Kontribusi sistem pangan dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim akan naik 25% jika negara-negara dunia mau mentransformasi sistem pangan mereka.

Sistem pangan – yang terdriri dari aktivitas produksi, pengolahan, distribusi, penyiapan hingga konsumsi pangan – menyumbang lebih dari 37% emisi gas rumah kaca dunia. Tanpa aksi pengurangan emisi (business-as-usual), kenaikan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sistem ini akan dengan cepat menghabiskan bujet emisi sektor-sektor lain dan membawa suhu bumi naik hingga 1.5 derajat Celcius.

Namun solusi tersedia. Langkah-langkah untuk mentransformasi sistem pangan dijabarkan secara detil dalam laporan berjudul Enhancing Nationally Determined Contributions (NDCs) for Food Systems, yang diterbitkan hari ini, 1 September 2020.

Laporan yang disusun oleh WWF, UN Environment Programme (UNEP), EAT dan Climate Focus ini menyatakan, peluang untuk mentransformasi sistem pangan adalah tahun ini saat negara-negara yang telah meratifikasi Perjanjian Paris/Kesepakatan Paris (Paris Agreement) diharapkan mengirimkan dan meningkatkan ambisi dalam Nationally Determined Contributions (NDCs) mereka.

Tahun ini adalah tahun kelima paska Perjanjian Paris ditandatangani pada 2015. Setiap lima tahun ambisi dalam NDCs diharapkan terus meningkat. Laporan ini menggarisbawahi, aksi memperbaiki sistem pangan tidak hanya bisa mengurangi emisi gas rumah kaca, namun juga melestarikan keanekaragaman hayati, meningkatkan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Dari 55 negara yang meratifikasi Perjanjian Paris/Kesepakatan Paris di 2020, 89% telah memasukkan upaya pengurangan emisi di sektor pertanian. Namun, target pengurangan emisi di sektor pertanian mereka sebagian besar hanya terkait kebijakan pengggunaan lahan (land use).

Aksi-aksi lain seperti mengurangi terbuangnya pangan (food loss) dan limbah pangan (food waste) atau beralih ke pola makan yang ramah lingkungan masih diabaikan. Padahal aksi-aksi tersebut berpeluang mengurangi emisi dari sistem pangan hingga 12.5 Gigaton setara CO2 (CO2e) atau sama dengan mengurangi 2,7 miliar mobil dari jalan raya.

“Dipelukan komitmen yang lebih ambisius, ketat dan terukur untuk mentransformasi sistem pangan untuk mencapai target kenaikan suhu bumi 1,5 derajat Celcius. Jika kita gagal melakukannya, sama saja kita mengabaikan salah satu pemicu utama krisis iklim,” ujar Marco Lambertini, Direktur Jenderal WWF-International.

Ada 16 solusi yang ditawarkan untuk mentransformasi sistem pangan, termasuk diantaranya mengurangi alih guna lahan, dan konversi habitat alami yang mampu mengurangi emisi 4,6 Gigaton setara CO2 (CO2e) pe tahun. Langkah lain adalah mengurangi limbah pangan dan pangan yang terbuang yang akan mampu mengurangi emisi sebesar 4,5 Gigaton setara CO2 per tahun. Namun hanya 11 negara yang saat ini memasukkan aksi mengurangi terbuangnya pangan dalam NDC mereka.

Aksi lain adalah dengan memperbaiki produksi peternakan guna mengurangi emisi metana dengan potensi pengurangan emisi hingga 1,44 Gigaton CO2e per tahun.

Masih ada potensi pengurangan emisi terbesar dari sistem pangan. Potensi ini bisa diperoleh dari peralihan ke pola makan yang ramah lingkungan – dengan mempebanyak konsumsi sayuran dan mengurangi daging – dengan potensi pengurangan emisi sebesar 8 Gigaton CO2e per tahun. Saat ini belum ada negara yang memasukkan aksi ini dalam NDCs mereka.

Laporan ini menyebutkan, hingga Agustus 2020, sudah ada 15 perbaikan NDCs yang dikirimkan, namun aksi yang terkait sistem pangan ini masih sangat kurang, walaupun beberapa diantaranya menyebutkan aksi di sektor pertanian. Belum ada aksi terkait pengurangan limbah pangan dan pangan yang terbuang. Sehingga aksi-aksi tersebut menjadi peluang bagi semua negara, termasuk Indonesia untuk meningkatkan ambisi mereka dalam mengatasi krisis iklim.

Untuk mengetahui secara lengkap solusi-solusi dalam mentransformasi sistem pangan, silahkan unduh laporannya di tautan berikut: Enhancing NDCs for Food Systems.

Redaksi Hijauku.com