Perziarahan Intelektual dan Regenerasi Abigail Alling
Oleh: Jalal
Pada pagi tanggal 26 September 1993, seorang perempuan berusia tiga puluh empat tahun melangkah keluar dari sebuah pintu baja di gurun pasir Arizona. Lebih dari dua ribu orang berdiri di luar, menunggu. Terompet berbunyi. Seseorang menyerukan namanya. Abigail Kingsley Alling, seorang ilmuwan kelautan jebolan Universitas Yale, penjaga terumbu karang, pimpinan ilmiah dari eksperimen paling ambisius dalam sejarah ekologi tertutup—berdiri di depan mikrofon dan terengah-engah. Bukan karena emosi, meskipun emosi jelas ada. Tetapi karena udara di luar kaca itu—udara Bumi yang sesungguhnya, dengan kandungan oksigen penuh dua puluh satu persen—terasa begitu berbeda dari udara yang ia hirup selama dua tahun terakhir. Tubuhnya harus menyesuaikan diri kembali dengan atmosfer yang pernah ia tinggalkan.
“Ini adalah pengalaman yang luar biasa,” katanya, masih tersengal. “Dan sebuah perjalanan yang agung.” Katanya pada saat itu, seperti yang banyak dilaporkan media massa. ‘Luar biasa’ dan ‘agung’ adalah kata-katanya yang dipergunakannya. Tetapi, ketika saya bertemu dengan dia siang tanggal 2 April 2026 di kampus National University of Singapore, saya katakan pada Alling bahwa saya membaca entah berapa puluh artikel dan menonton banyak video soal eksperimen itu, dan kata-kata yang selalu di benak saya adalah ‘tak terbayangkan’ dan ‘gila’. Dia terbahak, dan bilang: “Ya, memang begitu.”
Eksperimen Tanpa Tanding
Biosphere 2 adalah projek ilmiah yang mustahil bisa dijelaskan dengan singkat tanpa kehilangan sesuatu yang penting. Bayangkan: sebuah struktur kaca dan baja seluas 1,27 hektare di Oracle, Arizona—sebuah miniatur Bumi yang tertutup rapat, berisi hutan hujan tropis, gurun, savana, rawa mangrove, dan sebuah laut buatan berisi satu juta galon air asin dengan terumbu karang sungguhan di dalamnya. Di dalam struktur itu, delapan ilmuwan yang menyebut diri mereka biospherian hidup dan bekerja selama dua tahun penuh tanpa pertukaran materi dengan dunia luar. Mereka menanam makanan sendiri, mendaur ulang air, dan menjaga keseimbangan atmosfer yang terus-menerus bergerak dan berubah, persis seperti yang dilakukan Bumi sejak miliaran tahun lalu. Hanya saja, ini dilakukan dalam skala yang bisa diamati, diukur, dan dipahami dalam waktu hidup manusia.
Alling bukan sekadar peserta. Ia adalah perancang dan pengelola seluruh sistem laut Biosphere 2, sebuah pencapaian yang, bahkan sebelum pintu ditutup, sudah membutuhkan bertahun-tahun penelitian lapangan di Samudra Hindia, Atlantik Selatan, dan Antartika. Perempuan yang pada awal 1980-an hidup lima tahun di Sri Lanka untuk membangun suaka mamalia laut bersama WWF dan UNEP; yang memimpin ekspedisi kapal penelitian mengelilingi Amerika Selatan untuk memelajari genetika populasi paus bungkuk; yang pada 1987 memimpin pelepasan pertama dua lumba-lumba hidung botol dari penangkaran kembali ke laut—perempuan itulah yang dipercaya untuk menciptakan dan menjaga lautan di dalam kaca.
Ini jelas bukan detail biografis yang remeh. Ini adalah kunci untuk memahami mengapa perjalanan intelektual Alling memiliki bobot yang tidak dimiliki oleh banyak ilmuwan lingkungan lainnya: ia bukan pemikir yang kemudian turun ke lapangan. Ia mungkin lebih tepat dikatakan sebagai orang lapangan yang kemudian berpikir lebih keras daripada siapapun untuk mewujudkan eksperimen itu. “Pada saat itu, bahkan orang kebanyakan belum pernah mendengar kata biosfer, apalagi memahami apa maknanya.” Begitu kata Alling kepada saya.
