Oleh: Hizbullah Arief *

Banjir besar yang melanda Jakarta, Bekasi dan kota-kota lain di Indonesia menjadi penghubung antara krisis lingkungan lokal dan global. Dampak perubahan iklim dan lingkungan dalam skala global dan lokal telah memicu cuaca ekstrem di Indonesia hari ini. Secara ilmiah, udara dingin dari Laut China Selatan memicu hujan ekstrem di Sumatra, Kalimantan dan wilayah Jabodetabek. Udara dingin yang berasal dari pegunungan Tibet bergerak menuju wilayah Indonesia ke Australia akibat perbedaan suhu yang ekstrem antara wilayah Tibet dan Hong Kong. Hal ini disampaikan oleh Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dalam wawancara langsung dengan salah satu televisi swasta hari ini, 1 Januari 2020.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dalam 10 tahun terakhir, cuaca di Indonesia semakin ekstrem. Tren bencana terus meningkat. Data hingga 31 Desember 2019 mengonfirmasi fakta ini. Indonesia didera 3.803 bencana selama tahun 2019. Sebagian besar bencana tersebut adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang terkait cuaca dan iklim yang ekstrem.

Jenis bencana hidrometeorologi meliputi puting beliung, kebakaran hutan, banjir, longsor dan kekeringan. Sebanyak 478 orang meninggal dunia dan 6,1 juta jiwa menderita dan mengungsi akibat bencana ini. Selain dipicu oleh perubahan iklim di tingkat global, buruknya tata kelola lingkungan, alih guna lahan, deforestasi, degradasi lahan di tingkat lokal dan nasional turut andil memperparah bencana ini.

Peringatan atas krisis perubahan iklim dan lingkungan global juga terus disampaikan, terakhir dalam naskah ilmiah berjudul “World Scientists’ Warning of a Climate Emergency” yang diterbitkan dalam Jurnal BioScience, Selasa, 5 November 2019. Sebanyak 11.000 ilmuwan kembali menjabarkan bukti-bukti dan ancaman kerusakan akibat krisis perubahan iklim. “Sangat jelas dan tak terbantahkan, dunia saat ini menghadapi kedaruratan akibat (krisis) iklim,” tulis mereka.

Perubahan iklim dan pemanasan global ini dipicu oleh kenaikan emisi gas rumah kaca yang saat ini terus mencetak rekor tertinggi. Pantauan Greenhouse Gas Bulletin yang diterbitkan WMO menunjukkan, rata-rata konsentrasi emisi gas rumah kaca utama yaitu karbon dioksida (CO2) dunia telah menembus rekor 407,8 PPM (parts per million) di 2018, naik dari 405,5 PPM dari tahun 2017.

Karbon dioksida (CO2) adalah gas rumah kaca berumur panjang (long-lived greenhouse gas) utama yang diproduksi oleh manusia, bukan oleh alam. Konsentrasinya di atmosfer bumi telah naik 147% sejak masa praindustri di 1750. Data dari NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) yang dikutip dalam laporan WMO menyatakan, emisi CO2 menyumbang 80% komposisi emisi gas rumah kaca dunia.

Seperti namanya, emisi gas rumah kaca adalah emisi yang memerangkap radiasi matahari dalam atmosfer bumi, menimbulkan efek pemanasan global (radiative forcing) dan perubahan iklim. Data WMO mencatat, kekuatan radiasi (radiative forcing) – atau efek pemanasan global – telah naik 43% sejak tahun 1990 yang kemudian memicu anomali cuaca dan cuaca ekstrem.

Laporan terbaru UN Environment Programme (UNEP) berjudul “Emission Gap Report” memperingatkan, konsentrasi emisi gas rumah kaca dunia perlu dipangkas 7,6% per tahun dari tahun 2020 hingga 2030, jika dunia tidak ingin menutup peluang untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C, sesuai dengan target Kesepakatan Paris. Laporan ini menyatakan, bahkan jika semua komitmen yang saat ini ada di Kesepakatan Paris diterapkan, dunia masih akan tetap berada di jalur kenaikan suhu 3,2°C. Jika hal itu terjadi, dunia harus bersiap menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin destruktif.

Menurut UNEP, upaya pemangkasan emisi GRK perlu naik 5 kali lipat dari level saat ini dalam sepuluh tahun ke depan agar dunia mampu mencegah kenaikan suhu bumi di atas 1,5°C. Sehingga tahun 2020, menjadi tahun yang sangat penting bagi aksi iklim, saat negara-negara dunia diharapkan meningkatkan komitmen iklim mereka di konferensi perubahan iklim ke-26 (COP26) di Glasgow, Inggris guna mencegah krisis iklim semakin lepas kendali.

Sumber emisi CO2 terbesar adalah pembakaran bahan bakar fosil yaitu batu bara, minyak dan gas bumi. Bahan bakar fosil tersebut digunakan untuk memproduksi energi/listrik untuk rumah tangga dan industri serta bahan bakar untuk kendaraan/transportasi.

Untuk mengurangi pembakaran bahan bakar fosil yang menjadi sumber emisi GRK utama penyebab krisis iklim, peralihan ke energi yang lebih bersih tidak bisa ditawar lagi. Pembakaran bahan bakar fosil juga memicu polusi udara membunuh 7 juta penduduk dunia per tahun.

Dan peralihan ke energi bersih bukan menjadi hal yang mustahil untuk diwujudkan. Tim peneliti yang dipimpin oleh Mark Z. Jacobson dari Stanford University mengungkap potensi peralihan ke energi bersih di 143 negara. Laporan terbaru berjudul “Impacts of Green New Deal Energy Plans on Grid Stability, Costs, Jobs, Health, and Climate in 143 Countries” ini diterbitkan dalam Jurnal OneEarth.

Menurut tim peneliti, dengan menggunakan energi angin, air dan surya, 143 negara bisa beralih 100% ke energi bersih dan terbarukan pada 2050 atau setidaknya 80% ke energi bersih pada 2030.

Dampak peralihan 100% ke energi bersih ini sangat besar. Menurut tim peneliti, 143 negara ini menyumbang 99,7% emisi CO2 dunia. Dengan beralih 100% ke energi bersih, mereka bisa memangkas emisi CO2 penyebab krisis perubahan iklim dan pemanasan global. Kebutuhan energi mereka juga bisa dikurangi sebesar 57,1%. Sementara biaya energi bisa dipangkas 61% dari $17,7 triliun menjadi hanya $6,8 triliun per tahun.

Risiko kerugian akibat krisis iklim dan biaya kesehatan akibat kerusakan lingkungan juga bisa dikurangi 91% dari $76,1 triliun ke $6,8 triliun per tahun dengan investasi peralihan ke energi bersih sebesar $73 triliun. Tidak berhenti di sini, manfaat peralihan ke energi angin, air dan surya juga bisa membuka 28,6 juta lapangan kerja yang lebih banyak dibanding industri berbahan bakar fosil. Solusi untuk krisis iklim tersedia hari ini. Seiring dengan penerapan strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang tepat, tidak ada lagi alasan lagi untuk menunda aksi perubahan iklim.

–##–

* Hizbullah Arief adalah jurnalis pendiri Hijauku.com – Situs Hijau Indonesia. Alumni Asia Pacific Climate Leadership Program di 2012 dan Global Power Shift di 2013. Arief bisa dihubungi melalui surel: hizbullaharief@hijauku.com