Oleh: dr. Bintari Wuryaningsih *

Berbicara masalah sampah kita tidak bisa lepas dari penanganan dari hulu sampai ke hilir. Dari hulu di mana sampah itu bermula. Dan di hilir di mana sampah itu berakhir.

Di hulu adalah saat pertama kali sampah itu muncul. Bisa dari kawasan perumahan elit maupun perumahan kumuh, dari kawasan sekolah, kawasan perkantoran, tempat usaha, tempat wisata dll. Dan di hilir adalah saat sampah itu terakhir ditemukan. Bisa di tempat pembuangan akhir (TPA), di tepi sungai, di kaki gunung, bikin mampet got-got dan saluran pembuangan air kita, di persawahan, di pinggir jalan hingga yang paling berbahaya adalah sampah-sampah kita banyak yang bermuara di laut.

Banyak saya temukan sampah-sampah yg masih teronggok di pinggir pantai saat kegiatan clean op bersama komunitas. Ini artinya, kesadaran kita mengenai kebersihan lingkungan masih rendah. Apalagi kesadaran untuk memilah dan memanfaatkan sampah juga sama saja.

Seandainya sampah-sampah itu bisa dipilah-pilah di setiap kawasan mulai dari rumah, tempat usaha, tempat wisata sekolahan hingga perkantoran dan lain-lain. Paling tidak, pemilahan sampah bisa dimulai dari rumah tangga dulu. Sehingga, cerita botol minuman kemasan yang mengapung di lautan akan bisa diminimalisir. Sampah-sampah yg pada akhirnya akan ada di hilir tadi bisa diminimalisir kalau bisa diatasi dari hulu (dari sumbernya).

Di sinilah pentingnya peran ibu rumah tangga dalam urusan pemilahan sampah rumah tangga. Prosesnya sangat mudah:

1. Sampah anorganik yg masih punya nilai jual dimasukkan wadah-wadah dan disetor ke Bank Sampah, dirosok, didonasikan, dilakukan Daur Ulang maupun dibuat Eco Brick.

2. Sampah organiknya diolah menjadi Eco Enzyme, pupuk kompos, MOL, pupuk organik cair dan lain-lain. Selain bisa mengurangi anggaran buat beli detergen, membeli pembersih kloset, menbeli pengepel lantai, membeli pupuk untuk tanaman hias, kita juga bisa meningkatkan ketahanan pangan keluarga dg bertanam organik di lahan sempit. Manfaatkan pekarangan yang kita miliki untuk bertanam organik. Selain hasilnya bisa dinikmati oleh keluarga, sampah organik kita di rumah juga bisa termanfaatkan dg baik.

3. Sampah yg sudah tidak bisa diapa-apakan lagi dinamakan “sampah residu” seperti baterai, pengharum ruangan dan sampah B3 seperti pospak / popok sekali pakai, pembalut, masker medis dan lain-lain. Sampah residu ini adalah sampak yang tidak bisa kita kelola dari rumah. Sampah-sampah itulah yg kita buang ke tong sampah depan rumah. Tentunya setelah melewati prosedur disemprot desinfektan dan lain-lain untuk sampah medis berhubung sifatnya yg infeksius.

Setelah pemilahan sampah kami terapkan, produksi sampah keluarga kami dalam satu hari tidak melampaui 0,5 kg. Jumlah yang sangat signifikan utk mengurangi (reduce) sampah yang akan dibawa ke TPA. Di sini pentingnya peran anggota keluarganya utamanya para ibu dalam pengelolaan sampah.

Kalau Anda masih berpikir, untuk apa repot-repot memilah sampah, sementara sudah ada petugas kebersihan yg akan memilah sampah saya? Pemikiran yang salah.

Budaya pemilahan sampah menjadi ciri masyarakat di negara-negara maju seperti di Korea dan Jepang. Masyarakat di dua negara tersebut sudah terbiasa memilah sampah. Mereka memisahkan kertas-kertas, plastik, kaleng dan sampah organik dan membawanya ke TPS (tempat penampungan sementara) yg sdh ditentukan waktu penyetorannya. Misalnya Senin untuk setor sampah plastik, Selasa setor sampah kertas, Rabu setor sampah residu dan seterusnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Di sini, kita bisa memilah sampah dan membawanya ke bank sampah untuk didaur ulang kembali menjadi bahan baku industri daur ulang.

Permasalahannya, di Indonesia, pemilahan sampah dari sumbernya ini belum disosialisasikan dan dilaksanakan secara konsisten. Coba kalau semua orang mau memilah sampah dari sumbernya dan memanfaatkan sampah sesuai jenisnya. Indonesia tidak perlu lagi mengimpor sampah dari luar karena bahan baku sampah kita melimpah dan terbengkalai di mana-mana.

Aksi ini sesuai dengan konsep “circular economy” mengingat masyarakat Indonesia masih banyak yang menggantungkan hidupnya dari kegiatan mengelola sampah ini.

Nah! Mari Ibu-Ibu, kita mulai pilah sampah dari rumah. Seperti Ibu-Ibu di Jepang dan di Korea. Aksi keren ini, jika terlaksana menjadi pertanda kesadaran akan kebersihan dan kelestarian lingkungan sudah semakin baik. Ayo Indonesia bisa!

–##–

* dr. Bintari Wuryaningsih adalah pegiat kebersihan lingkungan, Founder Komunitas Banyuwangi Osoji Club, Ketua Bank Sampah RSI Fatimah Banyuwangi.

#edukasitiadahenti

#salam_osoji

#pilahsampahdarirumah

#indonesiadaruratsampah

#influencerindonesia