Oleh: Swary Utami Dewi *
Siapa yang tidak kenal Danau Toba di Sumatera Utara? Selain Bali, Toba adalah salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Meski sedang ada situasi pandemi, kunjungan ke Danau Toba tetap bisa dilakukan secara virtual. Komunitas Jalan-Jalan Virtual Immersiva pada Sabtu, 8 Mei 2021 mengajak kita menjejak Danau Toba. Pemandu tour kali ini adalah Djati Witjaksono Hadi alias Wiwied Soedarso, yang masih aktif bertugas di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Djati menjelaskan bahwa Danau Toba diperkirakan terbentuk selama ledakan Gunung Toba Purba sekitar 69.000-77.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano terbaru. Letusan ini begitu dahsyat sehingga tercatat sebagai salah satu ledakan terdahsyat vulkanik yang pernah ada di dunia. Beberapa penelitian yang saya baca memang menunjukkan dahsyatnya letusan gunung purba ini. Misalnya, letusan ini menghancurkan populasi manusia dan mamalia di Asia. Jejak abu vulkaniknya ditemukan hampir di seluruh dunia. Dampak letusannya berupa abu vulkanik menyelimuti atmosfir selama bertahun-tahun. Antara 6 – 10 tahun kemudian terjadi musim dingin panjang.
Secara topografis, sisa letusan Gunung Toba Purba membentuk Danau Toba yang begitu luas. Hasilnya sebuah kaldera raksasa, yang bahkan tercatat sebagai danau terluas ke-2 di dunia, sesudah Danau Victoria di Afrika Selatan. Danau Toba memiliki panjang sekitar 100 Km dan lebar 30 Km, serta memiliki titik terdalam 505 meter. Saking luasnya, Danau Toba ini menjadi bagian dari 8 kabupaten di Sumatera Utara.
Kini sejarah kelam letusan Toba purba puluhan ribu tahun lalu, berbuat manis. Toba yang hadir paska letusan menghadirkan kaldera masa kini yang cantik, anggun, kaya sekaligus eksotis. Djati menceritakan betapa Toba begitu indah dan berbeda dilihat dari lokasi manapun yang mengelilingi danau ini. Misalnya dilihat dari Huta Ginjang akan berbeda dari Tara Bunga dan Gurgur. Setiap lekuk pinggiran Toba memang senantiasa menampilkan kecantikan alam yang berbeda.
Perkembangan terkini, sejak tahun 2019, Danau Toba diakui oleh United Nations Educational (UNESCO) menjadi UNESCO Global Geopark (UGG). Kaldera Toba berhasil masuk daftar UNESCO pada Konferensi Internasional UNESCO Global Geopark ke-4 di Lombok pada 2019. Apa dampak dari masuknya Toba ke daftar UNESCO? Pertama, ini menjadi semacam promosi di tingkat dunia. Danau Toba berpotensi makin terkenal di tingkat dunia. Kedua, Toba bisa menjadi lebih fokus untuk pengembangan wisata berbasis geodiversity, biodiversity dan culture diversity.
Alam yang indah berpadu dengan keragaman budaya dan kekayaan sejarah manusia memang tersedia semua di Danau Toba. Jalan-Jalan Virtual ala Immersiva ini kembali menunjukkan keunggulan Kaldera Toba sebagai destinasi wisata utama Indonesia dan dunia.
–##–
* Swary Utami Dewi adalah anggota Komunitas Jalan-Jalan Virtual Immersiva, Pegiat Perhutanan Sosial, Board Kawal Borneo
Leave A Comment