Electric car charging - Alan TrotterKabar gembira datang dari produsen mobil listrik asal Palo Alto, California, Amerika Serikat, Tesla. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun sejarah perusahaan, Tesla akhirnya melaporkan laba sebesar $15 juta pada kuartal pertama tahun ini.

Pendapatan total perusahaan melonjak drastis dari hanya $30 juta tahun lalu menjadi $562 juta tahun ini. Semua itu berkat penjualan laris mobil Model S mereka. Mobil sedan listrik sporty itu kini mendapatkan pemesanan 20.000 unit kendaraan per tahun.

Harga saham Tesla pun langsung melonjak lebih dari 16% setelah laporan keuangan mereka diumumkan. Laba per saham (earning per share) Tesla naik tiga kali lipat menjadi 12 sen dolar, jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan analis Wall Street.

Ancaman bagi produsen mobil konvensional? Bisa jadi. Saat ini hampir semua manufaktur otomatif mulai mengembangkan mobil listrik atau paling tidak, mobil campuran listrik dan BBM yang dikenal dengan istilah mobil hibrida.

Era mobil tenaga besar yang boros BBM (gas guzzler) yang dulu identik dengan citra mobil-mobil Amerika, pelan tapi pasti akan berakhir. Tesla sedang menulis sejarah baru. Tesla membuktikan, mobil rendah emisi pun bisa berkinerja sama dengan mobil-mobil yang dulu harus bermesin besar dan boros energi.

Menurut laporan terbaru dari Navigant Reseach, penjualan mobil listrik, akan terus tumbuh mencapai 21,9 juta unit dari tahun 2012 ke 2020. Tesla adalah salah satu perusahaan yang telah menikmati tren ini. Baik mobil listrik colok (plug-in electric vehicles/PEVs) maupun mobil hibrida listrik saat ini sudah banyak tersedia di wilayah Asia Pasifik, Amerika Utara dan Eropa Barat. Kedua model ini juga tengah diperkenalkan di wilayah Eropa Timur, Amerika Latin dan Timur Tengah.

Pemicunya tidak lain adalah semakin mahalnya harga bahan bakar fosil. “Harga BBM bagi kendaraan konvensional diperkirakan akan terus naik dalam sepuluh tahun mendatang. Kondisi ini menciptakan permintaan bagi mobil listrik,” ujar Dave Hurst, peneliti utama dari Navigant Research. “Kebijakan pemerintah, baik itu berupa insentif, regulasi emisi, pajak dan standar efisiensi bahan bakar juga akan berperan penting memicu pertumbuhan pasar mobil listrik.”

Menurut Navigant Research, laju penjualan mobil listrik akan lebih tinggi dari penjualan mobil konvensional. Saat pasar otomatif secara keseluruhan hanya tumbuh 2% per tahun hingga 2020, penjualan mobil listrik colok akan naik mencapai 40% per tahun dalam 10 tahun ke depan.

Laporan ini menyimpulkan, pada 2020, mobil listrik colok ini masih menyumbang kurang dari 2% penjualan mobil light duty, sehingga pangsa pasar mobil listrik yang hemat energi dan rendah emisi masih akan terbuka bagi pemain-pemain baru.

Redaksi Hijauku.com