Pensiunnya sebuah skenario emisi (RCP8.5) bukan berarti krisis iklim telah selesai. Tantangan besar justru semakin menghadang. Perjuangan mengatasi krisis iklim dalam skenario baru terus menuntut perhatian serius. 

Oleh: Jalal

Kalau kita belajar dari retorika para pendusta iklim, ada sebuah kebiasaan lama dalam penyangkalan yang biasa mereka lakukan: ambil detail teknis yang rumit, sederhanakan secara brutal, lalu umumkan kemenangan ke seluruh dunia. Pada pertengahan Mei 2026, Presiden Donald Trump melakukannya lagi lewat akun Truth Social-nya. “The United Nations TOP Climate Committee just admitted that its own projections (RCP8.5) were WRONG! WRONG! WRONG!” tulisnya, dengan estetika huruf kapital yang khas. Bagi saya, yang membuat pernyataan ini sangat berbahaya bukanlah karena ia sepenuhnya mengada-ada. Ia mengambil sepotong kebenaran ilmiah yang memang sah, lalu menggunakannya untuk membangun kesimpulan yang sama sekali tidak berdasar.

Mari kita mulai dari yang benar dulu. Representative Concentration Pathway (RCP) 8.5 adalah skenario emisi yang pertama kali dipublikasikan sekitar 2011 untuk digunakan dalam laporan penilaian IPCC. Angka 8.5 merujuk pada gaya radiasi tambahan sebesar 8,5 watt per meter persegi pada tahun 2100, yang setara dengan pemanasan sekitar 4–5 derajat Celsius di atas level pra-industri. Skenario ini dirancang untuk merepresentasikan ujung tertinggi dari kemungkinan masa depan emisi, yaitu sekitar persentil ke-90 dari rentang skenario yang tersedia pada saat itu. Ia bukanlah prediksi atau ramalan, melainkan penjelajahan terhadap kemungkinan terburuk yang masih bisa kita hadapi.

Masalahnya, sebagian komunitas ilmu iklim, dan mungkin sebagian besar media massa memerlakukannya secara keliru sebagai skenario ‘business as usual‘ yang paling mungkin terjadi. Ini adalah kegagalan komunikasi antara komunitas pemodelan energi yang mengembangkan skenario dan komunitas ilmu iklim yang menggunakannya. Kegagalan komunikasi yang mahal: selama lebih dari satu dekade, ribuan makalah dan artikel di media massa menggunakan RCP8.5 seolah ia adalah gambaran dunia jika kita tidak melakukan apa-apa. Padahal, bahkan tanpa kebijakan iklim sekalipun, projeksi emisi global pada tahun 2100 pada skenario itu tidak pernah sungguh-sungguh masuk akal.

Kritik terhadap penggunaan berlebihan RCP8.5 sudah bergulir sejak lama. Pada 2017 misalnya, Justin Ritchie dan Hadi Dowlatabadi memertanyakan apakah penggunaan batubara yang sangat tinggi dalam RCP8.5 bahkan mungkin secara fisik mengingat volume cadangan batubara dunia yang ada dan faktor ekonomis dari pemanfaatannya. Pada 2020, Zeke Hausfather dan Glen Peters menulis di jurnal Nature bahwa sudah saatnya ilmuwan berhenti menggunakan skenario terburuk sebagai hasil yang paling mungkin. Tahun ini, baru beberapa minggu lalu, makalah van Vuuren dkk yang menjadi acuan skenario untuk Laporan Penilaian Ketujuh IPCC atau IPCC Seventh Assessment Report (AR7) secara resmi menyingkirkan skenario tersebut, dengan alasan bahwa “The CMIP6 high emission levels (quantified by SSP5-8.5) have become implausible, based on trends in the costs of renewables, the emergence of climate policy and recent emission trends.”

Sampai di sini, Trump tidak sepenuhnya salah. Skenario terburuk yang paling ekstrem itu memang sudah pensiun. Tapi kemudian ia melompat kegirangan, lalu menyimpulkan sesuatu yang tak seperti yang dimaksud oleh para pakar iklim yang melancarkan kritik atas RCP8.5. Dan di sinilah letak kesesatannya yang fatal.

Bahwa skenario baru tidak lagi memasukkan emisi setinggi dalam RCP8.5 bukan berarti masalah, atau lebih tepatnya, krisis iklim telah selesai. Sebaliknya, skenario baru juga menunjukkan bahwa membatasi pemanasan global hingga 1,5°C di atas level pra-industri kini “not possible” tanpa “significant overshoot.” Dengan kata lain, kita tidak hanya kehilangan skenario ujung atas yang paling mengerikan, tapi kita juga telah kehilangan peluang di ujung bawah yang paling menjanjikan.

Angka-angka pada skenario yang tersisa masih menuntut perhatian serius. Emission Gap Report 2025 dari UNEP menemukan bahwa berdasarkan implementasi penuh komitmen iklim nasional (NDCs), pemanasan global diprojeksikan mencapai 2,3–2,5°C sepanjang abad ini, sementara berdasarkan kebijakan yang berlaku saat ini saja, angkanya mencapai 2,8°C. Skenario ‘tinggi’ yang baru, yaitu pengganti RCP8.5, memprojeksikan pemanasan sekitar 3,2°C pada 2100, dengan rentang antara 2,5°C hingga 4,3°C.

