Oleh: Swary Utami Dewi *

Air… Sesuatu yang dulu langka di wilayah ini sekarang menjadi ada dan tersedia. Saya yang datang bersama Tim Evaluasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Pemerintah Daerah setempat untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) di Daerah Istimewa Yogyakarta, terpana melihat beberapa keran air di lokasi wisata Punthuk Kepuh. Seorang petani HKm dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Wonorejo nampak membasuh mukanya. Punthuk Kepuh sendiri adalah kegiatan wisata yang dikelola oleh KTH ini. Saat itu, saya dan tim bertugas melakukan evaluasi izin Perhutanan Sosial untuk mengetahui perkembangan implementasi program tersebut.

“Kami tidak menyangka bisa sejauh ini. Sewaktu menerima izin Hutan Kemasyarakatan (HKm) tahun 2007, pikiran kami hanya untuk mengembalikan fungsi hutan. Dulu tempat ini dan sekitarnya disebut Wono Pejaten oleh leluhur kami. Wono berarti alas atau hutan, pejaten artinya jati. Leluhur kami dulu tidak kekurangan air karena keberadaan alas. Namun ada masa di mana tanah kami menjadi gundul. Pohon sangat jarang ditemui. Kering.. Air susah didapat. Kami harus berjalan jauh mengambil air. Perempuan mengambil air di blek (bekas kaleng minyak) yang digendong di punggung. Laki-laki memikul blek air dengan bambu di bahunya. Maka melalui HKm, kami berjuang untuk menghijaukan wilayah ini. Dan sekarang terasa hasilnya. Dulu susah air dan kering. Sekarang air mudah diperoleh. Binatang-binatang hutan, utamanya burung, makin banyak. Udara lebih sejuk. Kami punya rencana masa depan.” Inilah garis besar tutur syukur gembira dari Suparman, sang Ketua KTH Wonorejo.

Hari itu, 27 Mei 2021. Saya dan beberapa rekan mengunjungi lokasi Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang dikelola KTH Wonorejo di Desa Katongan, Kecamatan Mlipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. KTH ini makin berbenah diri. Dimulai dari izin HKm yang keluar tahun 2007. Kelompok HKm ini pada awalnya hanya berfokus pada penanaman jati. Mengapa jati menjadi pilihan? Jati cocok dengan kondisi tanah di lokasi ini yang dominan berbatu gamping/kapur yang keras. Tanaman jati sanggup dan cocok tumbuh di tanah berbatu kapur. Masyarakat di sini kerap bergurau tentang kerasnya kondisi alam di wikayah ini. “Jati atau gundul. Itu saja pilihannya. Ini karena tanah yang kami miliki adalah tanah berbatu kapur yang keras,” jelas Suparman.

Lokasi HKm Wonorejo, beserta beberapa HKm lain di Kabupaten Gunungkidul memang didominasi batu kapur yang keras. Bahkan, kerap ditemukan ketebalan tanah yang hanya beberapa sentimeter, lalu di bawahnya langsung ditemui batu kapur keras yang tebal dan dalam. Saking dominannya batu kapur yang keras ini sampai muncul guyonan di masyarakat setempat bahwa lokasinya adalah batu yang bertanah, bukan tanah yang berbatu.

Karena alasan kecocokan dengan kondisi alam di Desa Katongan ini, maka jatilah yang menjadi pilihan utama. Di beberapa titik juga ditemukan tanaman jati yang dipadukan dengan mahoni dan akasia. Dulu saat jati masih belum rimbun, masyarakat masih bisa menanami beberapa jenis palawija yang cocok dengan tanah kapur, yakni jagung dan ketela pohon. Kini, jati sudah makin rimbun. Di beberapa tempat, jati hidup subur berpadu dengan mahoni dan akasia serta beberapa jenis tanaman lain yang cocok di lokasi HKm Wonorejo.

