Oleh: Swary Utami Dewi *
Maskuri yang berusia 52 tahun, telah menjadi buruh tani selama 20 tahun. Namun dalam tiga tahun terakhir, Maskuri mulai memggarap lahan di kawasan hutan negara seluas 0,5 ha, di kawasan hutan negara di Jawa Tengah.
Sebelumnya lahan itu dikelola oleh seorang tetangga sepuh yang tidak punya anak dan keluarga lain. Saat tetangganya wafat, Maskuri menggantikan mengelola lahan tersebut. Dan itu ditekuninya hingga kini.
Maskuri merasa sangat beruntung bisa mendapatkan lahan untuk dikelola. Dulu saat menjadi buruh tani, setiap hari ia harus bekerja dari jam 7 pagi sampai sore tanpa henti. Dan paling banyak ia dibayar 30 ribu per hari. Dengan upah tersebut, ia harus berjuang menghidupi istri dan 3 anak.
Di lahan garapannya sekarang, Maskuri menanam tanaman yang bisa cepat dipanen dan dijual ke pasar terdekat, misalnya singkong, ubi jalar, pepaya dan pisang. Selain itu ia juga menanam beberapa jenis tanaman buah untuk penghasilan jangka panjang seperti durian, petai dan alpukat.
” Lumayan Bu, sekarang dalam sehari saya bisa dapat antara Rp 25 sampai Rp 50 ribu perhari.” Selain mendapat penghasilan sehari-hari yang lebih pasti, menjadi petani baginya tentu saja bermartabat. “Saya bisa mengelola lahan sendiri, Bu. Dulu saat jadi buruh, selain sudah tidak pasti, saya lelah luar biasa. Saya juga hanya jadi pesuruh sesuai kata pemilik lahan.”
Saat ada ajakan untuk bergabung dengan Kelompok Tani Hutan (KTH) setempat untuk mendapatkan persetujuan Perhutanan Sosial, ia merasa bersemangat untuk bekerja dalam kelompok. Harapannya dengan Perhutanan Sosial, ia bisa mendapatkan kepastian mengelola kawasan dan bisa menghidupi keluarga secara lebih baik lagi.
–##–
* Swary Utami Dewi adalah Pegiat Perhutanan Sosial dan Board Kawal Borneo.
Leave A Comment