Dari Eksperimen ke Kesadaran
Yang paling mengubah Alling, lebih dari data, lebih dari makalah ilmiah, lebih bahkan dari dua tahun dikurung bersama tujuh manusia lain di dalam sistem yang tertutup—adalah sebuah kesadaran bahwa kesehatan dirinya, secara harfiah dan terukur, adalah cerminan dari kesehatan ekosistem di sekitarnya. Ketika kadar oksigen di dalam Biosphere 2 turun dari dua puluh satu persen menjadi empat belas koma lima persen pada tahun pertama akibat oksidasi mikroba di tanah yang diperkaya para biospherian merasakan gejalanya di tubuh mereka sendiri: kelelahan, sakit kepala, penurunan konsentrasi. Ekosistem sakit, dan manusia di dalamnya pun sakit. Hubungan itu tidak bersifat metaforis. Ia bersifat fisiologis.
Inilah yang oleh Alling kemudian disebut sebagai ‘perubahan kesadaran’, sebuah frasa yang terdengar agak terlalu spiritual untuk konsumsi jurnal ilmiah, tetapi yang sesungguhnya memiliki presisi empiris. Ketika kita hidup di dalam sistem tertutup, setiap tindakan seperti seberapa banyak kita membakar bahan bakar, seberapa dalam kita membajak tanah, berapa banyak tanaman yang kita biarkan mati, bakal memiliki umpan balik yang langsung dan terukur terhadap kualitas udara yang kita hirup keesokan harinya. Hampir tidak ada jarak antara penyebab dan akibat. Dan jelas tidak ada ruang untuk menyangkal keterhubungan itu.
Di Biosphere 1, nama yang digunakan para biospherian untuk Bumi, jarak itulah yang memungkinkan penyangkalan. Kita bisa membakar bahan bakar fosil di satu benua dan merasakan dampaknya dalam bentuk banjir di benua lain, dua dekade kemudian. Jarak temporal dan spasial yang begitu besar membuat otak manusia yang berevolusi untuk merespons ancaman langsung, bukan ancaman yang bersifat tersebar dan tertunda, sulit untuk betul-betul merasakan kegentingan situasi. Biosphere 2 menghapus jarak itu. Dan pengalaman menghilangnya jarak itulah yang Alling bawa keluar melalui pintu baja pada September 1993. Ketika ia berbicara tentang bagaimana kesehatan Bumi dan kesehatan manusia berkelindan, saya merasakan energi yang luar biasa—dan itu lantaran dia mengalaminya jauh lebih nyata dibandingkan kita semua.
Memilih Bali
Beberapa publikasi yang saya baca menyatakan bahwa transisi ke Bali bukan keputusan impulsif seorang ilmuwan yang rindu laut. Ia adalah kesimpulan yang dicapai secara bertahap, melalui satu dekade penelitian lapangan di perairan Asia Tenggara di atas kapal penelitian Heraclitus, yang melintasi Samudra Hindia dan memasuki kawasan yang oleh para biolog kelautan disebut sebagai ‘pusat keanekaragaman hayati laut dunia’: Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle. Kawasan yang mencakup perairan Indonesia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Timor-Leste, dan Malaysia ini menjadi rumah bagi lebih dari enam ratus spesies terumbu karang pembentuk batu dan lebih dari dua ribu spesies ikan. Ini adalah sebuah konsentrasi kehidupan yang tidak tertandingi di mana pun di planet ini.
Indonesia berada di jantung kawasan itu. Dan di jantung Indonesia, dalam pengertian ekologis maupun logistik, Bali memang menawarkan sesuatu yang langka. Terumbu karang yang masih relatif utuh, terutama di sekitar Pulau Menjangan di Taman Nasional Bali Barat, yang berbatasan langsung dengan komunitas nelayan yang penghidupan dan identitas budayanya terikat pada laut. Di sana pula ia menemukan nelayan-nelayan yang dulunya sudah terlibat dalam destruksi terumbu karang berbalik menjadi para pelindungnya yang paling gigih. Ini adalah kombinasi yang jarang: urgensi ekologis, keanekaragaman hayati yang tinggi, dan modal sosial komunitas yang sesungguhnya memiliki taruhan langsung terhadap kesehatan ekosistem.
