Partikel plastik mencemari di mana-mana, di lingkungan hingga rantai makanan. Namun belum ada penelitian – hingga saat ini – yang melaporkan paparan internal partikel plastik dalam darah manusia. Tim peneliti yang dipimpin oleh Heather A.Lesliea dan Marja H.Lamoreea, keduanya dari Fakultas Sains, Jurusan Kesehatan dan Lingkungan, Universitas Vrije Amsterdam, Belanda berhasil mengubah hal tersebut. Bersama-sama mereka berhasil menemukan paparan polutan plastik dalam aliran darah manusia.
Temuan ini diterbitkan dalam laporan terbaru di jurnal Environment International, berjudul “Discovery and quantification of plastic particle pollution in human blood”, pada Kamis, 24 Maret 2022. Dalam laporannya, tim peneliti mencatat lima poin penting saat menemukan polusi plastik dalam darah.
Poin penting pertama, tim peneliti berhasil menvalidasi metode untuk mengukur konsentrasi massa polimer plastik di seluruh aliran darah manusia. Poin penting kedua, tim peneliti berhasil mengukur dan mendeteksi polimer plastik dalam darah manusia. Poin penting ketiga, tim peneliti menemukan bahwa polimer plastik dalam darah manusia berasal dari plastik produksi massal yang banyak dipakai oleh masyarakat.
Poin penting keempat, pendonor darah berasal dari masyarakat umum. Dan poin penting terakhir adalah kontrol kualitas sampel plastik, latar belakang selama pengambilan dan analisis adalah kunci keberhasilan mereka menemukan pencemaran plastik dalam darah manusia.
Tim peneliti mengukur partikel plastik – yang berukuran > 700 nano meter (nm) – dari 22 sukarelawan sehat untuk mengidentifikasi dan mengukur massa dari lima polimer plastik yang diproduksi dengan volume tinggi yaitu: poli(metil metilakrilat) (PMMA), polipropilen (PP), bahan yang mengandung stirena terpolimerisasi ( PS), polietilen (PE) dan polietilen tereftalat (PET).
Lima polimer plastik ini banyak dipakai dalam kemasan makanan, tekstil dan berbagai produk lain yang bersentuhan dengan manusia setiap hari. PE dan PP adalah polimer plastik dengan permintaan tertinggi di seluruh dunia, diikuti oleh PET dan polimer yang mengandung styrene seperti polystyrene, Expanded polystyrene (EPS) dan acrylonitrile butadiene styrene (ABS) (PlasticsEurope 2020).
Mau tahu kegunaan dari masing-masing polimer plastik tersebut? PP biasa dipakai untuk kemasan produk, bahan tekstil, bagian-bagian otomotif, dan peralatan listrik. Sementara PE – karena tampilannya yang lebih jernih – banyak digunakan sebagai bahan mainan plastik, tangki air, pipa, selang air, hingga tutup botol minuman.
Polimer plastik selanjutnya yaitu PET paling banyak bersentuhan dengan manusia. PET dipakai untuk bahan pakaian, kemasan makanan, bungkus mie instan, botol air kemasan, botol jus, minuman instan dan sebagainya. Polimer plastik lain yang masih banyak dipakai untuk kemasan makanan adalah polystyrene atau yang lebih kita kenal sebagai styrofoam, yang sering digunakan untuk berbagai bungkus makanan kaki lima.
Polimer EPS adalah plastik mirip styrofoam yang berwarna putih dan sedikit lebih padat yang banyak digunakan untuk bahan insulasi dalam kemasan produk elektronik agak tidak mudah pecah dan rusak. Sementara polimer terakhir yaitu ABS banyak dipakai untuk bahan helm, bodi kendaraan bermotor, pipa hingga tombol papan ketik di laptop kita.
Tim peneliti menemukan, rata-rata jumlah konsentrasi partikel plastik yang dapat diukur dalam darah adalah 1,6 g/ml, yang dicatat sebagai pengukuran pertama konsentrasi massa komponen polimer plastik dalam darah manusia.
Studi perintis ini berhasil membuktikan bahwa partikel plastik mampu diserap ke dalam aliran darah manusia. Menurut tim peneliti, perlu penelitian segera untuk menemukan dan membuktikan dampak – polusi partikel plastik dalam darah – terhadap kesehatan masyarakat.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment