Briefing Hari Hutan - KLH[Jakarta, 23 Maret 2015] – “Pemerintah sangat berkomitmen untuk mengurangi laju deforestasi hutan. Apalagi Presiden Jokowi juga berkomitmen untuk melanjutkan upaya pengurangan emisi 26 persen sampai dengan tahun 2020. Menjaga hutan merupakan salah satu pintu masuk untuk menjawab permasalahan tersebut. Mari kita bersama-sama kembali menghutankan Indonesia. Bersama-sama kita galakkan kegiatan menanam pohon dimanapun kita berada dan turut membantu melestarikan Hutan Indonesia”, demikian ajakan Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Revitalisasi Industri Kehutanan Dr. Ir. Bedjo Santoso, MSi yang disampaikan dalam Briefing Media “Menuju Hari Hutan Internasional” yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan Universitas Indonesia, Yayasan KEHATI, Garuda Indonesia, GIZ-Forclime, Multistakeholder Forestry Programme, Korea-Indonesia Forest Center,  Perum Perhutani, dan i-Radio pada 23 Maret 2015.

“Gerakan menanam dan memelihara pohon dapat berkontribusi menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca secara global. Ini juga dapat menurunkan luas lahan kritis di Indonesia,” sambung Bedjo Santoso.

Pada puncak peringatan Hari Hutan Internasional yang akan diselenggarakan pada 28 Maret 2015 nanti, akan diselenggarakan kegiatan penanaman di kawasan kampus Universitas Indonesia di Depok. Program ini sejalan dengan tema Hari Hutan Internasional 2015 yakni Hutan ǀ Iklim ǀ Perubahan. Selain itu juga akan dilakukan pencanangan Program Partisipasi Siswa Sekolah pada Pembangunan Hutan Kota dengan melibatkan 4 sekolah yakni Sekolah Citra Alam Ciganjur, Sekolah Alam Indonesia Cipedak, Sekolah Semut-Semut dan Sekolah Dasar Ricci II, Bintaro. Keempat sekolah ini akan dilibatkan dalam kegiatan penanaman, perawatan tanaman dan akan membuat project sekolah berkaitan dengan hutan Indonesia.

“Kegiatan penanaman Hutan Kota Universitas Indonesia ini merupakan bentuk dukungan terhadap implementasi UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang dengan target yang ingin ndicapai oleh Pemerintah adalah luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) paling sedikit 30% dari luas wilayah kota. Sedangkan pemilihan lokasi Hutan Kota di Universitas Indonesia sebagai lokasi penanaman dipandang sejalan dengan upaya pemerintah mendorong pembangunan Hutan Kota sebagai wahana rekreasi dan pendidikan lingkungan bagi masyarakat terutama pelajar,” kata Jatna Supriatna, Kepala Pustlibang Perubahan Iklim Universitas Indonesia.

Sementara itu, Ismayadi Samsoedin, Yayasan Sahabat Pohon Indonesia menyampaikan bahwa hutan kota seperti yang terdapat pada Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2012 tentang Hutan Kota memiliki fungsi dan manfaat untuk memperbaiki dan menjaga iklim mikro, daerah resapan air dan menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota, serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. “Upaya konservasi ex-situ pada ruang-ruang hijau di perkotaan, dan refungsionalisasi kawasan hijau, situ, danau, bantaran sungai sebagai daerah resapan air perlu dilakukan melalui pembangunan hutan kota dan ruang terbuka hijau yang terencana secara baik dan benar,” tambahnya.

Teguh Triono, Direktur Program Pelestarian dan Pemanfaatan Berkelanjutan, Yayasan KEHATI menuturkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati perlu ditanamkan sejak dari dini. “Dengan mengenalkan keanekaragaman hayati kepada anak-anak dan remaja maka kita dapat menitipkan harapan kelestarian hutan di tangan mereka. Yayasan KEHATI juga memiliki program partisipasi siswa sekolah dan mahasiswa pada pembangunan hutan kota yang dilakukan secara berkala. Harapannya, mereka dapat meneruskan tongkat estafet untuk melestarikan hutan kita sekaligus berkontribusi pada perkembangan intelektualitas anak dan remaja”.  Selain melalui siswa sekolah, Yayasan KEHATI selama ini telah aktif mendorong komunitas melakukan pelestarian keanekaragaman hayati baik secara in-situ (di hutan atau habitat aslinya) dan ex-situ di luar habitat aslinya, melalui taman keanekaragaman hayati, hutan kota, kebun sekolah dll.

Pohon-pohon yang ditanam nanti adalah jenis-jenis pohon asli Indonesia Bagian Barat yaitu kayu pertukangan seperti Meranti-merantian dan jenis-jenis buah langka seperti Kemang, Kepel, Kupa Gowok, Bisbul dan yang lain. Ada lebih dari 60 jenis pohon yang akan ditanam pada Hari Hutan Internasional tersebut.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Citra atau Adit di (021) 5701114 atau 5730159, email biroklndephut@yahoo.com