Berbeda dengan negara-negara barat yang membangun kekayaan mereka dari energi fosil, Asia akan menjadi raksasa energi baru dunia. Blokade Selat Hormuz menjadi salah satu katalisnya. Asia akan mengubah tatanan global.
Optimisme ini terungkap dalam laporan terbaru Ember berjudul “Electric Asia, How Asia is Leading the Electric Age, Powering Its Rise and Reshaping the Global Order,” yang dirilis baru-baru ini.
Tim penulis yang terdiri dari Daan Walter, Sam Butler-Sloss, Antoine Issac, Kingsmill Bond, Aditya Lolla menyatakan, sekarang adalah waktunya bagi Asia untuk membangun kejayaan dan masa depan dengan berfokus pada elektrifikasi.
Pertumbuhan energi Asia menurut laporan ini sungguh menggetarkan. Kawasan ini menghasilkan lebih dari setengah listrik dunia dan menyumbang tiga perempat pertumbuhan permintaan listrik global sejak tahun 2000. Prestasi ini berhasil menyalip negara-negara Barat sejak tahun 2016 dengan pertumbuhan listrik yang lima kali lebih cepat.
Dan ketika bicara Asia, kita tidak hanya bicara tentang China. Negara-negara di Asia Tenggara – Indonesia salah satunya – telah melampaui Amerika Serikat (AS) dalam hal elektrifikasi sejak tahun 2023 dan pangsa pasar kendaraan listrik (Electric Vehicle) sejak tahun 2024. Sementara negara-negara di wilayah Asia Selatan telah melampaui AS sebagai pangsa pasar tenaga surya sejak tahun 2022. Yang lebih menggetarkan lagi Asia – tidak termasuk China – adalah produsen terbesar kedua panel surya dan komponen baterai dunia.
Faktanya adalah Asia kekurangan bahan bakar fosil. Wilayah ini hanya memiliki 4% dari cadangan minyak dan gas global, dan mengimpor $ 1,1 triliun bahan bakar fosil setiap tahun atau 31% dari permintaan energi primernya. Akibatnya, Asia mengimpor 62% bahan bakar fosil global.
Kabar baiknya, Asia kini menjadi negara adidaya elektroteknologi. Asia memproduksi lebih dari 95% panel surya, 85% baterai, dan 75% turbin angin. Wilayah ini juga memiliki sumber daya matahari dan angin yang kapasitasnya cukup untuk memasok setidaknya 14 kali total permintaan energi wilayah ini dan 100 kali lebih besar dibanding produksi minyak dan gas.
Penurunan biaya teknologi listrik telah membuka pintu untuk perubahan dengan lebih cepat. Teknologi penyimpanan energi surya dan energi bersih lainnya lebih murah daripada pembangkit listrik energi fosil di sebagian besar wilayah Asia. Mobil listrik sekarang lebih murah daripada mobil bensin di banyak pasar di Asia. Lebih dari 70% sistem energi di Asia sudah dapat dialiri listrik menggunakan teknologi yang tersedia secara komersial. Tak satu pun dari tanda-tanda positif ini yang ada lima tahun yang lalu. Hanya dalam 5 tahun wilayah Asia telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa.
Bagaikan berkah tersembunyi, penutupan Selat Hormuz adalah katalisatornya. Pada tahun 2024, Asia mengimpor 45% minyaknya dan 30% LNG-nya dari Timur Tengah, membuat kawasan ini secara unik rentan terhadap gangguan geopolitik dan guncangan harga bahan bakar. Harga tinggi dan kekurangan bahan bakar fosil memaksa negara-negara Asia memikirkan ulang kebijakan energinya.
Wilayah ini berupaya untuk mendapatkan kembali kedaulatan energinya dan mengurangi defisit perdagangan. Elektrifikasi sektor transportasi mampu mengurangi separuh impor minyak dan menghemat lebih dari $300 miliar per tahun. Sementara upaya mempercepat penyebaran energi terbarukan dan mengurangi penggunaan LNG berhasil mengurangi biaya bahan bakar fosil dan polusi udara dalam ruang.
Hadiahnya adalah kejayaan yang diramalkan akan menjadi milik Asia. Investasi senilai satu triliun dolar setahun terus dialihkan dari yang dulu dipakai untuk impor bahan bakar fosil menjadi dana pengembangan energi listrik bersih. Pertumbuhan ekonomi akan terjadi lebih cepat, keamanan energi menjadi lebih besar, dan Asia berada di posisi terdepan dalam industri teknologi listrik yang akan dibeli oleh negara-negara di wilayah lain di dunia selama beberapa dekade mendatang. Bonusnya, udara di wilayah Asia akan menjadi lebih bersih. Saat ini sembilan dari sepuluh orang di Asia masih terpapar polusi udara di atas ambang batas WHO.
Bagaimana nasib Indonesia? Kejadian mati listrik bergilir adalah bukti bahwa negeri ini telah terjebak dalam siklus kotor energi minyak dan batu bara. Jika tidak segera memanfaatkan gelombang peralihan ke energi bersih dan terbarukan, seperti di negara-negara Asia yang lain, Indonesia akan terus merana, gagal memanfaatkan potensi energi bersih akibat korupsi dan buruknya tata kelola energi nasional.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment