Sebanyak 59,1 juta orang mengungsi di negeri mereka sendiri tahun lalu (2021), atau empat juta lebih banyak dari tahun 2020. Data ini disampaikan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (International Organization for Migration/IOM) Kamis, 19 Mei, mengutip Laporan Global tentang Pemindahan Internal atau Global Report on Internal Displacement (GRID) terbaru.

Lari dari bencana. Selama 15 tahun terakhir, sebagian besar perpindahan internal ini dipicu oleh bencana, dengan jumlah tahunan yang sedikit lebih tinggi dibanding perpindahan akibat konflik dan kekerasan. Bencana yang terkait cuaca seperti banjir, badai dan topan mengakibatkan sekitar 23,7 juta perpindahan internal pada tahun 2021. Kondisi ini terjadi terutama di negara-negara di wilayah Asia-Pasifik.

IOM memperingatkan, akibat dampak perubahan iklim yang semakin memburuk dan tanpa aksi iklim yang lebih ambisius, jumlah pengungsi ini akan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Konflik dan kekerasan. Sementara itu, konflik dan kekerasan memicu 14,4 juta pengungsi internal pada tahun 2021, meningkat hampir 50 persen dari tahun sebelumnya. Mayoritas perpindahan akibat konflik dan kekerasan ini terjadi di Afrika, khususnya Ethiopia dan Republik Demokratik Kongo. Sementara jumlah pengungsi di Afghanistan dan Myanmar mencapai rekor tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Anak-anak dan remaja, menyumbang lebih dari 40 persen dari jumlah total pengungsi internal tahun lalu. Hal ini menurut IOM akan berdampak pada kesejahteraan mereka pada masa sekarang dan yang akan datang. IOM menambahkan, masih ada kesenjangan dalam memahami dan menangani pengungsian internal dalam konflik. Mengisi kesenjangan data dan pengetahuan ini penting untuk menemukan solusi jangka panjang.

IOM selama ini bermitra dengan IDMC – yang merupakan bagian dari Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) – untuk menyediakan data yang andal dan akurat melalui Displacement Tracking Matrix (DTM), sumber data primer terbesar di dunia tentang perpindahan internal. Kedua organisasi tersebut menandatangani perjanjian empat tahun lalu untuk meningkatkan data dan mempercepat pembuatan kebijakan dan tindakan terkait pengungsi.

IOM juga menjadi co-chair International Data Alliance for Children on the Move (IDAC) sejak tahun 2020. Koalisi ini menyatukan pemerintah, organisasi internasional dan regional, organisasi non-pemerintah (LSM), think tank, akademisi, dan masyarakat sipil, guna meningkatkan statistik dan data tentang migran dan anak-anak yang dipindahkan secara paksa.

Redaksi Hijauku.com