Oleh: Swary Utami Dewi *

Masyarakat setempat menyebutnya Pantai Tuing. Pantai berpasir putih ini cukup panjang. Bagian kiri kanan pantai diakhiri dengan kelokan alam. Dari jauh kelokan itu menyerupai teluk. Jejeran pohon kelapa yang ditanam penduduk, serta deretan gazebo sederhana siap menemani pengunjung. Nampak, beberapa wisatawan sedang berenang, termasuk anak-anak. Konon, pantai ini tidak terlalu dalam. Sampai sejauh 200 meteran ke arah laut, titik terdalamnya sekitar 2 meter. Karena itu, cukup aman untuk berenang.

Bagiku, pantai ini bak perpaduan antara Pantai Panjang di Bengkulu, Pantai Mawun di Lombok Tengah dan Pantai Kuta di Bali. Cantik, bersih dan menyenangkan. Itulah gambaran Pantai Tuing, yang terletak di Dusun Tuing, Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pantai ini masuk dalam wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Bubus Panca.

Siang menjelang sore itu, 25 Oktober 2020, udara tidak terlalu terik. Matahari bersinar malu-malu dan angin bertiup sepoi. Di depanku duduk Sandi, pemuda berusia 33 tahun. Ia berdarah campuran antara suku Lom dengan Tionghoa. Suku Lom atau Lom, atau terkadang juga disebut Suku Mapur, merupakan suku asli tertua di Bangka Belitung. Suku Mapur pesisir terkadang kawin mawin dengan etnis Tionghoa yang konon sudah menghuni Pulau Bangka dan Belitung sejak masa kerajaan Sriwijaya dulu. Percampuran ini dimungkinkan karena masing-masing menghuni wilayah pesisir. Beda halnya dengan Mapur di pedalaman yang biasanya jarang berinteraksi dengan orang di luar suku mereka.

Sandi, nampak cukup aktif dan percaya diri. Ia merupakan anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Mapur Jaya Bersama. Senyumnya ramah, agak bergaya milenial sesuai usia dan zamannya. Ia mengenakan kaos warna marun. Sesaat kemudian muncul seorang perempuan baya datang membawakan pesananku: sup iga serta kelapa segar dipadukan dengan gula aren. Ayang namanya, berusia 62 tahun. Ia mengenakan kaos yang sama dengan Sandi. Rupanya itu adalah seragam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Pantai Tuing Indah, yang ada di bawah naungan KTH Mapur Jaya Bersama.

Semenjak Oktober 2017, KTH Mapur Jaya Bersama sudah mengantongi akses legal Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm), untuk memanfaatkan 50 ha kawasan hutan, dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Jumlah anggotanya 20 orang. Semuanya masyarakat desa asli, yang berdarah campuran Suku Lom/Mapur dan Tionghoa. Mereka turun temurun menghuni kawasan pesisir ini. Karena tinggal di pesisir, maka mata pencaharian mereka secara tradisional adalah nelayan dan berkebun tanaman yang cocok di area pantai, misalnya kelapa dan jenis tanaman buah lainnya. Generasi sekarang, seperti Sandi, masih memiliki areal kelola yang diturunkan dari buyutnya masing-masing. “Warisan” ini juga termasuk tanaman kelapa yang ditanam sejak zaman kakeknya dulu.

Sandi dan Ayang bercerita banyak tentang kelompoknya, ditemani sang pendamping yang merupakan penyuluh dari KPHP Bubus Panca, yakni Harowansa Edi Admaja. Ayang mengisahkan, dulu masyarakat takut mengutak-atik kawasan pesisir, yang merupakan bagian dari kawasan hutan lindung negara. “Kami dulu hanya bertanam kelapa dan pohon buah yang bisa tumbuh, misalnya durian. Juga bertanam sayur mayur sebagai tanaman sela. Tidak berani mengutak atik pantai, menebang pohon atau melakukan hal-hal lain. Pantai hanya merupakan tempat persinggahan kapal nelayan untuk pulang pergi melaut dan menanam kelapa,” tutur Ayang.

Sampai suatu ketika, tahun 2016, ada penyuluhan dari KPHP Bubus Panca dan Kelompok Kerja Perhutanan Sosial Provinsi (Pokja PPS) Kepulauan Bangka Belitung mengenai Perhutanan Sosial. Masyarakat kemudian tertarik untuk memanfaatkan akses legal tersebut dan membentuk kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm). “Ternyata kawasan hutan boleh dikelola masyarakat lokal ya, asal dilakukan secara baik dan tidak merusak. Kami semua baru paham” tutur Ayang polos.