Alling dan Mark Van Thillo, pasangannya yang sesama biospherian juga direktur dari Biosphere Foundation, kemudian mendirikan Biosphere Stewardship Center di Bali Barat, dan memulai apa yang mereka sebut sebagai pendekatan ridge to reef: sebuah model konservasi yang tidak berhenti di garis pantai, tetapi menelusuri seluruh daerah aliran sungai dari hutan di pegunungan hingga terumbu karang di laut lepas, karena polutan dan sedimen yang merusak terumbu karang sering kali berasal dari tempat-tempat yang jauh di daratan. Tanpa perlu menjadi penyelam, kita semua agaknya pernah menyaksikan di beragam film dokumenter atau video berita bagaimana sampah plastik dan puntung rokok menyelimuti terumbu karang.
Tantangan lainnya jauh lebih sulit dipahami mekanismenya oleh masyarakat awam. Hasil survei mereka di Taman Nasional Bali Barat yang membandingkan kondisi terumbu pada 2011 dan 2016 mengungkapkan sesuatu yang mengerikan: dalam lima tahun, tutupan karang hidup di kawasan itu menyusut, turun dari 36 menjadi 20 persen saja. Penyebab utamanya bukan jaring bom atau racun sianida, meskipun keduanya ada. Penyebab utamanya adalah pemutihan termal: air laut yang terlalu panas akibat perubahan iklim global, yang mencapai puncaknya di 32,2 derajat Celsius pada Januari 2016. Ini adalah luka yang tidak bisa disembuhkan oleh taman nasional laut mana pun, juga oleh satu negara seperti Indonesia, lantaran sumbernya bukan di dalam batas-batas taman nasional, juga melampaui batas-batas wilayah negara.
Bagi saya, di sinilah pelajaran Biosphere 2 bertemu dengan realitas konservasi abad ke-21, dan di sinilah perjalanan intelektual Alling menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar data ilmiah. Ia menawarkan sebuah kerangka cara pandang.
Kebutuhan akan Regenerasi
Gerakan keberlanjutan dan regenerasi—termasuk di Indonesia, di mana diskursus tentang green economy, blue economy, dan konservasi berbasis masyarakat kini mengisi banyak agenda kebijakan dan program LSM—sering kali terjebak dalam satu dari dua kesalahan yang berlawanan. Yang pertama adalah kesalahan teknokratis: memerlakukan krisis ekologis sebagai masalah teknis yang membutuhkan solusi teknis, di mana komunitas lokal adalah objek program, bukan subjek yang berdaulat. Yang kedua adalah kesalahan romantis: menganggap komunitas lokal sebagai penjaga alam yang naluriah bijak, tanpa mengakui bahwa tekanan ekonomi, ketidaksetaraan akses informasi, dan kerentanan terhadap eksploitasi sumberdaya jangka pendek adalah realitas yang nyata.
Alling tidak jatuh ke dalam salah satu dari keduanya. Dan pengalaman Biosphere 2-lah yang membuatnya demikian. Di dalam sistem tertutup itu, tidak ada pakar yang bisa menyelamatkan ekosistem bila orang-orang di dalamnya terus berperilaku sama. Semua anggota kru, dari dokter (Roy Walford) hingga insinyur (Van Thillo), harus menjadi pengelola aktif dari setiap bagian sistem, bukan karena ada regulasi yang mewajibkan, tetapi karena kelangsungan hidup mereka bergantung padanya. Stewardship—pengelolaan yang bertanggung jawab, yang lahir dari rasa memiliki dan pemahaman mendalam—bukanlah pilihan ideologis. Ia adalah prasyarat bagi keselamatan. Mengomentari soal bagaimana kondisi dunia belum seperti yang harapkan, Alling bilang kepada saya: “Kita butuh regenerasi, bukan saja di Alam, tetapi juga di manusia.” Agaknya kesadaran bahwa manusia, apapun perannya, adalah steward bagi Bumi dan seluruh penghuninya itulah yang merupakan prasyarat keselamatan. Kesadaran bahwa kita ada di Antroposene.
