Spekulasi di pasar keuangan membawa dampak besar bagi volatilitas harga pangan dan kemanusiaan.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal FAO, José Graziano da Silva minggu lalu (6/7). “Volatilitas harga pangan, terutama dengan intensitas yang telah berlangsung sejak 2007, memiliki dampak negatif tidak hanya bagi konsumen namun juga produsen miskin di seluruh dunia,” ujarnya membuka debat tingkat tinggi di markas besar FAO di Roma, Italia. “Dunia perlu lebih memahami dampak spekulasi harga pangan terhadap volatilitas harga,” tambahnya lagi.

Debat dengan tema ‘Food Price Volatility and the Role of Speculation’ ini mengundang sejumlah ahli komoditas, perdagangan dan pertanian dengan pembicara utama Presiden Republik Dominika, Leonel Fernández Reyna.

Dalam pidato pengantarnya, Graziano da Silva menyatakan, volatilitas harga pangan terkait dengan “spekulasi berlebihan di pasar derivatif, yang menyebabkan bertambahnya intensitas naik turunnya harga pangan dunia,” yang tidak disebabkan oleh “praktik yang biasa berlaku dalam bursa berjangka.”

Menurut FAO, Presiden Fernández telah membantu PBB meningkatkan perhatian akan masalah spekulasi harga pangan ini melalui resolusi yang ia usulkan dan kemudian disyahkan oleh Sidang Umum PBB, Desember, tahun lalu.

Presiden Fernández menyatakan, volatilitas harga pangan memiliki dampak yang sangat besar terhadap kemanusiaan. Ia juga memeringatkan semua pihak agar tidak menjadikan komoditas pangan hanya sebagai instrumen keuangan.

“Spekulasi finansial semakin meningkatkan fluktuasi pasar sehingga menimbulkan ketidakpastian – semua tindakan ini membawa dampak yang sangat besar bagi negara yang harus mengimpor pangan untuk memenuhi kebutuhan mereka,” tuturnya. “Dampak spekulasi ini sangat merusak dan kejam. Spekulasi bahkan bisa mengancam stabilitas politik suatu negara.”

FAO mencatat, dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2007, dunia telah menyaksikan kecenderungan naiknya harga pangan setelah cenderung turun dalam empat dekade terakhir. Pada tahun 2008 dan 2011, naik turunnya harga pangan secara ekstrem – yang sangat merugikan masyarakat dan petani miskin – ini bisa diamati dengan sangat jelas.

“Kenaikan harga pangan di sejumlah negara telah melampaui inflasi secara umum. Dampak ini sangat terasa bagi penduduk miskin yang menghabiskan hingga 75% pendapatan mereka untuk makan,” ujar Graziano da Silva.

Redaksi Hijauku.com