Ada 20 orang yang lalu bersepakat membentuk kelompok. Terdiri dari 8 perempuan dan 12 lelaki. Mereka semua, seperti yang sudah dijelaskan tadi memang turun temurun memanfaatkan kawasan ini secara terbatas. Izin HKm keluar pada 2017 dan masyarakat mulai memperkuat kelembagaan dan menyusun rencana detil kelompok. Kelompok HKm ini sendiri diketuai oleh Aprilia, 27 tahun, yang merupakan anak perempuan dari Ayang. Meski lokasi Pantai Tuing ada di Desa Mapur, tapi lokasi HKm ini secara tradisional sudah lama dikelola juga oleh dua desa tetangga yang letaknya mengapit Mapur, yakni Desa Cit dan Desa Pugul. Karena itu, tidaklah heran jika anggota KTH Mapur Jaya Bersama ini beranggota petani dan masyarakat dari Desa Mapur, Cit dan Pugul.

Dianugerahi kawasan pantai yang indah dan wilayah pesisir yang subur, maka saat KTH Mapur Jaya Bersama mendapatkan ijin HKm dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017, hal pertama yang mereka, lakukan sesuai rencana kelompok, adalah menggenjot wisata, tepatnya ekowisata pantai. Dibentuklah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Pantai Tuing Indah sebagai salah satu unit di bawah KTH Mapur Jaya Bersama.

Persiapan pun dilakukan untuk membuat sarana prasarana seperti gazebo atau pondok kayu, kamar kecil khusus pengunjung, fasilitas parkir sederhana dan tempat sampah. Ada pula kantin sederhana untuk pengunjung. KUPS Pantai Tuing Indah juga membuat aturan kelompok tertulis yang memuat tentang iuran masuk, alokasi penggunaan uang pemasukan dan sebagainya. Peningkatan kapasitas untuk mampu melayani pengunjung pun dilakukan. Dalam hal ini tidak lelah-lelahnya para penyuluh dari KPHP Bubus Panca dan tim Pokja PPS Bangka Belitung mendampingi KTH ini.

Pantai Wisata Tuing resmi dibuka awal 2019. Ajaibnya, dalam waktu singkat, pantai ini menjadi terkenal dan menjadi destinasi wisata pantai baru di Bangka. Promosinya masih dari mulut ke mulut, tapi sudah mendapat animo dari wisatawan lokal. Dalam waktu beberapa bulan semenjak dibuka, saat akhir pekan dan libur, seribu pengunjung lebih menjejakkan kaki ke pantai indah ini. Pada hari-hari lain ratusan wisatawan juga datang. Karcis masuk per orang sangat terjangkau, yakni Rp 3.000. Sementara bagi yang membawa mobil akan dikenakan biaya parkir Rp 5.000 per mobil. Saat pandemi, selama beberapa bulan pantai ini ditutup. Namun belakangan sudah dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung.

Saat datang ke Pantai Tuing ini, aku bisa menyaksikan langsung keindahan alam dan dan merasakan kesejukan angin pantainya, juga kawasannya yang bersih. Di beberapa titik banyak ditemui tempat sampah. Kamar kecil untuk pengunjung bersihnya juga di atas rata-rata kawasan wisata rakyat lainnya. Dari kota Pangkal Pinang ke Pantai Tuing bisa dicapai dalam waktu kurang dari satu jam. Jalan masuknya bagus, dan lokasi parkir, yang masih di kawasan pantai, relatif luas. Pantas memang jika dalam waktu singkat pantai ini menjadi pilihan wisata dan digemari banyak orang.

Dalam waktu dekat direncanakan ada pengelolaan sampah yang lebih tertata di lokasi wisata sehingga kebersihan dan keindahan pantai bisa tetap terjaga. BPDASHL Baturusa Cerucuk telah bersepakat dengan kelompok untuk menukar setiap satu bekas kemasan air mineral dengan bibit. Di lokasi wisata juga akan dilengkapi beberapa tempat berfoto (booth). Selain itu akan ada penanaman bunga-bungaan seperti bunga matahari untuk menambah keasrian dan keindahan Pantai Tuing. Sementara untuk menjaga keamanan pengunjung yang berenang di pantai, akan didirikan beberapa menara pengawas. Juga akan dilatih beberapa penjaga pantai.

Selain fokus pada ekowisata pantai, KTH Mapur Jaya Bersama juga melakukan kegiatan agroforestri. Anggota kelompok dan keluarga, beserta masyarakat setempat, secara mandiri, telah melakukan penanaman kelapa dan pohon buah-buahan lain yang cocok tumbuh seperti mangga dan durian. Upaya budidaya madu kelulut juga telah dilakukan. Kerja kelompok ini juga mendapat dukungan dari BPDASHL Baturusa Cerucuk dalam bentuk pemberian 750 bibit mente.

Dalam waktu dekat, juga akan dilakukan penambahan variasi agroforesri seperti jeruk dan beberapa tumbuhan kayu lainnya seperti karamunting dan ketapang kencana. Selain agroforestri, upaya silvofishery juga akan digalakkan. Nila dan bandeng akan menjadi andalan.

KTH Mapur Jaya Bersama memang luar biasa. Semoga semangat dan upaya lokal untuk terus berkreasi dalam mengelola kawasan pantai dan hutan secara lestari dan mampu menyejahterakan rakyat bisa terus berlanjut.

–##–

* Swary Utami Dewi adalah Climate Reality Leader dan Anggota TP2PS, Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial.