Kekeringan, banjir dan badai akan terus menimbulkan krisis kesehatan bagi jutaan penduduk dunia setiap tahun.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis Senin (29/10). Laporan berjudul “Atlas of Health and Climate” ini disusun bekerja sama dengan World Meteorological Organization (WMO), untuk menunjukkan keterkaitan antara perubahan iklim dan kesehatan masyarakat.

Menurut WHO perubahan iklim adalah tantangan yang dihadapi dunia saat ini dan pada masa datang. Kekeringan, banjir dan badai – seperti yang baru-baru ini melanda New York dan wilayah timur laut Amerika Serikat – berdampak pada kualitas kesehatan jutaan penduduk dunia setiap tahun.

Perubahan dan kondisi iklim ekstrem seperti banjir juga memicu merebaknya wabah penyakit seperti diare, malaria, deman berdarah dan meningitis, yang menimbulkan kematian dan penderitaan bagi jutaan yang lain.

Ketersediaan informasi terkait cuaca dan iklim penting guna melindungi kesehatan penduduk. Laporan ini memberikan contoh-contoh praktis bagaimana memrediksi cuaca dan iklim.

“Pencegahan dan persiapan adalah kunci untuk menjaga kesehatan penduduk. Manajemen risiko harus menjadi pegangan kita sehari-hari. Informasi cuaca dan perubahan iklim adalah alat yang sangat penting untuk membantu tugas ini,” ujar Dr Margaret Chan, Direktur Jenderal WHO dalam siaran persnya. “Iklim berdampak besar terhadap kehidupan dan keselamatan manusia. Informasi iklim vital untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.”

Contoh, jumlah korban topan di Bangladesh terus berkurang dari sekitar 500.000 pada tahun 1970, menjadi 140.000 pada tahun 1991, menjadi 3.000 pada 2007 – semua karena sistem peringatan dini dan persiapan yang memadai.

Menurut WMO, panas ekstrem – yang dulu diperkirakan terjadi hanya sekali dalam 20 tahun – pada pertengahan abad ini akan terjadi setiap 2-5 tahun.

Pada saat yang sama, jumlah warga usia lanjut (salah satu kelompok yang paling berisiko jika terjadi panas ekstrem dan perubahan iklim) yang tinggal di perkotaan akan naik empat kali lipat dari 380 juta pada 2010, menjadi 1,4 miliar pada 2050.

Kerja sama antara organisasi meteorologi dan organisasi kesehatan penting guna melindungi masyarakat sebelum, selama dan sesudah cuaca ekstrem berlangsung.

Menurut WHO, dengan beralih ke sumber energi bersih untuk rumah tangga bisa mengurangi risiko perubahan iklim. Selain bisa menekan emisi gas rumah kaca, peralihan ke energi yang lebih bersih juga bisa mengurangi polusi sehingga bisa menyelamatkan nyawa sekitar 680.000 anak-anak setiap tahun.

Laporan yang diluncurkan bersamaan dengan Kongres Meteorologi Dunia di Jenewa, Swiss yang berlangsung dari 29-31 Oktober ini juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama untuk memonitor polusi udara dan dampaknya terhadap masyarakat.

Faktor lain yang perlu diawasi adalah faktor kemiskinan, kerusakan lingkungan, buruknya infrastruktur terutama infrastruktur air dan sanitasi. Laporan lengkap WHO bisa diunduh pada tautan berikut ini.

Redaksi Hijauku.com

Redaksi Hijauku.com