Oleh: Prof. Hariadi Kartodihardjo *

Mungkin tidak berlebihan apabila kita sebut bahwa kehidupan pribadi kita bersifat politis dan keheningan kita—apa yang tidak kita pertanyakan—adalah sebanyak tindakan pengambilan keputusan seperti yang kita suarakan dan kita kerjakan. Untuk itu keingintahuan kritis sesungguhnya menjadi proses pengungkapan yang tidak pernah berakhir. Proses itu melibatkan ketulusan dan kemampuan untuk mengakui kesalahan, demi perbaikan apa saja yang kita pikirkan dan tidak peduli seberapa keras atau berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Sebagian besar dari kita pun pernah memiliki pikiran yang terjajah. Dipaksa hanya memperoleh informasi tertentu tanpa informasi lainnya, dipaksa memahami kesimpulan-kesimpulan tanpa tahu seperti apa proses awalnya, ataupun hanya mendapat kesempatan sangat sedikit, bahkan tidak ada kesempatan sama sekali, untuk menyatakan keingintahuan. Ini dapat terjadi baik di dalam kehidupan nyata sehari-hari ataupun di dalam kelas-kelas dimana proses pendidikan-pengajaran berlangsung.

Buku Curiosity Studies:A New Ecology of Knowledge, yang disunting oleh Perry Zurn dan Arjun Shankar (2020), menyebut bahwa rasa ingin tahu harus menjadi jantung dari setiap institusi pendidikan, karena rasa ingin tahu dapat mendorong generasi pengetahuan baru. Tidak sebatas itu, keingintahuan juga menjadi bekal terwujudnya masyarakat kritis, yang menjadi pondasi demokrasi.

Istilah “ekologi pengetahuan” dalam buku itu merujuk pada cara di mana pengetahuan berfungsi di dalam lingkungan dinamis yang berlapis-lapis. Berkembang sejalan dengan pemikiran sistem, teori kompleksitas, dan ilmu jaringan. Kerangka kerja ekologi pengetahuan menolak untuk mempertimbangkan produksi pengetahuan dalam isolasi—misalnya terbatas pada ilmuwan, laboratorium, disiplin, atau vektor penelitian tertentu—sebaliknya tumbuh melalui interaksi antar bahasa, sejarah, materi, lembaga, sumber pendanaan, kelompok sosial, maupun lingkungan alam.

Dengan demikian, pandangan ekologis tentang keingintahuan membantu dalam pengembangan akun fungsional, politik, maupun lintas disiplin. Kerangka kerja ekologi pengetahuan didasarkan pada kriteria-kriteria yang saling melengkapi antara sains dan politik. Bekerja, di satu sisi, melawan ilmu abstrak, positivis, reduksionis dan, di sisi lain, melawan sistem politik kapitalisme, patriarki, dan kolonialisme. Dengan istilah “ekologi pengetahuan” dalam sub judul buku itu, karena penulisnya menolak secara tegas silo akademis dan monokultur intelektual.

Perlawan itu terjadi karena di dunia nyata, khalayak bergulat secara langsung dengan sistem kapitalisme yang terus menghasilkan sekolah-sekolah atau lebih luas menghasilkan cara-cara belajar yang “tidak peduli dengan rasa ingin tahu”, seperti yang dikatakan Ta-Nehisi Coates, “tetapi [dengan] kepatuhan.” Dan ironinya, mereka tidak memiliki kesadaran kritis mengapa hal itu terjadi dan, oleh karena itu, tidak dapat memfasilitasi proses belajar dan masyarakat berbasis rasa ingin tahu secara sistematis. Mengapa para pendidik—baik di K-12, perguruan tinggi, atau lingkungan pendidikan lainnya—tahu bahwa keingintahuan adalah pusat pendidikan, tetapi tidak tahu bagaimana mengembangkannya?

Hal itu terjadi karena intelektual, guru atau dosen secara tradisional telah menjadi bagian dari alat kontrol penguasa, menghasilkan dan menyebarkan pengetahuan yang bekerja atas perintah kepentingan kapitalis dan karena itu—disadari atau tidak—ikut mempertahankan hegemoni sosial. Untuk itu diperlukan pedagogi kritis yangmana seluruh proses pembelajaran ditujukan untuk melawan kekuatan penindasan ekonomi dan politik dengan secara kritis memperhatikan — dan menjadi penasaran tentang — bagaimana hubungan kekuasaan hegemonik dan basis pengembangan sosial ekonominya.

Buku ini menawarkan penjelasan tentang mengapa dan bagaimana menumbuhkan rasa ingin tahu secara sadar dalam lingkungan belajar di dalam atau di luar sekolah. Pertama, perlu memahami teori pendidikan seperti pedagogi pembelajaran berdasarkan pengalaman, pedagogi feminis, pedagogi kritis, dan pedagogi abolisionis. Kedua, menyadari bahwa proses sosial, budaya, politik, dan ekonomi, semuanya membentuk siapa yang dapat menjadi ingin tahu, tentang apa, dan kapan. Maka, pedagogi keingintahuan bertujuan untuk tetap bertanggung jawab pada proses sosiopolitik di mana rasa ingin tahu ditanamkan atau ditekan. Pedagogi seperti itu bergantung pada praktik afektif refleksivitas, perhatian, empati, ketidakpastian, dan pertanyaan transformatif.

