Algae fuel in - WikipediaAmerika Serikat dan China menduduki peringkat teratas dalam pengembangan bahan bakar nabati (BBN) generasi baru. Hal ini terungkap dari laporan terbaru Navigant Research yang dirilis Selasa (15/10).

Bahan bakar nabati generasi terbaru berupaya menghindari dampak sosial dan lingkungan yang telah menghambat pertumbuhan etanol dan biodisel generasi pertama.

Walau konsumsi bahan bakar nabati kurang dari 5% dari konsumsi bahan bakar cair di sektor transportasi, namun bahan bakar nabati menurut Navigant Research memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi di seluruh penjuru bumi.

Dalam laporan berjudul “Advanced Biofuels Country Ranking Index” terungkap, Amerika Serikat saat ini menjadi lokasi 67% perusahaan yang meneliti dan mengembangkan bahan bakar nabati generasi terbaru. BBN generasi terbaru berupaya untuk tidak menggunakan tanaman pangan dengan memanfaatkan alga maupun jarak pagar atau jatropha yang mampu ditanam di lahan tandus.

Amerika Serikat juga memiliki kebijakan “Renewable Fuel Standard” yang mengamanatkan produksi bahan bakar nabati sebesar 21 miliar galon (795 miliar liter) pada 2022. Kebijakan ini akan menjadikan AS sebagai pusat pertumbuhan bahan bakar nabati generasi terbaru pada masa datang.

Walaupun fasilitas pengilangan bahan bakar nabati tidak banyak mengalami pertumbuhan hingga 2015, namun dalam jangka menengah, aksi renovasi kilang konvensional menjadi kilang BBN akan membantu pertumbuhan BBN pada masa datang. Tren ini menurut Navigant akan terjadi di Amerika Serikat, Eropa dan China.

Industri bahan bakar nabati (BBN) tumbuh dengan sehat dalam sepuluh tahun terakhir. Wilayah Amerika Utara memimpin pertumbuhan ini.

Tahun ini, produksi BBN dunia diperkirakan mencapai 33,6 miliar galon (127 miliar liter) per tahun. Jumlah ini menurut Navigant akan terus bertumbuh hingga 62 milliar galon (233 miliar liter) per tahun pada 2023.

Di pasar yang lebih maju, bahan bakar nabati (biofuel) bersinergi dengan kendaraan listrik dalam memangkas polusi udara dan emisi gas rumah kaca. Bahan bakar nabati menawarkan biaya yang lebih murah dalam mengurangi emisi CO2.

Redaksi Hijauku.com