Oleh: Swary Utami Dewi *
Akhir September 2021, aku berkesempatan bertemu petani hutan di Kabupaten Jailolo, Maluku Utara, tepatnya di Desa Bobo Jiko. Saat itu aku melakukan kegiatan Perhutanan Sosial bersama tim Strengthening Social Forestry (SSF) dan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk wilayah Maluku Papua. Di desa ini masih banyak ditemukan pohon pala dan cengkeh kokoh berusia lebih dari lima puluh tahun. Umumnya dua tanaman ini ditemukan di kawasan hutan yang dikelola masyarakat secara turun temurun.
Menurut keterangan Kepala Desa Bobo Jiko, Arman P. Wahid, pala dan cengkeh merupakan rempah andalan Maluku Utara, juga tentunya bagi Halmahera Barat. Dua tanaman ini memang sudah berabad-abad menjadi bagian hidup masyarakat di kawasan Maluku Utara dan juga Maluku.
Dua komoditas utama ini pernah begitu bernilai pada abad pertengahan lalu, sehingga menjadikan Kerajaan Portugis dan Spanyol di masa lampau bersaing ketat. Portugis berhasil menerabas masuk hingga wilayah Maluku dan Maluku Utara, menorehkan catatan sejarah kolonialisme bagi wilayah ini, juga bagi Nusantara bagian timur pada umumnya.
Kini, komoditas rempah ini bersama beberapa produk andalan lainnya tetap menjadi harapan hidup masyarakat desa, yang memang masih selalu menggantungkan hidupnya dari kawasan hutan. Perhutanan Sosial diharapkan mampu menjaga ritme penghidupan ini, sehingga jejak tradisi masih bisa tercatat, ekonomi masih terus bergulir, dan ekologi masih terus memberikan perlindungan bagi wilayah cantik ini.
–##–
* Swary Utami Dewi adalah anggota Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial TP2PS.
Leave A Comment