seperti surat yang ditujukan langsung kepada kita.
Mahasiswa yang Menyia-nyiakan Hidupnya
Ford memulai pidatonya dengan pengakuan yang mengejutkan: “I was squandering my life in riotous living,” katanya tentang masa kuliahnya. Ia kemudian mendaftar ke kelas drama semata-mata demi nilai mudah. Agaknya mustahil ada yang menyangka bahwa keputusan oportunistik seorang mahasiswa pemalas itu akan mengubah sejarah sinema dunia.
“Hiding in character, costume and makeup, I had a freedom, a bravery I had never felt before — and I got an A!” ia berseloroh. “I was, I realized, present for possibly the very first time in my life. My passion had led me to community.” Ya, dalam akting Ford menemukan gairahnya, bersama-sama dengan mereka yang juga merasakan hal yang sama.
Ini bukan sekadar anekdot lucu dari seorang selebriti. Ini adalah pengingat yang keras: gairah tidak selalu datang dengan pengumuman resmi. Ia sering kali muncul diam-diam di sudut-sudut tak terduga, di ruang kelas yang tidak direncanakan untuk diambil dengan serius, di pekerjaan sambilan yang dianggap bakal dijalani sementara, dan di percakapan yang tidak sengaja dilakukan dengan orang tak dikenal. Ford bilang ia memilih akting hanya ketika peran itu benar-benar menantangnya, sambil mengerjakan pekerjaan sebagai tukang kayu untuk menghidupi keluarga. Selama sekitar 15 tahun sebagai tukang kayu, ia hanya mengambil empat atau lima pekerjaan akting.
Agaknya, ketabahan, ketekunan, dan kesabaran itu, bukan lampu sorot yang gemerlap, yang membentuk karakter Ford.
Ketika Gairah Saja Tidak Cukup
Namun di sinilah Ford menyampaikan pembedaan yang paling dalam dari seluruh pidatonya: “Passion and purpose are not the same thing. Passion brings you joy. Purpose brings you meaning. Passion gets you out of bed in the morning, but purpose allows you to sleep at night, and I hadn’t found purpose higher than my job.”
Saya mengulang-ulang bagian itu ketika menonton videonya. Dan ketika saya sudah pindahkan jadi kalimat tertulis, saya masih membacanya berulang kali. Dengan pelan-pelan.
Saya kemudian menemukan renungan di dalam benak: betapa banyak dari kita—termasuk generasi muda Indonesia yang saat ini sedang membangun karier, merintis bisnis, atau yang masih duduk di bangku kuliah—hanya mengejar gairahnya tanpa pernah bertanya: untuk apa semua ini? Passion tanpa purpose, atau gairah yang tak dipandu oleh tujuan mulia, adalah bahan bakar tanpa peta. Ia bisa membawa kita melaju kencang, tapi tidak menjamin bakal tiba di tempat yang bermakna.
Bagi Ford, tujuan mulia itu ditemukannya ketika ia bersentuhan dengan Conservation International pada akhir 1980an. Ia berkata: “I didn’t want to be a poster boy for the cause. I wanted to be part of the work.” Atas bujukan Peter Seligman yang menjadi sobat karibnya, ia lalu bergabung sebagai anggota dewan organisasi itu sekitar 35 tahun lalu, dan itulah alasan mengapa ia berdiri di hadapan para wisudawan: untuk mewakili alam, sumber dari kehidupan itu sendiri.
Pesan Conservation International yang membangkitkan kesadaran Ford atas tujuan mulia hidupnya sangatlah sederhana namun revolusioner: “Nature doesn’t need people. People need nature to survive.” Ia ucapkan dalam pidatonya dengan kekuatan luar biasa, benar-benar terasa bahwa kalimat itu keluar dari kepercayaan yang ditempa selama beberapa dekade memerjuangkannya.
Dia yang Memarahi Menhut Zulhas
Sebelum membicarakan keberlanjutan dalam pidatonya, saya ingin kembali ke satu episode yang setiap orang Indonesia perlu tahu, lantaran ia secara harfiah terjadi di tanah kita sendiri.
