Oleh: Asikin Chalifah *
Orang-orang memanggilnya dengan sebutan dokter Tari. Nama lengkapnya adalah Bintari Wuryaningsih. Perempuan kelahiran Sleman, Yogyakarta ini menyandang dua gelar sarjana dari perguruan tinggi berbeda di Yogyakarta. Satu gelar dokter, dan gelar lainnya adalah Sarjana Ekonomi (SE). Saat ini, dokter Tari bermukim dan meniti karir sebagai dokter umum di bagian UGD di salah satu Rumah Sakit (RS) Swasta di Banyuwangi, Jawa Timur.
Selain berprofesi sebagai dokter umum, dokter Tari juga memiliki perhatian dan kepedulian pada persoalan kebersihan, kesehatan dan kelestarian lingkungan, terutama persoalan pengelolaan sampah di berbagai tempat di Indonesia.
Secara pribadi, dokter Tari merasa prihatin dengan lingkungan yang terlihat kumuh serta keberadaan sampah yang berserakan dan menumpuk di mana-mana. Selain mengurangi kenyamanan dan estetika, juga dapat mencemari lingkungan dan gangguan kesehatan pada masyarakat. Untuk itu, dokter Tari bersama teman-teman yang lain pada tahu 2015 mendirikan komunitas Banyuwangi OSOJI Club yang merupakan cabang ke tujuh di Indonesia.
Pendiri komunitas OSOJI di Indonesia adalah Tsuyoshi Ashida san pada tahun 2012. OSOJI dalam bahasa Jepang dapat dimaknai sebagai kegiatan bersih-bersih. Oleh karena itu, salah satu slogan dari Banyuwangi OSOJI Club adalah Malu Buang Sampah Sembarangan (MBSS).
Untuk mengimplementasikan slogan itu, dokter Tari bersama komunitas Banyuwangi OSOJI Club secara rutin melakukan kegiatan petik sampah dua minggu sekali atau sebulan dua kali, di luar kegiatan sosialisasi tentang budaya hidup bersih dan sehat pada generasi muda di Banyuwangi mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi.
Kegiatan lain dari Banyuwangi OSOJI Club yang digerakan oleh dokter Tari adalah ikut berpartisipasi dalam program-program yang diinisiasi oleh Pemerintah Daerah (Pemda) setempat serta berkolaborasi dengan multi pihak dalam kegiatan penghijauan dan pelatihan pengolahan sampah untuk media tanam di daerah urban farming.
Di luar kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas, di bawah koordinasi dokter Tari telah dikembangkan kegiatan-kegiatan yang selama ini menjadi andalan dari Banyuwangi OSOJI Club dalam pengelolaan sampah, yakni pembuatan larutan Eco Enzyme (EE) dan pupuk organik dengan metoda komposter TAKAKURA.
Eco Enzyme (EE) adalah larutan hasil fermentasi sampah organik (sisa) buah dan sayuran segar selama 3 (tiga) bulan di daerah tropis dan 6 (enam) bulan jika dilakukan di daerah sub tropis. Eco Enzyme (EE) yang ditemukan oleh Dr.Rosukan Poompanvong dari Thailand pada tahun 1980 ini bersifat multifungsi, dapat digunakan mulai dari keperluan sehari-hari sebagai pembersih alami, untuk kesehatan sebagai obat dalam mengatasi luka dan penyakit kulit, untuk perbaikan kualitas air, udara dan tanah, hingga sebagai pupuk organik dan pestisida nabati.
Sedangkan komposter TAKAKURA adalah alat untuk membuat kompos dari bahan sampah organik pada skala rumah tangga dan komunal. Sesuai namanya, komposter ini ditemukan oleh Koji Takakura dari Jepang pada tahun 2004 ketika metoda ini digunakan untuk mengatasi persoalan sampah di Surabaya.
Komposter TAKAKURA ini sangat sesuai untuk mengatasi sampah organik dari rumah tangga atau sumbernya, sehingga diharapkan dapat meminimalisir sampah yang dibuang ke TPS 3R atau ke TPA.
