Es di laut Arktika (Kutub Utara) terus mencair dan luas wilayahnya mencapai titik terendah sepanjang sejarah.

Fakta ini terungkap dari hasil penelitian National Snow and Ice Data Center (NSIDC) yang dirilis Rabu (19/9).

Menurut para peneliti, es di Arktika mencair hingga tingkat tertinggi tahun ini pada 16 September.

Berdasarkan pencitraan satelit, luas cakupan es turun menjadi 3,41 juta km2, titik terendah sepanjang sejarah musim panas berdasarkan data pencitraan satelit. “Kita semua tahu tentang pemanasan global. Bukti fenomena ini akan terlihat pertama kali di Arktika,” ujar Mark Serreze, Direktur NSIDC.

Luas wilayah es Arktika, menurut NSIDC biasanya akan bertambah pada musim dingin saat matahari tidak menampakkan diri selama beberapa bulan, dan berkurang pada musim panas saat matahari bersinar terang.

Tiap tahun, es di laut Arktika menyusut hingga titik terendah pada bulan September. Tahun ini, titik minimum tersebut mencetak rekor baru pada 16 September dengan cakupan seluas 3,41 juta km2, turun dari luas wilayah es pada 4 September yang 4 juta km2 – terendah selama 33 tahun perekaman citra satelit.

“Penurunan ini menunjukkan tipisnya lapisan es di Arktika,” ujar Walt Meier, ilmuwan NSIDC. “Tipisnya lapisan es ini akan menyebabkan es terus mencair saat matahari terbenam dan musim gugur tiba.”

Para ilmuwan NSIDC telah mengamati perubahan besar dari luas wilayah es di Arktika. Dulu, wilayah Arktika diisi oleh es yang sanggup bertahan selama beberapa tahun. Saat ini, es di Antartika terus menipis dan mudah untuk mencair saat musim panas.

Es di Antartika telah lama menjadi pertanda perubahan iklim dan pemanasan global. Lapisan es di Arktika menurut NSIDC telah mengalami penurunan dramatis dalam 30 tahun terakhir. Tahun ini luas wilayah es di Arktika 50% lebih rendah dibanding rata-rata luas cakupan es dari tahun 1979-2000.

Redaksi Hijauku.com