Tahun 2013, Harrison Ford hadir di Indonesia untuk mengambil gambar bagi film dokumenter iklim Years of Living Dangerously yang dibuat oleh dan ditayangkan melalui Showtime. Ia mengunjungi Taman Nasional Tesso Nilo di Sumatera, dan melakukan serangkaian wawancara dengan pejabat tinggi, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.
Wawancara Ford dengan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mencuri perhatian publik Indonesia dan seluruh dunia. Ketika itu, sang menteri benar-benar terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan tajam Ford soal deforestasi. Belakangan, menurut sang menteri, Ford benar-benar emosional ketika jawaban yang ia cari tak sungguh-sungguh ia dapatkan. Hingga sekarang, potongan wawancara itu masih menarik perhatian banyak orang.
Atas situasi tak mengenakkan tersebut, Ford dan timnya sempat dituduh mengganggu institusi negara, bahkan konon diancam deportasi setelah wawancara. Namun Ford tidak gentar. Ia juga mengunjungi Projek Restorasi dan Konservasi Lahan Gambut Katingan di Kalimantan Tengah, dan mengangkat pentingnya pelestarian hutan gambut: “The most remarkable and precious thing about this jungle is right under our feet. What we’re walking on isn’t mud, it’s a thick layer of compressed, decaying vegetation called peat. Many of Indonesia’s forests sit on peat. And peat is full of carbon.” Begitu pernyataannya yang banyak dikutip media massa.
Ia juga mengunjungi Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng yang dikelola Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, di mana ia menyaksikan seluruh proses rehabilitasi orangutan. Di situ ia mengungkapkan keprihatinannya tentang orangutan yang telah lulus dari sekolah hutan, namun tidak bisa dilepaskan ke alam liar karena tidak tersedianya habitat yang sesuai akibat kerusakan hutan.
Ini bukanlah turis yang berkunjung untuk foto-foto, walau foto-fotonya di Indonesia terkenal di sekujur jagad. Ini adalah seorang aktivis yang hadir untuk meminta pertanggungjawaban, sekaligus seorang patron organisasi besar yang membawa banyak sumberdaya buat solusi atas beragam tantangan konservasi negeri ini.
Rasa Bersalah dan Optimisme
Kembali ke pidatonya di ASU 2026, Ford tidak datang dengan optimisme palsu. Ia mendorong para wisudawan untuk merawat Bumi ini karena dunia yang sekarang adalah dunia yang penuh tantangan. Dalam pengakuan mea culpa-nya, Ford bilang “The world my generation left you is a real mess.” Bagi saya, kalimat itu bukan retorika. Ia adalah pengakuan bersalah dari sebuah generasi, sekaligus pelimpahan tanggung jawab yang jujur.
Di pidato itu juga, Ford menyatakan: “We have an essential mandate to protect 30% of the world’s land and sea by 2030 to prevent the mass extinction, to slow the warming of our planet. Still, despite new science, new policies, we are still losing nature to profiteering, corruption, conflict, including land that is already protected on paper. These efforts matter, but they’re not enough. We need cultural change.”
“Kita membutuhkan perubahan budaya.” Itu yang ia tekankan. Bukan sekadar perubahan kebijakan. Bukan pula hanya teknologi baru. Perubahan budaya. Dan, bagi Ford, perubahan budaya itu dimulai dari orang-orang muda yang menemukan tujuan mulia mereka masing-masing.
Pesan yang Relevan untuk Indonesia
Ford menyerukan keadilan lingkungan, keadilan sosial, dan perlindungan komunitas-komunitas adat dengan benderang: “These communities have long understood that the trees, the mountain, water, soil are not commodities, they are relatives to be cherished.” Terdengar seperti pesan dari film Pocahontas, tetapi siapa yang bisa menyangkalnya? Memang tak semua masyarakat adat ada pada tingkat kesadaran praktik konservasi yang setara. Namun, dibandingkan kita yang ‘modern’, jasa mereka dalam memelihara Bumi jelas jauh di atas kita semua.