Ketiga, mengidentifikasi beberapa elemen kunci dari tugas berbasis keingintahuan di mana dalam proses belajar dari semua latar belakang disiplin ilmu dapat memfasilitasi pertumbuhan keingintahuan kritis pada para pembelajarnya. Elemen-elemen ini termasuk kepemimpinan, pola pikir penelitian, lingkungan kolaboratif, keluaran multimoda, aplikasi kehidupan nyata, dan keterlibatan komunitas.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa pedagogi pembelajaran berdasarkan pengalaman bersikeras bahwa belajar adalah proses pengalaman dinamis, yang berakar pada lingkungan fisik dan sosial dan integral dengan konstruksi demokrasi. Di sini konsep “tujuan fleksibel” dikembangkan, yang memungkinkan berbagai interpretasi informasi dan kemampuan untuk mengubah arah tindakan seseorang berdasarkan informasi baru. Komunitas belajar berjalan menurut apa yang bekerja dalam proses sehari-hari, hasil penyelidikan dan eksperimen, adaptasi, dan kerjasama. Di sini kecerdasan multidimensi dan imajinasi dihidupkan.

Pedagogi feminis mengakui bahwa teori dan praktik pendidikan klasik dikembangkan oleh dan untuk kelompok orang tertentu dan bukan yang lain: terutama, wanita dan anak perempuan. Pedagogi ini berfokus pada siapa yang ada di ruang belajar dan bagaimana hal itu harus atau dapat mengubah proses pembelajaran. Pedagogi feminis bertujuan untuk mendekolonisasi kurikulum, berinvestasi dalam praksis antirasis, dan menerapkan desain universal. Juga bertujuan agar para pembelajar menjadi pribadi seutuhnya, mendorong mereka dalam proses penciptaan pengetahuan serta mengembangkan aplikasi dunia nyata.

Terakhir, pedagogi abolisionis menanggapi dengan serius keingintahuan yang tertanam dalam strategi dan taktik para pedagog antirasis untuk memulai pekerjaan membebaskan masyarakat dari efek kekerasan rasisme. Dengan demikian, pedagogi abolisionis memperkenalkan kembali sejarah yang telah dihapus secara sistematis — yang berasal dari masyarakat adat dan yang sebelumnya diperbudak — dan secara paksa mengungkap mitologi ras yang terus mendasari wacana publik. Dalam konteks ini, rasa ingin tahu harus dilihat sebagai bagian dari perjuangan antirasis, yang terus-menerus membuka narasi yang mempertahankan supremasi dan superioritas, dan memuji sejarah genosida sebagai “takdir.” Pada kategori ini juga terdapat “pedagogi buronan” yang berakar pada “intelektual subversif” karena melawan ketidak-adilan dalam perbedaan ras. Garis pertanyaan “subversif” ini menantang batasan rasis dalam belajar dan menariknya ke arah model keingintahuan yang membebaskan, daripada menindas.

Secara keseluruhan, keempat tradisi pedagogis di atas memberikan kerangka kerja baru yang menantang untuk memahami dan menumbuhkan keingintahuan di dalam proses belajar. Mereka mendorong para pedagog untuk berpikir di luar aturan, konsep, atau prinsip berbasis konten tertentu, untuk merekonseptualisasikan pembelajaran sebagai proses dinamis yang didorong oleh para pembelajar, dan untuk mengidentifikasi serta menolak hierarki yang tersirat di ruang belajar. Mereka menggarisbawahi bahwa keingintahuan adalah kapasitas alami, tunduk pada pelatihan dan ap ayang berkembang, tetapi mereka juga menekankan bahwa keingintahuan saling berhubungan secara lingkungan, tertanam secara sosial, dan dinamis secara politik.

Semua itu dalam pelaksanaannya menantang asumsi kita tentang apa itu pembelajaran, di mana itu terjadi, dan dari siapa kita dapat belajar, adalah prasyarat untuk pedagogi keingintahuan. Semua itu membutuhkan perubahan kebiasaan dan bahkan perubahan perasaan.

Buku ini mengusulkan beberapa praktik afektif kunci bagi pedagogi keingintahuan itu. Ini termasuk mempraktikkan refleksivitas diri yang tulus, mengembangkan sikap empatik, menciptakan dan menikmati ketidakpastian daripada menyelesaikan atau menolaknya, serta mempertanyakan norma-norma sosiokultural serta mengkritisi struktur dan institusi kekuasaan.

Bagaimana tampilan kebiasaan yang berubah tersebut dalam praktiknya? Misalnya bila di sekolah atau kampus atau bahkan lebih luas lagi dalam diskusi di media sosial, dialog komunitas antaragama, dialog warna dan negaranya, dan sejenisnya?

Sejauh ini, praktik-praktik yang menjawab keingintahuan dan membantu mewujudkan pertanyaan kritis, keterlibatan secara dialogis, mendemokratisasi proses belajar, dan menjungkirbalikkan skema ideologis dan hierarki sosial, yaitu mereka yang mampu berjalan dengan langkah-langkah ke arah mengintegrasikan komitmen pedagogis pengalaman, feminis, kritis, dan abolisionis seperti dijelaskan sebelumnya.

–##–

* Profesor Hariadi Kartodihardjo adalah Guru Besar Kebijakan Kehutanan di Fakultas Kehutanan dan Pascasarjana, IPB University.