Apakah rentang itu aman? Para ilmuwan iklim jelas tidak berpikir demikian. PBB sendiri pernah menyebut level pemanasan itu sebagai ‘catastrophic‘. Kenaikan permukaan laut yang akan menenggelamkan kota-kota pesisir. Gelombang panas yang akan membunuh jutaan orang. Ketidakstabilan pangan dan air yang akan memicu konflik. Kepunahan massal spesies. Rusaknya terumbu karang secara permanen. Ancaman-ancaman ini tidak bergantung pada apakah kita menggunakan RCP8.5 atau skenario yang lebih moderat. Mereka bergantung pada apakah kita, umat manusia secara kolektif, membiarkan atmosfer terus memanas atau mengerem emisi lalu menurunkannya.

Tahun 2025 menjadi tahun terpanas kedua dalam catatan sejarah, dengan suhu rata-rata global mencapai +1,47°C di atas baseline 1880–1920. Rerata tiga tahun 2023–2025 sudah berada di angka +1,5°C. Batas 1,5°C yang ditetapkan Perjanjian Paris bukan angka ajaib, tapi ia adalah penanda di mana risiko-risiko berbahaya mulai bereskalasi secara dramatis. Dan kita sudah berada di sana, sekarang, dalam situasi yang nyata, bukan dalam skenario hipotetis.

Para ilmuwan dari Berkeley dan Copernicus memeringatkan bahwa jika fenomena El Niño muncul kembali pada 2026, tahun ini bisa memecahkan rekor suhu yang sudah ada. Dan kini fenomena itu sudah jadi kenyataan. Yang lebih mengkhawatirkan para ilmuwan adalah lonjakan kandungan panas lautan: lautan menyerap panas dalam jumlah luar biasa besar mulai tahun 2025, sebuah proses yang diibaratkan para klimatolog seperti meledakkan ratusan juta bom atom Hiroshima.

Di sinilah, menurut saya, kicauan Trump di akun media sosialnya sungguh-sungguh berbahaya. Ia menggunakan koreksi oleh ilmu pengetahuan, sebuah proses yang seharusnya menjadi tanda kesehatan bukan kelemahan dari sains, sebagai ‘bukti’ bahwa seluruh bangunan ilmu iklim telah runtuh.

Ini seperti mengatakan bahwa karena prakiraan badai sedikit bergeser dari lintasan awalnya, maka badai itu tidak ada. Atau seperti merayakan penghentian penggunaan peta tua yang mengandung ketidakakuratan sebagai bukti bahwa kartografi adalah kebohongan besar.

Sains iklim memang mengoreksi dirinya sendiri. Dan itulah kekuatannya, bukan cacatnya.

Bahwa komunitas ilmiah menghabiskan bertahun-tahun mengkritisi RCP8.5, memublikasikan perdebatan terbuka di jurnal-jurnal terkemuka, dan akhirnya secara resmi menyingkirkannya justru menunjukkan bagaimana sains bekerja dengan integritas.

Bandingkan dengan penyangkalan iklim yang tidak pernah memerbarui klaimnya bahkan ketika fakta-fakta semakin kuat menentang satu demi satu klaim.

UNEP memeringatkan bahwa dunia masih jauh dari jalur untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris, dengan kesenjangan implementasi yang besar antara janji dan tindakan nyata. Untuk selaras dengan jalur 1,5°C, emisi global perlu turun 55 persen dari level 2019 pada 2035. Dengan hanya sembilan tahun tersisa, apakah kita semua mampu sampai di titik aman itu? Penarikan Amerika Serikat dari Perjanjian Paris, yang dilakukan Trump kembali pada masa jabatan keduanya ini, semakin memerburuk prospek yang sejak awal sudah sangat kecil peluang pencapaiannya.

Zeke Hausfather, Glen Peters, dan Piers Forster, tiga ilmuwan yang selama bertahun-tahun memimpin kritik terhadap RCP8.5, menyambut dengan tepat penghapusan skenario terburuk itu: “We should celebrate progress, but not overstate it.” Bahwa skenario paling ekstrem kini tak lagi relevan adalah berita baik yang nyata. Transisi energi global telah membengkokkan kurva emisi cukup jauh untuk menutup masa depan yang paling mengerikan itu. Ini adalah kemenangan kebijakan dan tindakan iklim, bukan bukti bahwa kebijakan dan tindakan yang lebih kuat tak lagi diperlukan.

Perubahan iklim tetap merupakan krisis yang nyata, terukur, dan berbahaya. Ia sedang terjadi di sekitar kita: dalam banjir yang melanda Sumatera, dalam kekeringan di berbagai tempat di sekujur Asia dan Afrika, juga dalam pemutihan karang Segitiga Terumbu Karang yang kian parah. Ia membutuhkan respons yang serius, segera, dan berkelanjutan dari setiap pemerintah di dunia, termasuk, dan terutama, dari negara-negara dengan emisi historis terbesar yang Indonesia ada di dalamnya.

Bahwa skenario terburuknya sudah dipensiunkan oleh para ilmuwan, tidaklah mengubah fakta tersebut. Yang berubah hanyalah pilihan skenario. Bahayanya bukan saja tetap ada. Ia bahkan semakin dekat, apalagi dengan perilaku pendusta iklim macam Trump dan pengikutnya.

Jakarta, 27 Mei 2026 12:00