Program Friends of Menjangan yang dibangun Biosphere Foundation bersama komunitas lokal di Bali Barat adalah operasionalisasi dari pemahaman itu. Para penyelam lokal dilatih dalam teknik pemantauan karang dan penanaman ulang fragmen karang yang patah. Dipasang pelampung tambat untuk menggantikan jangkar yang merusak terumbu. Dibentuk gerakan komunitas untuk secara kolektif memiliki dan menjaga kawasan perairan yang bagi mereka bukan sekadar ekosistem, tetapi sumber penghidupan dan identitas.
Indonesia hari ini berada di persimpangan yang kritis. Dengan lebih dari 17.000 pulau, garis pantai terpanjang kedua di dunia, dan terumbu karang yang mencakup sekitar 18 persen dari seluruh terumbu karang global, negara ini adalah salah satu penjaga terakhir dari keanekaragaman hayati laut yang masih bisa diselamatkan. Namun tekanan pembangunan, eksploitasi berlebihan, dan perubahan iklim bekerja dengan kecepatan yang jauh melampaui respons kebijakan.
Dari Epistemologi ke Tindakan
Apa yang ditawarkan Alling bukanlah sebuah solusi tunggal. Ia tidak pernah mengklaim demikian. Yang ia tawarkan adalah sebuah epistemologi, sebuah cara mengetahui yang lahir dari pengalaman paling radikal yang pernah dijalani seorang ilmuwan: hidup di dalam sistem yang ia pelajari, tanpa jalan keluar, tanpa penyangkalan, tanpa jarak antara ilmuwan dan objek penelitiannya. Ketika ia menjelaskan soal epistemologi keterikatan manusia dengan Alam, saya tersenyum dan menyatakan bahwa cara pandang itu mengingatkan saya pada Pocahontas. Ia tertawa dan menyangkal dengan menunjukkan telepon selularnya: “Saya bukan Pocahontas. Pocahontas tak punya telepon.” Ketika saya membalas dengan menyatakan bahwa ia adalah Pocahontas modern, ia tertawa lebih keras. Dan kali ini ia tak menyangkal. Saya duga ia rela, atau bahkan gembira, dengan penggambaran itu.
Kita semua, pada akhirnya, hidup di dalam sistem yang kita pelajari. Bumi adalah Biosphere 1. Lautan Indonesia adalah komponen vitalnya. Dan kesehatan kita semua, baik itu kesehatan ekonomi, sosial, bahkan psikologis, adalah cerminan dari kesehatan sistem itu. Kelindan itu terus saja muncul di perbincangan kami, dan saya sama sekali tak punya keberatan apapun. Pesan ini tak pernah cukup. Dan ia optimistik bahwa majoritas manusia di Bumi ini—ia bilang setidaknya 6 dari 8 miliar—menyadari hal tersebut. Yang dibutuhkan ‘tinggal’ bagaimana memastikan tindakan-tindakan yang sesuai, sekecil apapun, agar kita semua bisa menjadi sehat kembali.
Alling pernah ditanya mengapa ia memilih Bali, bukan tempat lainnya di dunia. Jawabannya sederhana dan tanpa retorika: karena di situlah terumbu karang masih cukup hidup untuk diselamatkan, dan komunitas lokal masih cukup terikat padanya untuk mau berjuang. “Kita semua adalah biospherian,” tulisnya—sebuah kalimat yang terdengar seperti slogan, tetapi yang sesungguhnya adalah temuan ilmiah yang telah ia buktikan dengan dua tahun hidupnya. Nafas pertamanya di luar kaca, di Padang Pasir Arizona hampir 33 tahun lampau, itulah yang membawanya ke pesisir Pulau Dewata.
Singapura, 3 April 2026
Leave A Comment