Di Indonesia—negeri dengan hutan tropis terluas ketiga di dunia, dengan keanekaragaman hayati yang tak tertandingi, dengan masyarakat adat yang telah menjaga hutan selama berabad-abad—kalimat itu seharusnya bergetar sangat kuat dan dalam. Kita adalah bangsa yang memiliki modal alam yang luar biasa. Tapi kita juga adalah bangsa yang, seperti dicatat oleh Ford ketika ia berdiri di lahan gambut Kalimantan dan hutan Sumatera, sedang kehilangan warisan itu dengan kecepatan yang memilukan. Kita sudah sempat berhasil mengerem kerusakan itu, tetapi di tahun lalu kita menyaksikan perluasan deforestasi lagi.
Seperti disampaikan dalam pengantar gelar kehormatannya di ASU, Ford telah lebih dari tiga dekade menjadi suara terdepan dalam perlindungan planet ini, membantu mengarahkan perhatian global pada urgensi perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan hubungan vital antara alam dan kehidupan manusia. Itu semua adalah isu-isu yang luar biasa penting diperhatikan bila Indonesia ingin survive, apalagi bila kita ingin thrive.
Bagi generasi muda Indonesia yang memasuki dunia kerja terutama dunia bisnis, Ford punya pesan spesifik: keberlanjutan bukan tren. Ia adalah the operating system dari peradaban yang ingin bertahan. Perusahaan-perusahaan yang hari ini mengabaikan dampak lingkungan dan sosial sedang membangun di atas fondasi yang retak. Sebaliknya, mereka yang memahami bahwa tujuan bisnis yang sejati adalah menciptakan nilai bagi semua pemangku kepentingan, bukan hanya pemegang saham, sedang membangun masa depan yang kokoh.
Menyerahkan Tongkat Estafet
Ford menutup pidatonya dengan kata-kata yang saya yakin bakal dikenang seluruh dunia hingga beberapa dekade ke depan: “Find a place for yourself. Whatever talent or ambition you have, find some way to put it to work. Build something that didn’t exist yesterday. Stand up for someone who can’t stand up for themselves. Bring people together that weren’t talking before. That’s leadership. That’s what moves the needle.”
Kemudian ia melanjutkan: “Because what could be worse than getting to the end of your life and realizing that you haven’t fully lived it?” Lalu: “You made wise choices, followed through with the work. I celebrate your commitment, the combined success of all of you. The potential of your entire generation, that is what gives me hope for the future,” katanya kepada para wisudawan.
Seorang lelaki 83 tahun, yang pernah menjadi mahasiswa yang menyia-nyiakan hidupnya, yang menemukan gairahnya di sudut gelap sebuah kelas drama, yang kemudian menemukan tujuan mulia hidupnya untuk mencegah hutan agar tak terbakar dan lahan gambut biar tak sekarat, berdiri di depan 14.000 anak muda dan berkata: bahwa generasi muda adalah harapan terbaik bagi Bumi.
Generasi muda Indonesia adalah pemilik hutan-hutan itu. Milik mereka pula orangutan di Kalimantan dan harimau di Sumatera, juga seluruh spesies yang luar biasa banyak di sekujur negeri. Milik mereka pula lahan gambut yang, jika terjaga, adalah salah satu penyerap karbon terbesar di dunia. Dan, milik mereka pula peluang untuk membangun ekonomi dan perusahaan yang tidak harus memilih antara kemakmuran bersama dan keberlanjutan karena yang terbaik dari keduanya sesungguhnya tidaklah bertentangan.
Ford menyarankan generasi muda untuk menemukan gairah. Tapi yang lebih kuat lagi adalah ajakan untuk menghidupkan tujuan mulia. Karena gairah membawa semangat ketika bangun pagi. Tapi hanya tujuan mulia saja— tujuan yang benar-benar terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri—itulah yang akan menentramkan jiwa ketika hendak berangkat tidur malam.
Dan, saya mengamini pesan Ford bahwa sekarang adalah masa yang perlu diraih oleh generasi muda: “This is your time. Own it.”
–##–
Langit di atas Jawa Timur, penerbangan JT 694, 14 Mei 2026 10:10
Leave A Comment