Oleh: Swary Utami Dewi *
Pada 26 Mei 2023 aku menjadi host podcast “Juru Buku” ke-25, bersama Bang Dwi Muhtaman . Ajang ini menampilkan Pinto Anugrah serta Dita dan Ayu sebagai tamu, yang berbagi cerita tentang buku berjudul: Memori Kolektif yang Dipagari TALANG yang Dijaga MAMAK. Buku ini memang ditulis langsung oleh empat anak muda generasi mutakhir dari suku Talang Mamak, dua perempuan dan dua lelaki. Talang Mamak sendiri merupakan suku tradisional yang menghuni wilayah sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Riau dan sekitarnya.
Saya terpesona dan salut mendengar cara Datuk Pinto, penulis muda asal Riau, yang didukung oleh organisasi yang dipimpin oleh Bang Andiko Sutan Mancayo , dalam mendorong keberanian mental 4 anak muda tersebut. Tanpa teori rumit, mereka mulai dari apa yang mereka alami sehari-hari di masyarakat. Pinto mendorong mereka untuk berani menulis apa yang ada di kepala dan hati. Urusan bagus tidaknya tulisan belakangan. Yang penting berani dan mau menulis.
Tradisilah yang kemudian diangkat dalam tulisan empat orang muda yang berusia di bawah 30 tahun ini. Berjumpalah saya di dunia virtual dengan Dita dan Ayu, sama-sama berusia 25 tahun, dari Desa Talang Parit, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Mereka berdua perlu menempuh perjalanan darat sejauh 10 Km untuk sekadar mendapatkan sinyal yang layak untuk mengikuti podcast ini. Keduanya menulis tentang adat dan tradisi di desanya, Talang Parit. Dita menulis “bedukun dan balian”, ritual penyembuhan secara adat khas Talang Mamak. Dengan sangat menarik, Dita mampu secara langsung tidak langsung, membandingkan “bedukun” yang tidak melibatkan perempuan dengan “balian” yang mengikutisertakan langsung perempuan. Dita yang tamatan sekolah menengah atas (SMA) memang berkeinginan menunjukkan peran penting perempuan dalam penyembuhan tradisional suku Talang Mamak tersebut.
Ayu, yang semula malu-malu, akhirnya ikut bicara tentang apa yang ditulisnya. Perempuan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) ini berani menulis dan menerima tantangan dari Datuk Pinto. Pikirannya ternyata serupa dengan Dita, yang juga tamat SMA. Ayu menonjolkan peran perempuan yang penting dalam “gawai”, upacara pernikahan khas Talang Mamak.
Baik Ayu maupun Dita mampu melihat, meski perempuan secara tradisi lebih ditempatkan pada ranah domestik, namun dalam adat mereka juga memiliki peran tersendiri. Ke depan mereka merencanakan untuk menulis lagi tradisi lain dari sukunya yang menggambarkan peran penting perempuan. Dahsyat. Secara tidak langsung proyek menulis buku ini mampu membawa penyadaran dan tindakan nyata dari dua perempuan muda untuk mengulik isu gender dalam sukunya.
Kegiatan menulis ini, tidak disangka-sangka juga mendapat apreasiasi dari para tetua adat dan tetua kampung. Perempuan ternyata bisa mempromosikan Talang Mamak melalui tulisan mereka. Begitu komentar mereka.
Mentoring dan pendampingan yang tepat serta empati yang membangkitkan rasa percaya diri dari Datuk Pinto, membuat potensi empat anak muda adat tersebut menyeruak. Mereka kemudian mampu menerima tantangan Pinto untuk menulis. Perasaan “marginal” mereka hilang, berganti keinginan untuk berkarya. Apa yang ada dalam pikiran dan perasaan diwujudkan dalam tarian pena yang menghasilkan berbagai cerita inspiratif tentang Talang Mamak.
Pelajaran penting lainya adalah untuk menghasilkan karya istimewa, seseorang tidak harus terhalang oleh tingkatan akademis formal maupun pengalaman menulis.Dita dan Ayu bersekolah hingga lulus SMA, sementara dua lelaki muda lainnya lulus sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah dasar (SD).
Proyek kreatif ini nyata mampu memberikan inspirasi dan diharapkan bisa terus digulirkan ke komunitas lainnya.
–##–
* Swary Utami Dewi adalah Wakil Sekretaris Jenderal Satupena.
[…] post Mengupas Memori Kolektif Talang Mamak appeared first on Situs Hijau […]
terimakasih informasinya menarik sekalii