Perubahan iklim meningkatkan prevalensi gangguan jiwa hingga lima kali lipat pada orang dewasa.
Perubahan iklim berdampak luas melampaui berbagai bidang kehidupan. Namun, sebagian besar penelitian mengenai dampak perubahan iklim masih berfokus pada masalah lingkungan seperti banjir, longsor, kekeringan, kenaikan air laut serta masalah pertanian atau produksi pangan. Sementara dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, terutama kesehatan mental, belum banyak dieksplorasi (Rahman et al. 2019).
Penelitian terbaru berjudul Seeing with Empty Eyes’: a systems approach to understand climate change and mental health in Bangladesh, oleh Gemma Hayward & Sonja Ayeb-Karlsson, yang diterbitkan dalam Jurnal SpringerOpen berupaya menjawab tantangan ini.
Dua peneliti dari University of Sussex, Inggris ini menyimpulkan secara pasti bahwa perubahan iklim, beserta dampak yang menyertainya berupa cuaca ekstrem dan peningkatan suhu bumi, terbukti merusak kesehatan fisik dan mental manusia.
Dalam penelitian mereka baru-baru ini mereka mengeksplorasi dan mengangkat berbagai aspek penyakit mental yang disebabkan oleh faktor perubahan iklim dari hasil penelitian di Bangladesh, negeri yang sangat rentan bencana akibat krisis iklim.
Tim peneliti menemukan, angin puting beliung yang sering melanda Bangladesh akibat dampak dari perubahan iklim telah membawa kerusakan psikologis bagi masyarakat Bangladesh. Populasi yang terdampak angin puting beliung ini menurut tim peneliti mengalami stres, trauma pasca bencana, kecemasan, depresi, dan gangguan tidur (Tasdik Hasan et al. 2020).
Gangguan jiwa atau kerusakan psikologis tidak berhenti di sini. Bencana topan ternyata juga meningkatkan gangguan psikologis selanjutnya berupa kekerasan berbasis gender, kekerasan seksual, dan pernikahan dini (Ahmed dkk. 2019a dan b; Rezwana dan Pain 2020).
Bagi penduduk yang tinggal di kawasan perbukitan, tim peneliti menemukan, perubahan iklim telah menimbulkan gangguan psikologis yang meliputi depresi, kecemasan, bunuh diri, dan peningkatan penggunaan narkoba (Kabir 2018). Wanita yang tinggal di daerah rawan bencana juga berisiko lebih tinggi mengalami depresi akibat cedera fisik dan ketidakhadiran kerja pasca-topan terjadi (Mamun et al. 2019a dan b).
Dampaknya sungguh dahsyat. Pola kerusakan psikologis di atas telah memicu gangguan kesehatan mental yang menjadi beban kesehatan yang signifikan bagi masyarakat. Data dari Bangladesh menunjukkan peningkatan prevalensi (kelaziman) gangguan jiwa secara nasional, dari 6,5% ke 31% (naik hampir 500%) pada orang dewasa, dan 13,4% ke 22,9% (naik hampir dua kali lipat) pada anak-anak (Hossain et al. 2014).
Temuan penelitian ini menunjukkan, beban kesehatan mental dari perubahan iklim di Bangladesh (baik pada saat ini maupun di masa depan) – dan kemungkinan di negara-negara lain yang mengalami bencana iklim yang sama seperti Indonesia – kemungkinan besar akan menjadi sangat signifikan, terutama di populasi-populasi yang rentan seperti masyarakat miskin di perkotaan, pedesaan maupun di wilayah pesisir. Masalah ini perlu mendapat perhatian yang lebih besar.
Untuk itu, tim peneliti menyatakan, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam terkait hubungan perubahan iklim dan kesehatan mental yang sangat menentukan kesejahteraan atau kualitas hidup masyarakat. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi hal-hal utama yang perlu menjadi perhatian, sehingga bisa menjadi bahan informasi penelitian dan kebijakan pada masa datang.
“Dunia perlu lebih memperhatikan pentingnya kesehatan mental dalam kebijakan perubahan iklim global,” tulis tim peneliti. Karena kesejahteraan iklim bermuara pada konsep yang sederhana: “Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment