Oleh: Ar. Dr.Eng. Fritz Akhmad Nuzir. S.T., M.A., IAI. *

Beberapa waktu terakhir, berbagai wilayah di Provinsi Lampung kembali menghadapi peristiwa banjir setelah hujan dengan intensitas tinggi turun dalam waktu yang relatif singkat. Genangan muncul di sejumlah kawasan perkotaan, aktivitas warga terganggu, dan beberapa ruas jalan bahkan sempat tidak dapat dilalui. Di wilayah lain, air datang lebih cepat dari kawasan hulu, sementara di daerah pesisir masyarakat mulai semakin akrab dengan fenomena banjir rob ketika air laut naik dan memasuki kawasan permukiman.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa banjir di Lampung bukanlah fenomena yang seragam. Setiap wilayah memiliki karakter banjir yang berbeda, dipengaruhi oleh kondisi bentang alam dan pola pembangunan wilayahnya. Karena itu, solusi yang diterapkan juga tidak bisa bersifat tunggal.

Selama ini pendekatan yang sering muncul adalah memperbesar drainase, memperdalam sungai, atau membangun tanggul. Upaya tersebut tentu penting, tetapi sering kali hanya memindahkan air dari satu tempat ke tempat lain tanpa benar-benar mengurangi tekanannya terhadap ruang hidup manusia.

Saat ini ada pendekatan alternatif yang mulai banyak dibicarakan dalam perencanaan kota dan wilayah, yaitu Nature-Based Solutions (NBS). Pendekatan ini memanfaatkan proses alam sebagai bagian dari strategi pengelolaan lingkungan, termasuk dalam pengendalian banjir. Alih-alih hanya mengandalkan infrastruktur keras, lanskap dan ekosistem justru dilihat sebagai bagian dari sistem pengelolaan air.

Dalam kajian yang kami lakukan di Universitas Bandar Lampung mengenai rekayasa lanskap perkotaan dalam pengendalian banjir, ditemukan bahwa berbagai pendekatan berbasis alam semakin banyak diterapkan di berbagai kota dunia. Konsep seperti Water Sensitive Urban Design (WSUD) dan Sponge City menunjukkan bahwa kota dapat dirancang untuk menyerap, menahan, dan memperlambat aliran air secara lebih alami.

Jika dilihat dari keragaman wilayahnya, Lampung sebenarnya memiliki kondisi yang sangat cocok untuk pendekatan seperti ini. Dari kawasan perbukitan di bagian hulu, dataran rendah perkotaan, hingga wilayah pesisir, setiap lanskap memiliki potensi untuk berperan dalam mengelola air secara alami. Artinya, solusi banjir juga tidak bisa bersifat tunggal. Setiap jenis banjir membutuhkan pendekatan berbasis alam yang berbeda.

Banjir Bandang di Kawasan Hulu

Wilayah dengan topografi berbukit seperti Kabupaten Tanggamus, Lampung Barat, dan sebagian wilayah Pesawaran sesekali menghadapi risiko banjir bandang ketika hujan deras turun dalam waktu singkat. Air dari kawasan hulu mengalir dengan cepat menuju kawasan permukiman di bagian bawah. Dalam kondisi seperti ini, solusi yang efektif tidak selalu berada di hilir. Justru yang lebih penting adalah memperkuat kemampuan lanskap di bagian hulu untuk menahan air.

Rehabilitasi hutan, penguatan vegetasi lereng, pembangunan embung kecil, serta praktik agroforestri dapat membantu memperlambat aliran air sebelum mencapai kawasan permukiman. Lanskap yang sehat mampu menyerap dan menahan air lebih lama, sehingga mengurangi potensi banjir bandang di bagian hilir.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kawasan hulu sebenarnya memiliki fungsi penting sebagai infrastruktur alami pengendali air.

Banjir Perkotaan dan Kota yang Kehilangan Daya Serap

Di kawasan perkotaan, karakter banjir sering kali berbeda. Kota-kota seperti Bandar Lampung, Metro, dan kawasan perkotaan di Lampung Selatan semakin berkembang dengan permukaan tanah yang tertutup beton dan aspal.

Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air hujan tidak lagi memiliki ruang untuk meresap ke dalam tanah. Air langsung mengalir menuju sistem drainase dalam jumlah besar secara bersamaan. Dalam banyak kasus, solusi yang diambil adalah memperbesar saluran drainase. Namun pendekatan ini sebenarnya hanya mempercepat aliran air dari satu tempat ke tempat lain.

