Oleh: Swary Utami Dewi *
Gembiranya hati ini bisa melihat dan bermain sejenak dengan dua hiu paus liar namun jinak di pesisir Teluk Tomini, di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, pada pagi 25 Desember 2021. Salah satunya diberi nama Shirley. Masyarakat Desa Botubarani bisa membedakan satu dengan yang lain dari totol masing-masing hiu paus yang unik dan berbeda. Hiu Paus memang memiliki tubuh keabu-abuan dan bertotol putih. Satu hiu paus memiliki totol yang tidak sama dengan lainnya.
Selain Shirley, ada pula hiu paus yang dinamai Riko dan Bima. Kali ini hanya Shirley dan satu hiu lain yang muncul. Meski kerap muncul di lokasi tertentu, namun kehadiran makhluk ramah ini tidak bisa diprediksi pasti. Seorang kawan berkali-kali datang tidak juga bertemu. Ada pula yang menunggu lama saat mendapat informasi ikan ini sudah muncul beberapa hari, namun ternyata tidak kunjung datang menyapa saat dia sudah menunggu relatif lama di Botubarani. Jadi aku dan kawan-kawan di sini tergolong beruntung bisa cepat bertemu, bahkan bermain cukup lama dengan dua hiu paus tersebut.
Meski hidup liar, namun ketika muncul hiu paus bisa didekati manusia. Sejauh kita tidak mengagetkan mereka, makhluk berbobot besar ini relatif aman dan bersahabat. Shirley, misalnya, berkali-kali muncul ke permukaan dari jarak sangat dekat, seolah menyapa, lalu kembali berenang di sekitar perahu kami. Pengalamanku sangat menyenangkan, saat Shirley yang besar dan seekor hiu paus lain yang lebih kecil tersebut bermain di sekitar perahu kami selama sekitar 30 menit, sambil sesekali menyantap udang kecil yang diberikan oleh nelayan pemandu. Aku dan seorang kawan naik perahu berkapasitas tiga orang, termasuk sang pemandu tersebut. Hanya berjarak seratus meter lebih dari pesisir, Shirley dan kawannya bisa kutemui.
Hiu paus memakan ikan dan makhluk kecil lainnya, meski sebenarnya makanan pokoknya adalah plankton. Mulut besar Shirley dan hiu paus lain yang kutemui di Botubarani terbuka lebar saat mereka memasukkan makanan. Meski takjub melihat besar tubuh dan mulut yang menganga lebar saat makan, aku merasa relatif aman di dekat mereka. Kerap aku meneriakkan “Shirley sayang…” atau “Shirley cantik…”, saat makhluk besar ini mendekati dan mengitari perahu.
Beberapa informasi dasar mengenai hiu paus tertera dalam situs resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hiu paus (Rhincodon typus) ternyata memang merupakan spesies ikan terbesar di dunia. Habitat hiu paus di beberapa perairan hangat di dunia. Di Indonesia, beberapa lokasi munculnya hiu paus adalah di Perairan Teluk Cenderawasih (Papua), Talisayan (Kalimantan Timur), Probolinggo (Jawa Timur), dan tentu saja di Gorontalo yang kudatangi ini.
Hiu Paus tergolong satwa langka. Di Indonesia sendiri, hiu jinak ini dilindungi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI nomor 18 Tahun 2013. Maka mari kita semua menjaga dan melindungi makhluk ramah ini.
–##–
* Swary Utami Dewi adalah Board Kawal Borneo, Climate Leader Indonesia, dan juga anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial (TP2PS).
Leave A Comment