Jakarta, 12 Februari 2020 – United States Agency for International Development (USAID) melalui program Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK), menggelar workshop bersama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Peduli dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk mendiskusikan Business Continuity Plan untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Workshop ini digelar untuk mendukung penguatan kapasitas pelaku usaha, khususnya dalam perencanaan keberlanjutan usaha (business continuity plan/BCP).

Salah satu dampak dari perubahan iklim adalah bencana hidrometeorologi – seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kenaikan air laut, puting beliung – yang tercatat sebagai bencana paling banyak terjadi di dunia serta berdampak terhadap jiwa dan perekonomian (1).

Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Paul Jeffery selaku Chief of Party USAID APIK menyatakan bahwa salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pelaku usaha dalam menghadapi ancaman perubahan iklim adalah melakukan aksi adaptasi, namun mayoritas pelaku swasta belum mengetahui contoh-contoh praktik adaptasi yang dilakukan oleh swasta, serta langkah langkah yang harus dilakukan untuk melakukan aksi adaptasi.

“Berdasarkan Survey Persepsi Dunia Usaha Terhadap Perubahan Iklim atau Business Perception Survey on Climate Change yang dilakukan USAID APIK bulan Oktober 2017 lalu, mayoritas pelaku bisnis telah memiliki pengetahuan tentang perubahan iklim. Namun, sebagian besar pelaku bisnis belum memiliki rencana keberlanjutan usaha sebagai salah satu aksi adaptasi untuk mengurangi dampak bencana alam yang disebabkan oleh cuaca ekstrem karena perubahan iklim,” ungkap Paul.

Sektor swasta merupakan stakeholder pembangunan yang rentan terhadap dampak bencana hidrometeorologi, khususnya terhadap operasional usaha mereka. Hampir semua sektor bisnis rentan terhadap dampak bencana ini, mulai dari sektor pertanian, properti, transportasi, pariwisata, manufaktur, hingga ke bisnis ritel. Meningkatnya intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir, longsor dan kebakaran, serta kenaikan suhu dan kenaikan permukaan air laut, telah mengganggu dan meningkatkan risiko usaha (2).

“HIPMI Peduli, BNPB dan USAID APIK punya visi sejalan yaitu mengubah cara pandang para pelaku usaha, yang sebelumnya lebih berfokus pada tanggap bencana, menjadi lebih fokus dalam memperkuat ketangguhan pelaku usaha dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi dan mengelola risiko bencana yang berdampak pada bisnis mereka. Salah satu upaya kami adalah membuat buku panduan praktis yang dapat dijadikan acuan sebagai bekal bagi para pelaku usaha untuk lebih tangguh bencana,” jelas Vina Cahya Farhani, mewakili Ketua HIPMI Peduli, Sari Pramono.

Maka dari itu, melalui workshop ini, USAID APIK, HIPMI Peduli, dan BNPB mengundang mitra-mitra sektor swasta, untuk memperkenalkan buku panduan praktis BCP dan cara penggunaannya bagi pelaku usaha untuk dapat memahami tahapan penguatan ketangguhan dan instrumen praktis BCP untuk usaha kecil dan menengah dan menggali persepsi dan kebutuhan pelaku swasta terhadap upaya adaptasi perubahan iklim, sebagai masukan bagi kementerian/lembaga terkait dalam menyusun kebijakan.

“Melalui workshop ini, diharapkan kita semua dapat meningkatkan ketangguhan bisnis pelaku usaha, terutama UKM, untuk lebih siap melindungi aset usaha, siap mempertahankan proses bisnis, dan siap memperoleh kembali aset yang terdampak,” ungkap Johny Sumbung, Direktur Kesiapsiagaan BNPB secara resmi membuka acara.

Lebih dari 40 pelaku usaha juga menerima paparan terkait langkah-langkah mengurangi risiko bencana dan 12 langkah menyusun BCP oleh Private Sector Engagement Advisor USAID APIK, Hidayatullah Al Banjari.

Semoga dengan workshop ini, para pelaku usaha lebih siap mengelola risiko bencana dan mempertahankan usaha mereka. Kedepannya, HIPMI Peduli dan BNPB akan mendiseminasikan buku panduan praktis kepada pelaku usaha di Indonesia yang akan dapat diakses melalui link berikut: Business Continuity Plan.

***

  1. Antara tahun 1999 hingga 2018, lebih dari 90 persen bencana alam yang terjadi disebabkan oleh bencana hidrometeorologi, yang berdampak pada 4 juta jiwa, 500,000 korban jiwa, dan berdampak pada $2,2triliun kerusakan ekonomi.
  2. Sebagai contoh, total kerugian banjir secara nasional untuk bisnis ritel diperkirakan Rp 1,2 triliun, dimana kerugian untuk Jakarta sekitar 30 persen dari kerugian skala nasional. Untuk produk buah dan sayuran, terjadi penyusutan untung sekitar 10-15 persen, yang disebabkan buah busuk atau gagal panen. Banjir membuat distribusi barang terganggu.

Untuk informasi lebih lanjut:

Stella Puteri – Communications Specialist for Media & Outreach: stella_puteri@dai.com / 08119885695

Hidayatullah Al Banjari – Private Sector Engagement Advisor: hidayatullah_banjari@dai.com / 08123182141

Catatan untuk Editor:

Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK) merupakan program berdurasi empat tahun dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) yang bertujuan untuk membantu Indonesia dalam mengelola risiko bencana dan iklim. APIK bekerja membantu pemerintah Indonesia dalam mengintegrasikan adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana dari level lokal hingga nasional.

Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan, APIK juga bekerja langsung bersama masyarakat dan sektor swasta untuk secara proaktif mengelola risiko bencana terkait iklim, serta memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dalam memahami dan mengomunikasikan informasi iklim.

Kunjungi website APIK di: www.apikindonesia.or.id