Di sinilah konsep kota spons (sponge city) menjadi relevan. Dalam pendekatan ini, kota dirancang agar mampu menyerap air seperti spons melalui berbagai elemen ruang yang sudah ada. Bahkan di kota yang ruang terbuka hijaunya terbatas, berbagai ruang kecil dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan air: trotoar permeabel, taman resapan kecil, sumur resapan di lingkungan permukiman, hingga sistem penampungan air hujan di atap bangunan.

Dengan cara ini, kota tidak lagi sekadar membuang air secepat mungkin, tetapi mulai mengelola air di tempat ia jatuh.

Banjir Rob di Wilayah Pesisir

Sementara itu, di wilayah pesisir Lampung seperti Lampung Timur, Lampung Selatan, dan beberapa kawasan pesisir Bandar Lampung, masyarakat mulai semakin akrab dengan fenomena banjir rob.

Kenaikan muka air laut, perubahan garis pantai, serta berkurangnya ekosistem pesisir membuat air laut semakin mudah masuk ke kawasan permukiman.

Dalam konteks ini, solusi berbasis alam juga memiliki peran penting. Restorasi mangrove dan perlindungan kawasan pesisir dapat membantu meredam energi gelombang serta memperlambat intrusi air laut. Ekosistem mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung alami terhadap banjir rob, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologi pesisir serta mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Tahapan Implementasi Nature-Based Solutions

Pertanyaannya kemudian: bagaimana pendekatan berbasis alam ini dapat diterapkan secara nyata oleh pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan di Lampung?

Pengalaman berbagai kota di dunia menunjukkan bahwa implementasi Nature-Based Solutions biasanya berjalan melalui beberapa tahapan yang logis dan bertahap.

Pertama, memahami lanskap risiko air. Langkah awal bukan langsung membangun infrastruktur, tetapi memetakan pola banjir dan aliran air di suatu wilayah. Pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi dan masyarakat untuk mengidentifikasi area genangan, jalur aliran air alami, serta kawasan yang masih memiliki potensi resapan.

Kedua, mengidentifikasi ruang kota yang dapat berfungsi sebagai infrastruktur air. Banyak ruang yang sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menahan atau menyerap air, seperti trotoar, halaman fasilitas publik, ruang terbuka kecil di permukiman, hingga atap bangunan.

Ketiga, membangun proyek percontohan skala kecil. Banyak kota memulai penerapan NBS melalui proyek percontohan seperti taman resapan kecil, bioswale di sepanjang jalan, atau sumur resapan komunal. Proyek kecil ini penting untuk menguji desain sekaligus membangun kepercayaan publik.

Keempat, mengintegrasikan prinsip NBS dalam perencanaan kota. Jika pendekatan ini terbukti efektif, prinsip pengelolaan air berbasis alam dapat dimasukkan ke dalam kebijakan tata ruang, standar bangunan, dan regulasi pembangunan kawasan.

Kelima, memperkuat kolaborasi multipihak. Implementasi NBS jarang berhasil jika hanya dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, sektor swasta, komunitas lokal, dan organisasi masyarakat sipil perlu bekerja bersama untuk memastikan keberlanjutan program.

Melalui tahapan seperti ini, solusi berbasis alam tidak lagi menjadi proyek eksperimental semata, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari sistem pengelolaan wilayah.

Mengubah Cara Pandang terhadap Air

Jika dilihat dari hulu hingga pesisir, berbagai peristiwa banjir di Lampung sebenarnya menunjukkan satu hal yang sama: hubungan antara air dan ruang hidup manusia semakin kompleks. Selama ini air sering diperlakukan sebagai sesuatu yang harus segera dialirkan keluar dari kota atau wilayah. Namun pengalaman banyak kota di dunia menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak selalu menyelesaikan masalah.

Nature-Based Solutions menawarkan cara pandang yang berbeda. Air tidak selalu harus dilawan, tetapi dikelola bersama lanskap tempat kita hidup. Hutan di kawasan hulu, ruang kota di kawasan perkotaan, hingga ekosistem pesisir semuanya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan sistem air.

Pendekatan ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan serta SDG 13 tentang aksi terhadap perubahan iklim.

Pada akhirnya, mungkin pelajaran terpenting dari berbagai peristiwa banjir yang terjadi belakangan ini adalah bahwa kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak infrastruktur. Kita juga perlu cara baru dalam merancang ruang hidup yang mampu berdampingan dengan air, dari kawasan hulu hingga pesisir Lampung.

–##–

* Ar. Dr.Eng. Fritz Akhmad Nuzir. S.T., M.A., IAI. adalah Direktur Center for Sustainable Development Goals Studies (SDGs Center) Universitas Bandar Lampung – Anggota Profesional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Lampung