Oleh: Swary Utami Dewi *

“Bu, kita ke Kalimantan Tengah.” Dengan gembira aku menerima tugas beberapa hari ke kota cantik ini, karena berarti aku bisa menjenguk kembali tempat kelahiranku, Palangka Raya. Juga tempat di mana ada mama, saudara-saudara dan keluarga besarku.

Saat tiba, teman-teman dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut ada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari Desa Tanjung Sangalang. Aku terlonjak kaget dan senang. Tanjung Sangalang adalah tempat lahir mamaku. Lewu’ (istilah Dayak Ngaju untuk kampung atau desa) ini berlokasi di pinggir Sungai Kahayan, tepatnya di bagian tengah dari sungai terpanjang di Kalimantan Tengah ini.

Seumur hidup aku belum pernah menginjak Tanjung Sangalang, tempat lahir mama dan tempat bermukim leluhur dari pihak mama. Maka pada sore 17 Oktober 2020 itu, aku merasa bersyukur bisa menginjak desa ini bersama tim dari KLHK yang sedang menjalankan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) agroforestri. PEN ini sendiri salah satunya menyediakan pelatihan dan dukungan terkait upaya-upaya pengembangan agroforestri di beberapa tempat di Kalimantan Tengah. Tujuannya agar masyarakat pelaku usaha agroforestri bisa bertahan bahkan terus bergerak di masa pandemi, yang nantinya bisa berdampak pada perbaikan pendapatan sekaligus penguatan pangan masyarakat/kelompok Perhutanan Sosial. Dan di salah satu lokasi program PEN inilah aku menjejakkan kaki. Tepatnya, di Desa Tanjung Sangalang.

Cerita dari mama (nama mamaku adalah Turiana Bungan), dulu, sewaktu ia duduk di sekolah dasar, Turiana kecil harus bangun jam 3 dini hari untuk mandi lalu bersiap ke sekolah di Pahandut. Zaman itu, tahun 1950an, dari Tanjung Sangalang ke Pahandut di Palangka Raya, hanya bisa ditempuh melalui Sungai Kahayan. Maka pagi-pagi buta, mama dan sepupunya sudah ‘mambesei’ (mengayuh ‘jukung’ atau perahu kecil) selama berjam-jam untuk bisa tiba di sekolah pagi hari tepat waktu. Sekarang, dari kota Palangka Raya ke Tanjung Sangalang sudah terhubung dan bisa ditempuh melalui jalan darat sepanjang 6 km. Hanya dalam hitungan menit. Aku takjub membayangkan perjuangan ‘mambesei’ saat mama bersekolah dulu, dibandingkan mudahnya aku bisa meraih desa ini sekarang. Tanjung Sangalang kini masuk dalam Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau.

Saat aku dan teman-teman dari KLHK sampai ke desa ini, ada rasa girang dan penasaran. Sesaat aku membuka masker untuk minum. Satu dari ibu yang sudah berkumpul di Balai Desa berteriak spontan dalam bahasa Dayak Ngaju. “Ibu mirip Mina Ndu Lessi.” Aku spontan menjawab, itu nama saudaraku. Mama memang sering bercerita tentang saudara-saudaranya, termasuk Mina Ndu Lessi. Aku pernah bertemu beberapa kali dengan tante mamaku ini sewaktu aku masih kecil di Palangka Raya dulu.

Sore itu, semangatku pun makin membara, saat aku bisa berbincang dengan dua KUPS yang mayoritas anggotanya perempuan di Desa Tanjung Sangalang ini. Satunya KUPS Perikanan, satunya lagi Agroforestri. Dan semuanya ada di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kahayan Tengah. Ada belasan ibu yang hadir, ditambah beberapa petani laki-laki. Dua KUPS ini merupakan bagian dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Tanjung Sangalang.

Di bawah LPHD ini ada total 4 KUPS, yakni Agroforestri, Perikanan, Jamur Tiram dan Madu Kelulut. Semua anggota KUPS ini telah mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas agroforestri yang digawangi oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) KLHK, sebagai bagian dari program Penguatan Ekonomi Nasional (PEN) untuk agroforestri. Pelatihan 4 hari yang dilakukan secara daring ini juga dipadukan dengan praktik lapangan. “Tentu saja karena ini masa pandemi, protokol kesehatan mesti dijalankan,” jelas M. Adek, pendamping dari KPHP Kahayan Tengah.

Salah seorang yang hadir di pertemuan sore itu adalah Atie, yang berusia 54 tahun. Ia dengan cukup fasih menjelaskan tentang rencana agroforestri dan perikanan yang akan dikembangkan di desa berpasir putih ini. Untuk agroforestri yang ditanam adalah beberapa jenis tanaman kayu keras, dipadukan dengan beberapa tanaman buah dan tanaman semusim yang cocok dengan ekosistem di desa ini. Demikian juga jenis ikan (gabus, patin dan nila) yang akan dibudidayakan dengan sistem tradisional ‘beje’ (menggali tanah lebih dalam di bagian tertentu di kolam untuk dijadikan sarang ikan).

Pasar terdekat untuk usaha masyarakat ini juga cukup terjangkau. Ada dua pasar. Satu terletak di Kabupaten Pulang Pisau, dan satunya lagi di Kota Palangkaraya. Relatif jarak tempuh menuju dua pasar ini sama, sekitar 15 menit dari desa. Sahut menyahut anggota KUPS yang lain juga menjelaskan tentang rencana budidaya madu kelulut dan jamur tiram yang memang lazim dilakukan di desa ini sejak lama. Fasilitasi semua KUPS ini cukup intensif dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (Ditjen PSKL), bekerja sama dengan BP2SDM dan lintas eselon satu lainnya di KLHK, dalam lingkup program PEN agroforestri dengan berbagai variasinya (seperti agro-silvofishery, agro-silvopastura dan agrowisata).

Antusiasme masyarakat menyambut program PEN di bidang agroforestri ini layaknya oase di padang pasir. Pandemi memang tidak terelakkan telah menghantam desa yang didirikan oleh leluhur mamaku ini. Sang leluhur, bernama Ngabe Bangas, yang terkadang dikisahkan mamaku, ternyata memang ada namanya di catatan sejarah desa sebagai kepala desa pertama. Demikian juga Inus Tuwan, kakek buyutku, ternyata namanya tercatat sebagai kepala desa kedua di lewu’ ini. Saat melihat antusiasme masyarakat di pertemuan sore itu, aku teringat kisah mama tentang semangat dan daya juang leluhurnya. Program PEN nampaknya menjadi salah satu pendorong semangat masyarakat Desa Tanjung Sangalang untuk bangkit kembali dari pukulan pandemi. Semoga.

–##–

* Swary Utami Dewi adalah Climate Reality Leader, Anggota TP2PS Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial