Hari ini, 16 Oktober 2020, dunia memperingati Hari Pangan Dunia sekaligus ulang tahun ke-75 dari Food and Agriculture Organization atau FAO.

FAO sendiri dibentuk pada tahun 1945 beranggotakan 194 negara dan bekerja di lebih dari 130 negara dunia.

Sudah banyak capaian yang diraih oleh organisasi pangan dan pertanian di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa ini dalam perjuangan mereka mengentaskan kemiskinan, kelaparan dan malnutrisi.

Produktivitas pertanian dan sistem pangan terus berkembang namun hingga hari ini, masih terlalu banyak penduduk dunia yang tidak memiliki akses ke pangan yang layak. Pangan yang layak yaitu pangan yang aman, pangan yang cukup dan bergizi. Menurut FAO, jumlahnya mencapai lebih dari 2 miliar jiwa.

Dari angka tersebut sebanyak 135 juta penduduk di 55 negara masih mengalami kelaparan akut. Mereka membutuhkan makanan, nutrisi dan bantuan mata pencaharian.

Dengan populasi dunia mencapai hampir 10 miliar pada tahun 2050, permintaan atas pangan akan terus meningkat. Pada saat yang sama 14% dari makanan yang diproduksi untuk dikonsumsi   secara global setiap tahun hilang sebelum mencapai pasar.

Menurut FAO, jika sistem pangan kita tidak berubah, kekurangan gizi dan malnutrisi akan meningkat sangat parah pada tahun 2050 dengan konsekuensi semakin memburuknya ketimpangan pendapatan, pengangguran dan layanan sosial lain.

Lebih dari 3 miliar orang di dunia tidak memiliki akses ke Internet, kebanyakan di pedesaan dan daerah terpencil. Petani kecil membutuhkan akses yang lebih besar ke inovasi, teknologi, keuangan dan pelatihan untuk meningkatkan mata pencaharian mereka.

Peningkatan produksi pangan yang digabungkan dengan perubahan iklim, mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati.

Saat ini, hanya sembilan spesies tumbuhan menyumbang 66% dari total produksi makanan. Data FAO juga menunjukkan, di negara miskin negara berkembang dan negara maju, semakin banyak penduduk yang memiliki pola makan yang buruk dan tidak banyak bergerak. Dampaknya, gaya hidup seperti ini telah melonjakkan jumlah penduduk yang obesitas. Kelaparan dan obesitas saling berdampingan.

Pandemi COVID-19 semakin memperparah krisis ini dan mengancam akan membalik semua capaian ketahanan pangan, nutrisi dan kualitas hidup selama ini.

Dalam laporannya yang berjudul “Grow, Nourish, Sustain. Together” FAO mengajak dunia untuk mengurai kesenjangan dan inefisiensi yang terus terjadi dalam perekonomian, sistem sosial dan sistem pangan dunia.

“Sekarang saatnya untuk membangun kembali dunia dengan lebih baik,” tulis laporan ini. Dari mana harus memulai upaya untuk memperbaiki perekonomian, sistem sosial dan sistem pangan dunia?

Sebanyak 80% penduduk sangat miskin dunia tinggal di pedesaan dengan mengandalkan mata pencaharian dari sektor pertanian. Guna meningkatkan hajat hidup mereka, dunia perlu mentransformasi cara memroduksi, memproses, memperdagangkan, mengonsumsi pangan dan mencegah pangan terbuang.

Praktik yang dijalankan selama ini, semuanya masih terus mengeksploitasi lingkungan dan merusak keanekaragaman hayati. Pandemi COVID-19 yang merupakan penyakit zoonosis – penyakit yang menular dari hewan ke manusia, merebaknya hama dan penyakit tanaman menjadi bukti keterkaitan erat antara manusia, hewan dan lingkungan. Produksi pangan juga berpotensi memparah krisis iklim. Peningkatan kesadaran, komunikasi dan kerjasama harus terus menjadi landasan utama. Analisis pengurangan emisi dari sistem pangan bisa diakses dalam tautan berikut.

Redaksi Hijauku.com