Seperti diketahui, dari total timbulan sampah organik di Indonesia, sebagian besar berasal (38 %) dari sampah organik rumah tangga, selebihnya adalah dari kawasan (16 %), pasar (16 %) perkantoran (3 %) perniagaan (7 %) fasilitas publik (5 %) dan sampah lainnya (15 %).
Kompos sudah bisa diaplikasikan setelah cacahan sampah organik difermentasi dengan starter kompos dan disemprot dengan mikro organisme lokal (MOL) selama 2 minggu di keranjang TAKAKURA dan 2 minggu lagi untuk pematangan dalam suatu wadah atau karung.
Kelebihan dari kompos yang di buat dengan metoda komposter TAKAKURA ini adalah kompos dalam kondisi kering, tidak becek dan tidak berbau. Selain mengurangi timbulan sampah organik, penggunaan kompos juga membantu memperbaiki “lahan-lahan sakit” yang selama ini terdegradasi karena penggunaan pupuk anorganik dan pestisida kimia secara terus menerus dalam kurun waktu yang lama.
Sebagai awalan dalam melakukan kegiatan pengelolaan sampah dari sumbernya, dokter Tari bersama Banyuwangi OSOJI Club mencoba menggugah kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga dengan mengedukasi, melakukan sosialisasi dan melalui kegiatan pelatihan. Setidaknya menyangkut beberapa hal utama dalam pengelolaan sampah yang di sampaikan oleh dokter Tari pada ibu-ibu rumah tangga.
Pertama, melakukan kegiatan memilah, memilih dan mengolah sampah rumah tangga yang berbasiskan pada penerapan prinsip-prinsip 3R (reuse, reduce dan recycle).
Kedua, mengubah kebiasaan praktek kumpul, angkut dan buang (KAB) sampah rumah tangga ke TPS 3R atau ke TPA.
Ketiga, menanamkan konsepsi sirkular ekonomi (ekonomi melingkar) dari sampah yang terlihat kotor dan menjijikan sebagai bahan baku yang dapat di olah menjadi produk-produk yang memiliki kemanfaatan atau bernilai ekonomi.
Keempat, praktek pengolahan sampah rumah tangga terutama sampah organik menjadi larutan Eco Enzyme (EE) dan pupuk organik (kompos) dengan metoda komposter TAKAKURA dan biokonversi magot lalat tentara hitam (Black Soldier Fly).
Dengan penguasaan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dalam pengolahan sampah rumah tangga, dokter Tari hingga kini sering diundang sebagai nara sumber di daerah Banyuwangi dan di berbagai tempat di Indonesia. Tidak mengherankan kalau dokter Tari telah banyak mengantongi sertifikat dan berbagai penghargaan di lingkup pengelolaan sampah.
Pertama kali bertemu dengan dokter Tari adalah di kegiatan SILATNAS Bank Sampah (BS) kedua di Kaliurang, Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, dokter Tari terlihat sebagai pribadi yang low profile, penuh canda dan mudah bergaul.
Tidak heran dalam waktu sekejap langsung berbaur dan berbincang-bincang dengan beberapa peserta SILATNAS Bank Sampah (BS) kedua yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
Tiada kata yang dapat disampaikan kecuali ucapan selamat dan maju terus untuk dokter Tari bersama komunitas Banyuwangi OSOJI Club dalam membantu merawat bumi dan lingkungan yang lestari melalui perjuangan penyelesaian persoalan sampah di Indonesia.
Kasongan, Bantul, Yogyakarta, 1 Agustus 2022
–##–
* Asikin Chalifah adalah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (PERHIPTANI), Daerah Istimewa Yogyakarta dam Pembina Rumah Literasi (RULIT) WASKITA, Kedungtukang, Brebes, Jawa Tengah. Tulisan ini adalah artikel kedua dalam seri “Perempuan-Perempuan Hebat dalam Pengelolaan Sampah di Indonesia”.
Leave A Comment