Kini, dampak apa yang dirasakan masyarakat sesudah mengelola kawasan hutan negara seluas 100 hektar sejak 2007? Suparman bercerita bahwa kondisi ekologis yang membaik terlihat dari lumayan hijaunya tempat ini. Membaiknya kondisi ekologis lalu berakibat pada lebih mudahnya masyarakat mendapatkan air di lokasi HKm, semakin banyaknya burung dan beberapa jenis satwa lain serta lebih sejuknya udara di lokasi HKm dan sekitarnya. Suparman menambahkan beberapa hambatan kelembagaan dan kapasitas tentu saja dialami. Bahkan saat melakukan kegiatan panen jati pada 2019 di blok tertentu sesuai rencana, KTH Wonorejo yang merupakan kelompok HKm kayu, tidak mendapatkan keuntungan. Panen jati memerlukan cara teknis dan biaya tersendiri serta hal-hal lain. “Kami perlu belajar banyak tentang ini” tutur seorang pemuda anggota HKm, yang menjadi koodinator kegiatan panen jati 2019 lalu. Namun, semua proses belajar ini tidak menyurutkan langkah HKm Wonorejo.

Saat melihat perkembangan ekowisata di banyak tempat, termasuk di lokasi HKm Mandiri, Kalibiru, HKm Wonorejo pun menjadi terinspirasi. Kegiatan wisata Punthuk Kepuh mulai dirintis sejak 2019. Tentu saja berbasis masyarakat karena pengelolanya adalah para anggota HKm ini sendiri. Punthuk Kepuh terletak di daerah perbukitan di salah satu titik wilayah kelola KTH Wonorejo. Nampak sejauh mata memandang terbentang pemandangan indah perbukitan di sekeliling areal wisata ini.

Dalam kegiatan wisata yang idenya berasal dari Muji, seorang pemuda desa yang pernah jadi pemandu wisata di Gua Pindul, HKm Wonorejo melibatkan para pemuda Karang Taruna dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang ada di desanya. Selain itu, kelompok perempuan juga terlibat, utamanya untuk mengurus kuliner tradisional di kantin kecil. Belasan perempuan yang aktif umumnya anak-anak dari para petani anggota HKm ini. Ada juga janda mati yang suaminya dulu juga anggota KTH Wonorejo. Dukungan dana rintisan untuk membangun sarana awal di wilayah hutan produksi ini diberikan oleh Pemerintah Provinsi Yogyakarta. Rancangan kelola wisata dilakukan bersama-sama oleh KTH dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan beserta Dinas Pariwisata setempat.

Sesudah dua tahun, Punthuk Kepuh makin menancapkan diri. Selama pandemi, kegiatan wisata dengan menerapkan protokol kesehatan dilakukan. Pemuda-pemudi setempat juga terus berlatih untuk mengembangkan kapasitas sebagai pemandu wisata, pengelola kuliner dan hal-hal terkait lainnya. Sejauh ini, promosi tentang Punthuk Kepuh sudah bisa ditemui di media sosial, yakni Facebook dan Instagram.

KTH Wonorejo juga mulai mengidentifikasi beberapa lokasi wisata lain di wilayah HKm-nya, misalnya lokasi wisata relijius dan treking alam. Kegiatan HKm lain seperti ternak skala kecil (kambing dan sapi) juga akan dikembangkan karena rumput gajah untuk pakan ternak bisa tumbuh di tanah berkapur. Penanaman jati dan tanaman lain yang cocok juga terus dilakukan. “Kami bertekad menanam dan memelihara jati dan tanaman lain yang cocok di sini. Namun mendatang tidak untuk dipanen lagi, Bu, tapi untuk menjaga kesuburan di wilayah ini,” tegas sang ketua.

Kegigihan dan daya juang HKm Wonorejo memang mulai menampakkan buah manis. Wisata mulai berkembang dan dukungan provinsi akan terus diberikan. Wonorejo pun terus berbenah diri untuk berkembang sesuai potensi wilayahnya.

-##-

* Swary Utami Dewi adalah Pegiat Perhutanan Sosial dan anggota Board Kawal Borneo.